Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
36. Menyembunyikan Kehamilan


__ADS_3

Kemoterapi kembali dilakukan oleh Rachel. Keadaan Rachel sedikit membaik selama melakukan kemoterapi itu. Hanya saja dokter menyarankan untuk menunda kehamilannya dulu karena bahaya kemoterapi pada janin. Rachel memahami permintaan dokter walaupun hatinya menolak himbauan dokter padanya.


"Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan? aku sangat ingin hamil karena suamiku ingin sekali aku hamil karena ia tidak sabar ingin memiliki anak," batin Rachel .


"Sayang. Kenapa tiba-tiba murung? apakah ada masalah?" tanya Devan di saat mereka sudah menebus obat di apotek.


"Devan. Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan kamu seorang anak?" tanya Rachel.


"Aku memang menginginkan seorang anak tapi tidak buru-buru, Rachel . Kita bisa memiliki anak saat kamu dinyatakan oleh dokter bahwa kamu sudah terbebas dari kangker," ucap Devan.


"Aku takut jika pengobatan ini berjalan lamban dan aku belum bisa memberikan kamu seorang anak. Usiaku makin bertambah dan rahimku belum tentu sehat setelah aku terbebas dari kangker," ucap Rachel makin terpuruk.


"Tidak boleh pesimis seperti itu sayang! jika memang Allah sedang mencoba kita untuk belum diberikan momongan, kita cukup ikhtiar dan doa. Karena kekuatan doa bisa membuat sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia namun Allah yang akan mengabulkannya. Jadi kembalikan masalah kita ini hanya kepada Allah saja jangan dengan pikiran kita karena kita punya keterbatasan akal," ucap Devan.

__ADS_1


Rachel tersenyum mendengar ucapan suaminya." Hubby! Kamu makin ke sini makin bijak dalam menyikapi setiap keadaan," puji Rachel.


"Sejak mengetahui kamu jatuh sakit, aku makin hari makin ingin mendekatkan diriku kepada Allah. Aku merasa cobaan yang aku alami ini adalah teguran Allah kepadaku agar aku selalu dekat dengannya dan merindukannya Setiap saat. Mungkin Allah terlalu merindukan aku karena selama ini aku terlalu jauh dariNya. Dia menegur aku melalui sakitmu. Dia tahu kalau aku sangat mencintaimu, Rachel," ucap Devan dengan berkaca-kaca.


Rachel begitu terkesima mendengar penuturan ketulusan hati suaminya. Ia sangat terharu dan merasa sangat disayangi oleh suaminya. Rasanya ia ingin memberikan hidupnya untuk lelaki yang sangat ia cintai saat itu.


"Devan!"


"Apakah kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Rachel.


"Aku hanya mencintai satu wanita. Jadi aku tidak perlu menikah lagi hanya ingin memiliki anak. Kita bisa adopsi.. Tidak masalah. Aku hanya butuh seorang istri untuk menenangkan jiwaku bukan untuk menundukkan syahwatku," ucap Devan tegas.


"Tapi aku akan...-"

__ADS_1


"Baby. Aku akan menghukum dirimu kalau kamu bicara sesuatu yang tidak ingin aku lakukan seperti laki-laki bodoh yang terjebak pada pilihan istrinya," ungkap Devan serius.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi. Kalau begitu, ayo kita pulang!" ucap Rachel saat mereka sudah tiba di lobi rumah sakit hendak masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir oleh sekuriti.


Mobil itu kembali meluncur ke jalanan ibu kota. Rachel menikmati suasana kota New York malam hari di mana lampu-lampu sepanjang jalanan dengan gedung bertingkat menjadi panorama tersendiri untuk negara yang bergelar paman Sam itu.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu sebelum kita tiba di apartemen sayang?" tanya Devan saat keduanya melewati beberapa restoran dengan logo-logo terkenal dari berbagai macam negara.


"Bisakah kita makan di restoran Turki? aku ingin sekali makan kebab," pinta Rachel.


"So pasti sayang. Aku akan mengabulkan apapun yang kamu minta kecuali meminta aku kawin lagi," ucap Devan.


"Cih...! kamu masih saja memikirkannya di saat Aku sudah melupakannya," batin Rachel.

__ADS_1


__ADS_2