
Memasuki usia kehamilan delapan bulan, Rachel masih bisa bertahan walaupun dokter sangat kuatir dengan keadaan Rachel yang makin hari makin drop. Dokter tetap menyampaikan keadaan Rachel apa adanya pada Devan agar Devan mempersiapkan sesuatu yang terburuk sekalipun.
Saat ini Rachel memang sedang di rawat. Dokter menyiapkan ruang ICU khusus untuk memantau Rachel secara langsung. Tubuh gadis itu sudah penuh dengan peralatan medis. Dokter harus memasang ventilator dan beberapa jam sekali melihat pergerakan bayinya Rachel di dalamnya.
"Istri anda memang hebat tuan Devan. Dia tidak pernah menyerah dan yakin kalau dua bisa memberikan kamu. keturunan. Ia rela menderita asalkan bisa membahagiakan kamu tuan. Semoga Allah mengangkat penyakitnya karena pengorbanan Rachel yang tidak mudah. Ia rela menjalani kehamilannya di tengah sakit yang mendera dan mungkin saja ajal bisa menghampiri dirinya kapanpun," ucap Dokter Risna.
"Saya tidak tahu lagi harus berkata apa dokter. Keinginan istri saya yang begitu besar untuk mempertahankan bayi kami, itu yang tidak bisa saya bantahkan. Berserah diri kepada pemilik hidup setiap waktu, itu yang kami bisa lakukan untuk saat ini," balas Devan.
__ADS_1
"Tetaplah mendukungnya! itu yang dibutuhkan nona Rachel saat ini tuan. Kami akan lakukan untuk mempertahankan janin yang di kandungnya. Bila perlu kita harus melakukan upaya bedah sesar secepatnya agar nona Rachel kembali melakukan terapi. Tapi yang lebih bagus saat ini adalah meminta ayahnya untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang jika Rachel tidak bisa lagi menerima pengobatan apapun. Hanya ini jalan satu-satunya tuan yang dari dulu kamu ingin tawarkan kepada tuan Devan," ucap dokter Risna.
Deggg....
"Apakah itu bisa menyembuhkan istri saya dokter?" tanya Devan begitu semangat.
"Tapi, kondisi tubuh ayahnya yang sudah lanjut usia mungkin akan beresiko pada kematian terutama saat pengambilan sum-sum tulang belakang itu terjadi, bisa jadi ayah kandung nona Rachel akan mengalami serangan jantung mendadak dan bisa berakibat fatal yaitu kematian," ucap dokter Risna sambil tertunduk ketakutan pada Devan yang berubah pucat.
__ADS_1
"Tapi, jika keadaan Rachel sangat memprihatikan, kita terpaksa harus melibatkan ayahnya. Terserah bagaimana urusannya nanti tuan Devan, yang penting keselamatan Rachel yang utama," timpal dokter Risna.
"Rasanya aku ingin berteriak saat ini dokter. Ini sangat membuatku kacau," Devan akhirnya menyerah. Ketakutannya pada kenyataan yang mungkin saja merenggut kebahagiaannya makin membuat Devan depresi.
Dokter Risna hanya bisa tertunduk sedih karena tidak ada kata yang bisa terucap kecuali doa dengan menengadahkan tangan setinggi-tingginya. Sementara tidak jauh dari mereka berdiri ngobrol, nyonya Alisha mendengar semuanya.
"Jika itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan membantuku. Aku harus sampaikan ini kepada besan. Pasti besan akan ikhlas menyerahkan nyawa untuk putrinya Rachel demi kesembuhannya," batin nyonya Alisha.
__ADS_1
Ibu kandungnya Devan ini berinisiatif kembali pulang ke rumahnya. Ia ingin menghubungi besannya sekarang juga. Nyonya Alisha mengambil ponselnya dan mencari kontraknya pak Lukman. Tangannya terkepal kuat sambil mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan tujuannya.
"Ya Allah tolong aku!" pinta nyonya Alisha.