
Riak air sungai mengalir jernih diantara bebatuan dengan berbagai ukuran berserakan di sepanjang aliran sungai. Rachel menurunkan kakinya di dalam kubangan sungai sementara bokongnya masih asyik duduk di atas batu ceper tempat ia selalu mencuci pakaiannya dulu.
Sekarang rumahnya yang di bangun tidak jauh dari tepian sungai itu terlihat sangat bagus bahkan terkesan mewah karena model bangunannya mengikuti gaya minimalis. Barang-barang yang ada di dalam rumah itu semuanya sudah menggunakan elektronik termasuk mesin cuci sehingga mereka tidak perlu lagi mencuci di sungai.
Rachel asyik memainkan ponselnya sambil merendamkan kakinya. Tanpa ia sadari, sedari tadi ada pemuda tampan yang memperhatikannya sambil merekam aksinya yang asyik sendiri menyaksikan film romantis di ponsel miliknya.
Tidak lama kemudian ponselnya Rachel berdering membuat Rachel harus melihat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Pasalnya ia sudah mengganti nomor kontak miliknya karena tidak ingin berurusan dengan siapapun termasuk kedua sahabatnya Mia dan Weni.
"Ini nomornya siapa?" tanya Rachel agak ragu menggesek tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Rachel sengaja mendiamkannya karena merasa ada orang iseng atau telepon salah sambung yang yang sedang menghubunginya.
"Sorry...! aku tidak kenal anda," ucap Rachel lalu memblokir nomor kontak itu. Rachel kembali menonton film kesukaannya yang sempat terjeda. Tidak lama kemudian, seseorang menyapanya dari balik punggungnya membuat Rachel tersentak.
"Kamu berani sekali tidak mengangkat telepon dariku, hah?" bentak pria itu membuat Rachel syok.
"Devan...!" gumam Rachel lirih dengan jantung yang hampir copot.
Rachel begitu takut untuk memalingkan wajahnya melihat tunangannya itu. Pasalnya kepulangannya ke kampungnya tanpa pamit pada Devan karena hatinya masih belum begitu pulih pasca dirinya dipermalukan oleh sekertaris Melisa.
"Masih diam di situ dan tidak ingin menyambutku, hmm?" tanya Devan lalu merangkul pundak Rachel dari balik punggung gadis itu membuat Rachel sedikit jengah.
"Lepaskan aku Devan. Ini kampung bukan kota," ucap Rachel sambil melihat sekeliling sungai dan untungnya aman.
"Biarkan saja. Paling mereka akan menangkap basah kita dan menyuruh kita untuk cepat menikah," ucap Devan dengan entengnya.
__ADS_1
"Lepaskan Devan! aku tidak mau diperlakukan seperti ini!" bentak Rachel begitu murka membuat Devan terkesima.
Baru kali ini Devan mendengar suara Rachel begitu meninggi di depannya. Raut wajahnya Devan berubah total dengan nyalinya terlihat ciut bukan karena takut akan bentakan Rachel tapi sikap lembut Rachel yang selama ini ia kenal santun berubah drastis padanya.
Devan tidak banyak bicara lagi bahkan satu katapun tidak ia ucapkan untuk menanyakan kabar tunangannya. Melihat sikap diamnya Devan membuat Rachel juga menjadi meremang. Devan segera berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rachel dengan perasaan yang sangat kecewa pada Rachel.
Rachel ingin menghentikan langkah Devan namun suaranya seakan tercekat dengan lidah yang begitu kelu dengan rasa bersalahnya karena telah membuat Devan kecewa padanya.
"Biarkan saja seperti itu. Lebih baik dia tidak usah memilih aku sebagai istrinya. Itu jauh lebih baik daripada bersama denganku akan membuat ia dan keluarganya akan malu karena menikahi putri seorang ibu yang gila," batin Rachel menghibur dirinya sendiri.
Rachel kembali ke rumahnya. Perasaannya tiba-tiba hampa seakan ada yang memaksanya untuk menangis." Aku tidak boleh sedih. Aku harus kuat. Aku ingin mengabdi di desaku. Tanah kelahiranku. Aku ingin merawat orang gila di rumah sakit gila di kota ini," batin Rachel.
Rachel membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan untuk ia masak untuk makan siang dia dan ayahnya dan juga dua pekerja yang membantunya di rumahnya walaupun keduanya tidak menginap. Pembantu itu masih kerabat dekatnya Rachel.
Rachel menyelesaikan pekerjaannya lalu memanggil ayahnya untuk makan siang bersama dengannya.
"Ayah. Kita makan dulu!" pinta Rachel sambil menggandeng lengan ayahnya menuju meja makan.
Keduanya duduk bersama dan pak Lukman menatap wajah murung putrinya." Ada apa nak? sepertinya kamu sedang sedih. Apakah ada masalah dengan nak Devan?" tanya pak Lukman.
"Ayah jangan terlalu berharap banyak pada hubungan aku dan Devan karena kami sepertinya tidak memiliki kecocokan dalam segi apapun," ucap Rachel.
"Untuk urusan jodoh, mati, hidup dan lainnya, semua kembali kepada Allah. Jika Devan memang jodohmu sekuat apapun kamu menghindarinya karena status sosial dia akan menjadi milikmu namun sedekat apapun dia membuat kamu bahagia jika tidak jodoh akan berpisah juga karena proses hidup untuk mendewasakan manusia akan mengalami fase sakit hati lalu bersedih dan insyaallah pada akhirnya bahagia," ucap pak Lukman penuh dengan kebijaksanaan.
__ADS_1
"Ayah. Aku begitu takut untuk bermimpi. Aku takut jika aku masuk ke kehidupan Devan, orang akan menghinanya karena menikahiku," ucap Rachel terlihat sedih.
"Nak. Apakah kamu malu bersanding dengan Devan karena sakitnya ibumu?" tanya pak Lukman.
"Bukan malu ayah. Lebih tepatnya aku tidak mau Devan dan ibunya menderita karena tidak siap di hina orang karena aku putri seorang ibu gila," ujar Rachel.
"Apakah kamu merasa Allah itu tidak adil pada dirimu? apakah kamu meragukan kebesaran Allah yang akan membungkam mulut mereka karena berani menghina kamu?" tanya pak Lukman sambil menatap wajah sendu putrinya.
"Tidak ayah. Aku yakin Allah tidak akan tinggal diam melihat orang lain mendzalimi Rachel," ucap Rachel.
"Kalau begitu, apa lagi yang menjadi beban pikiranmu? sementara Allah sudah memilihkan jodohmu untukmu yaitu Devan. Devan yang akan mengangkat derajatmu. Dia yang akan melindungi kamu dari manusia-manusia yang berhati dengki. Mereka hanya memanfaatkan keadaanmu untuk merebut Devan darimu. Melihatmu kalah dan menyerah karena itu yang mereka inginkan," ucap pak Lukman menasehati putrinya.
Rachel seakan mendapatkan kekuatan ketika mendengar nasehat baik dari ayahnya. Iapun bangkit dan memeluk ayahnya dengan haru.
"Terimakasih ayah. Aku akan berusaha untuk menyingkirkan perasaan pesimis ku dalam hubungan kami. Rachel sayang ayah. Masya Allah ternyata Allah memberikan Rachel petunjuk melalui lisan ayah ucap Rachel penuh haru.
Keduanya menikmati makan siang mereka penuh kenikmatan. Rachel terlihat bahagia setelah mendapat wejangan dari ayah kandungnya. Yah, dengan curhat kepada sang ayah Rachel merasa kalau ayahnya juga seorang laki-laki yang punya pemikiran yang sama jika dilihat dari posisi Devan.
Karena itulah pak Lukman sangat mengerti apa yang dipikirkan putrinya sejak pulang dari Jakarta dan lebih banyak termenung.
"Apakah kamu kabur darinya, Rachel? apakah nak Devan tidak tahu kepulangan ke kampung, nak?" tanya pak Lukman.
"Iya ayah. Rachel kabur dari Devan," ujar Rachel terlihat bersalah..
__ADS_1