
Saat mengetahui dirinya saat ini sedang hamil, Rachel berupaya untuk menolak melakukan kemoterapi bahkan menipu bahkan tidak lagi meminum obat-obatannya. Devan yang tidak tahu kalau istrinya saat ini sedang hamil, membuat ia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauannya Rachel.
Lagi pula Rachel kelihatannya lebih bugar saat ini. Mereka tetap melakukan aktivitas hubungan intim tidak mengalami kendala apapun. Satu-satunya kekuatan Rachel saat ini adalah terus-menerus berdoa kepada Robb-nya agar diberikan kesempatan sembuh agar bisa menjalankan tugasnya sebagai ibu yang sedang mengandung. Seperti malam ini, Rachel berdoa untuk diri dan calon bayinya. Ia bangun di sepertiga malam untuk bermunajat kepada Allah disaat suaminya sedang terlelap.
"Ya Allah. Engkau yang memberikan ujian padaku dengan penyakit ini. Engkau juga yang telah memberikan kehidupan di dalam rahimku ini. Ya Allah bagaimana mungkin aku akan menjalani kehidupanku jika aku tidak diberikan kesembuhan oleh-Mu? apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin menyingkirkan kehidupan kecil dalam rahimku demi kesembuhan penyakitku," ucap Rachel dalam doanya.
Lirihan doa Rachel terdengar sayup-sayup oleh Devan membuat pria tampan ini terkesiap dengan mata yang masih terpejam." Apa? jadi, Rachel saat ini sedang hamil dan dia menyembunyikan kehamilannya dariku? pantas saja dia menolak untuk kemoterapi karena ini adalah alasannya?" batin Devan mulai kesal tapi juga sangat bahagia saat ia mengetahui istrinya akhirnya hamil juga.
Tidak lama kemudian, Rachel menyelesaikan sholatnya dengan melipat mukena dan sajadahnya. Ia naik ke tempat tidur dan menghampiri suaminya untuk ia peluk. Devan diam-diam meneteskan air matanya. Hatinya terasa begitu nyeri saat ini karena harus mengikuti kemauan Rachel untuk melanjutkan pengobatannya.
"Ya Allah. Apakah istriku akan kuat bertahan hingga ia melahirkan bayi kami nanti?" batin Devan menahan kesedihannya saat ini.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, terdengar suara dengkuran halus dari Rachel membuat Devan bangun perlahan. Ia ingin keluar dari kamarnya dan menangis di kamar lain.
Keesokan paginya, seperti biasa, Rachel membuat roti lapis coklat dan segelas kopi late untuk Devan. Ia juga membuat roti lapis keju dan segelas teh hangat untuk dirinya. Devan menikmati rotinya sambil melihat wajah Rachel yang ternyata lebih berisi saat ini.
"Bukankah orang hamil itu identik dengan mual, muntah dan senang dengan makanan pedas dan asam? kenapa Rachel tidak mengalaminya?" batin Devan sambil sesekali menarik nafasnya berat.
"Sayang. Kita nanti ke rumah sakit dan aku tidak mau mendengar ada penolakan dari kamu," tegas Devan.
"Kenapa? apa yang kamu coba sembunyikan dariku?" bentak Devan.
"Sembunyikan apa Devan? Aku hanya tidak ingin berobat. Aku capek. Aku ingin kita cukup bulan madu dan ...-"
__ADS_1
"Dan saat ini kamu sedang hamil anak kita?" tembak Devan membuat Rachel terhenyak.
"Astaga! jadi kamu sudah tahu kalau aku hamil saat ini, Devan?" tanya Rachel gugup.
"Sayang. Kenapa kamu nekat? bahwa kalau kamu mungkin saja tidak bisa membawa mereka hingga tiba waktunya mereka lahir ke dunia ini?" tanya Devan.
"Aku yakin aku bisa melewati masa kehamilanku dan melahirkan bayiku dalam keadaan sehat, Devan. Tolong percayalah kepadaku! aku mohon sayang.
"Sayang. Bagaimana kalau kamu malah meninggal dunia dalam keadaan hamil Rachel?" tanya Devan membuat nyali Rachel ciut.
Deggggg...
__ADS_1