
Setelah menunggu hampir satu jam, Rio sudah menyelesaikan beberapa adegan yang dibutuhkan oleh sutradaranya. Ia kemudian pamit pada sang sutradara dan kameraman untuk mengantar Rachel pulang.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Rachel?" Selidik sutrada Anung.
"Dia kekasihku." Ucap Rio asal tapi tidak memikirkan dampak dari ucapannya itu.
"Benarkah? Selamat ya Rio. Padahal setahu saya, Rachel adalah gadis yang sulit didekati." Ujar sutradara Anung.
"Pesona siapa dulu dong yang bisa menolak ketampanan seorang Rio," Ucap Rio dengan bangga hati.
"Semoga saja kamu tidak sok pamer karena aku tidak yakin gadis setegas Rachel bisa jatuh cinta padamu walaupun gadis itu terlihat lembut dari luar." Sambung Anung.
"Apakah kamu mau bertaruh denganku? Jika aku bisa menikahinya, apa yang akan kamu berikan kepadaku?"
"Mobil Eropa keluaran terbaru." Sahut Anung.
"Wow keren. Aku suka itu."
"Lantas bagaimana denganmu?" Tantang Anung.
"Kamu boleh ambil salah satu Lee Cooper milikku." Ucap Rio.
"Deal!"
"Deal!"
Rio segera mengantar Rachel kembali ke apartemennya. Selama ini orang tidak mengetahui alamat apartemen Rachel, kecuali seorang mafia yang mampu meretas keberadaan gadis ini. Tanpa mereka ketahui, mafia itu terus membuntuti mobil Rio yang sedang mengantar Rachel pulang.
"Apakah kamu sudah makan di lokasi shooting Rachel?"
"Sudah kak."
"Apakah kamu mau makan lagi?"
"Saya sudah kenyang kak. Lagian ini sudah larut malam dan besok aku masih ikut kegiatan ospek. Aku tidak mau dihukum karena terlambat." Tolak Rachel.
"Hanya makan nasi goreng, tidak lama Rachel. Tolonglah, aku saat ini sangat lapar." Ucap Rio.
"Tapi aku hanya temani saja ya kak."
"Ok."
Keduanya turun dari mobil dan memesan nasi goreng pinggir jalan. Beruntunglah tempat itu sudah sepi jadi Rio bebas dari orang-orang yang mengenalnya. Sementara tukang nasi goreng yang melihat Rio sangat kaget saat melihat Rio mau makan nasi goreng buatannya.
"Den Rio ya?" Tebak tukang nasi goreng itu.
"Iya."
"Mau pesan nasi goreng?"
__ADS_1
"Iya. Satu nasi goreng seafood."
"Sepuluh menit ya den." Ucap tukang nasi goreng agar Rio menunggunya membuat nasi goreng sesuai pesanannya.
Tidak lama nasi goreng pesanan Rio sudah di sajikan oleh tukang nasi goreng. Tidak lupa dua teh manis hangat yang dipinta Rio untuk dirinya dan Rachel.
"Kamu juga harus makan Rachel." Pinta Rio sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut Rachel.
"Tidak usah kak. Rachel sudah kenyang."
"Apakah kamu membantahku?" Ancam Rio membuat Rachel terpaksa membuka mulutnya.
Rio memakan bergantian dengan Rachel dengan sendok yang sama." Kak itu sendok bekas mulut aku, apakah kakak nggak jijik?" Ucap Rachel sangat malu saat ini.
"Apakah kamu mau aku mencium bibirmu dan mengisap lidahmu untuk membuktikan aku tidak jijik padamu?" Tanya Rio membuat Rachel sangat gugup.
Rachel tertunduk tanpa ingin menjawab. Hatinya sedikitpun tidak tertarik dengan Rio tapi Rio yang sedang berbunga-bunga saat bisa bersama dengan gadis ini.
Seorang pria tampan dengan wajah datar mengetahui jika Rachel terlihat sangat terpaksa menemani Rio yang merasa sok ketampanan itu.
"Pastikan gadis itu tidak terjebak dalam permainan artis berengsek itu." Ucap sang mafia itu.
"Baik Tuan."
Sang Mafia yang bernama Devan itu sudah jatuh cinta pada Rachel saat pertama kali ia melihat gadis itu di dalam lift walaupun hanya mata gadis itu terlihat. Sebelumnya ia tidak tahu siapa Rachel yang saat ini nama gadis itu sedang viral karena kepiawaiannya yang mampu memoles wajah siapa saja yang berwajah biasa saja bisa menjadi cantik mau tampan..
Setibanya di apartemen, Rachel menolak Rio untuk mengantarnya sampai ke depan pintu apartemennya.
"Kak Rio. Aku menghormatimu karena kamu seniorku di kampus. Tapi sebagai wanita dewasa dan seorang muslimah sejati aku menolakmu untuk mendampingiku sampai ke kamarku. Aku percaya padamu dengan niat baikmu. Tapi aku tidak percaya sedikitpun pada setan yang akan menghasut kita secara perlahan." Ucap Rachel tegas membuat wajah Rio sangat malu saat ini.
"Baiklah Rachel. Sampai jumpa besok pagi di kampus. Assalamualaikum." Ucap Rio segera pamit saat pintu lift itu terbuka.
"Sial. Ternyata benar yang dikatakan oleh sutradara Anung kalau Rachel orangnya sangat tegas walaupun terlihat sangat lembut. Tapi justru aku suka dengan gadis yang tidak mudah goyah dengan segala jenis yang membuat matanya terbuai pada benda atau pria setampan dan mapan seperti aku." Ucap Rio dengan angkuh.
Rachel menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya karena sudah hampir jam satu pagi. Keesokan harinya, Rachel buru-buru sarapan pagi dengan roti oles selai coklat dan segelas susu.
Kedua sahabatnya Weni dan Mia nampak bingung melihat wajah Rachel yang terlihat merenggut." Ada apa Rachel? Jam berapa kamu pulang semalam?"
"Aku di bawa lari oleh artis sialan ke lokasi shooting film. Dan aku harus menunggunya sampai selesai shooting. Dan sialnya aku diajak makan malam lagi di pinggir jalan."
"Artis siapa?"
"Rio Dermawan."
"Apaaa...? Artis papan atas itu?" Tanya Mia tidak percaya.
"Papan penggilasan kali." Sungut Rachel kesal.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?"
__ADS_1
"Dia seniorku di kampus."
"Welahh...! Jadi dia mahasiswa kedokteran juga?"
"Hmm!"
"Lantas, bagaimana kamu bisa bersamanya?" Tanya Weni.
Rachel menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Rio. Kedua sahabatnya mengangguk paham." Sepertinya dia naksir kamu Rachel." Goda Mia.
"Aku bahkan tidak tahu kalau dia artis."
"Masa sih? Harusnya kamu bersyukur bisa berduaan sama dia. Yang lain belum tentu dapat kesempatan untuk bisa bersamanya. Terus kamu minta foto dengannya?" Tanya Weni penasaran.
"Cih..! Ngapain juga aku foto dengannya. Aku tidak peduli dia artis atau bukan. Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis sampai cita-cita ku tercapai." Timpal Rachel.
Ting...tong...
"Astaga...! Itu siapa? Ini masih jam setengah enam pagi lho?" Tanya Mia penasaran sambil berjalan menuju pintu dan jantungnya hampir copot saat melihat wajah tampan yang barusan mereka bahas.
"Weniiii sini!" Panggil Mia gugup.
Sementara Rachel sudah kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya siap-siap ke kampus..
"Siapa Mia?"
"Lihat sendiri!"
"Astaga. Itu Rio. Aku sudah cantik belum. tunggu aku ambil ponsel dulu. Kapan lagi bisa foto bareng artis papan atas." Ucap Weni sambil mencari ponselnya.
"Ya Allah. Aku sampai lupa buka pintu buat dia." Ucap Mia gugup.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumuslam!"
"Apakah benar ini rumahnya Rachel?"
"Benar mas Rio!" Ucap Mia gugup.
"Rachel nya ada?" Tanya Rio.
"Tuh Rachel! Silahkan masuk dulu mas Rio!" Ucap Mia.
'Siapa yang mencari aku, Mia?"
"Si tampan." Ucap Mia cengengesan membuat Rachel kaget melihat Rio sudah bertamu pagi-pagi di rumahnya.
"Astaga! Kau..!"
__ADS_1