Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
15. Dipermalukan


__ADS_3

Setelah menjalani beberapa kegiatan perkuliahannya hingga akhirnya, Rachel menyelesaikannya dengan mendapatkan nilai sempurna. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi wisuda. Ia menghubungi ayahnya agar bisa datang mendampinginya wisuda.


Sebagai kekasihnya Rachel, Devan berniat ingin memberikan kejutan pada sang kekasih untuk menjemput sendiri calon mertuanya itu di kampungnya. Ia tidak ingin memberitahukan rencananya itu pada sang kekasih karena ini adalah bagian dari kejutan untuk sang kekasih. Namanya kejutan yah rahasia dong. Itu yang ada dipikiran Devan saat ini. Wisuda itu akan berlangsung Minggu depan.


Rupanya kedekatan Rachel dan Devan sudah tercium oleh media. Bagaimana tidak, seorang gadis yang selama ini terkenal dengan tangan dinginnya menyulap banyak wajah wanita dari yang biasa saja biasa menjadi lebih cantik apalagi yang cantik pasti makin tambah cantik.


Saat Devan diserang oleh banyak wartawan yang menanyainya tentang hubungannya dengan Rachel. Pria tampan ini dengan gagah menyatakan bahwa ia sangat mencintai Rachel.


"Tuan Devan. Apakah anda punya hubungan khusus dengan nona Rachel?" tanya salah satu wartawan dari stasiun televisi swasta.


"Bukan hanya hubungan khusus. Aku bahkan berencana untuk menikahinya setelah ia wisuda beberapa hari lagi. Aku sudah tidak sabar menjadikan dia sebagai Nyonya Devan," ucap Devan.


"Selamat tuan atas keberhasilan anda mampu menaklukkan hati nona Rachel," ucap wartawan yang ikut bahagia mendengar pernyataan sang Mafia itu.


Rupanya wawancara itu diangkat langsung oleh infotainment yang memuat cerita itu menjadi konsumsi hiburan masyarakat. Sontak saja, ada yang sangat bahagia dan mendukung hubungan pasangan tersebut, namun tidak sedikit yang memiliki dendam pada Rachel yang merebut Devan yang selama ini mereka perjuangkan.


"Aku akan mempermalukan gadis itu dengan begitu ia tidak akan pernah berani untuk unjuk gigi bertahan memperebutkan Devan dariku," ucap Melisa sekertaris Devan.

__ADS_1


Melisa adalah orang yang menampung semua informasi mengenai latar belakang kehidupan Rachel atas permintaan Devan. Apakah cara ini akan membuatnya mendapatkan Devan dengan mudah? itu yang dipikirkan Melisa.


Devan yang sudah berada lagi di ruang kerjanya memanggil Melisa untuk membawa berkas dokumen perusahaan ke ruang kerjanya.


"Selamat pagi tuan Devan!" sapa Melisa terlihat sangat manis namun ditanggapi dingin oleh Devan.


"Apakah ada jadwal untuk aku pagi ini Melisa?" tanya Devan sambil memeriksa berkas pekerjaannya.


"Tuan Devan akan ada meeting pagi ini sekitar jam sepuluh pagi.


"Jam satu siang ada pertemuan dengan klien kita di hotel Harits usai makan siang," ucap Melisa.


"Tapi tuan, bagaimana dengan rapatnya?" tanya sekertaris Melisa sambil menahan geram.


"Itu bisa di handle oleh asisten Beni. Aku hanya ingin bersama dengan calon istriku karena sebentar lagi kami akan menikah," ucap Devan sambil tersenyum membuat Melisa meremas ujung blazer miliknya.


"Baik tuan Devan. Aku harap anda lebih fokus pada perusahaan anda tuan daripada hanya fokus pada nona Rachel," ucap Melisa ketus.

__ADS_1


Devan mengerutkan keningnya menatap sekertarisnya dengan penuh amarah." Siapa kau berani sekali mengaturku. Untuk apa aku punya staf kamu dan Beni untuk menghandle semua pekerjaanku?" bentak Devan membuat sekertaris Melisa terperanjat.


"Maafkan saya Tuan Devan. Saya hanya mengingat anda saja untuk....-"


"Itu bukan urusanmu. Apakah kamu mengerti, hah?" tanya Devan dengan sinis.


Devan dengan cepat berjalan menuju pintu lift. Sementara sekretaris Melisa melempar berkas pekerjaan yang ada di genggamannya. Wajah itu tampak memerah karena selama ini ia sudah bersusah payah untuk merawat dirinya agar selalu tampil cantik di hadapan Devan dan bersikap manis pada sang bos demi untuk mendapatkan perhatiannya Devan. Sayang sekali Devan hanya menganggapnya sebagai sekretaris tidak lebih.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menghalangi cinta mereka?" gumam sekertaris Melisa yang terlihat menyerah namun tidak rela melepaskan Devan begitu saja untuk dimiliki seorang Rachel.


Sementara itu, Rachel yang sibuk mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan nilai terbaik untuk skripsinya. Rumah sakit milik Devan yang dijadikan tempat penelitiannya dan tentu saja ia harus mencari diantara pasien yang sedang mengalami setress berat hingga mendekati depresi.


"Dokter Rachel ...!" sapa seorang suster yang membawa bunga untuk dokter Rachel.


"Iya suster Tami."


"Ini ada kiriman bunga dari si tampan," ucap suster Tami seraya menyerahkan buket bunga mawar merah dengan kartu ucapan itu.

__ADS_1


Rachel sudah paham siapa lagi pengirimanya kalau bukan Devan. Ia mencium aroma mawar itu sesaat dengan senyum cantiknya.


Suster Tami mengambil foto Rachel yang sedang mencium bunga itu dengan ponselnya. Tentu saja Tami adalah kaki tangan Devan untuk mengawasi wanitanya jika mendapat teguran dari staff lain yang berani menekan wanitanya atau pria yang berusaha menggoda Rachel. Semua harus dilaporkan kepada Devan dan itu sudah cukup membuatnya mendapatkan penghasilan lebih besar dari gajinya sebagai suster di rumah sakit tersebut.


__ADS_2