Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
20. Senyum Ayah


__ADS_3

Ketika pesawat yang ditumpangi Rachel mendarat di kota kelahirannya, Rachel menarik nafas lega karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang ayah. Rachel menurunkan kopernya di bantu oleh seorang pria tampan yang duduk disebelahnya tadi.


"Permisi nona! Apakah ini koper milikmu?" Tanya Dante.


"Iya bang. Tolong turunkan koper saya!" ucap Rachel.


"Tunggu ya nona!" Dante mengambil koper kecil itu lalu menurunkan koper itu di depan Rachel berdiri.


Tidak lama kemudian, para penumpang mulai turun satu persatu. Pramugari Wulan meminta foto bersama Rachel sebagai kenang-kenangan untuk mereka. Rachel pun tidak bisa menolaknya karena ia sekarang mendadak menjadi publik figur.


"Terimakasih mbak Rachel!" ucap pramugari Wulan dan temannya.


Rachel segera meninggalkan pesawat itu menuju ruang kedatangan. Ia juga agak malas meladeni permintaan para fansnya yang sedari tadi ingin berfoto dengannya.


Melihat sikap cuek Rachel, mereka jadi segan dan tidak ingin menganggu Rachel yang terlihat serius berdiri menantikan kedatangan kopernya yang masih di bongkar bagian bagasi dari pesawat yang ditumpangi Rachel.


"Mbak Rachel ya...?" tanya seorang penumpang yang ada di sebelah Rachel.


"Iya."


"Boleh minta foto bareng nggak?" tanya temen yang satunya lagi.


"Boleh!" ucap Rachel karena dia juga sedang menunggu kedatangan kopernya.


Dari permintaan dua orang tadi menular ke yang lain yang juga mengenal sosok seorang Rachel sebagai MUA yang merias wajah diantara kalangan artis dan juga pejabat dan para konglomerat.


"Mbak Rachel. Apakah kami boleh minta nomor kontak mbak Rachel?" Tanya gadis-gadis itu.


"Untuk apa ya?" tanya Rachel.


"Kami ini kan calon-calon pengantin wanita, walaupun belum punya pacar, tapi kami ingin menabung uang untuk bisa didandanin oleh mbak Rachel," ucap salah satu gadis yang baru saja foto Selfi dengan Rachel.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau untuk tujuan bisnis aku mau, tapi untuk urusan lain aku tidak akan meladeni telepon kalian," ucap Rachel tegas lalu menyebutkan nomor kontaknya.


Mereka mencatat nomor kontak Rachel. Mereka sangat bangga bisa bertemu dengan Rachel dan foto bersama dengan tunangannya Devan.


"Iya mbak Rachel. Kami janji untuk tidak menganggu mbak Rachel dengan urusan yang tidak jelas," ucap gadis yang lain.


"Terimakasih ya mbak Rachel. Semoga makin sukses dan dilancarkan pernikahannya dengan tuan Devan. Titip salam untuk tuan Devan," ucap mereka membuat Rachel hanya tersenyum kecut.


"Aaamiin. Terimakasih untuk doa tulusnya," ucap Rachel.


Tidak lama kemudian, barang dan koper para penumpang sudah masuk ke bagasi yang sedang berjalan memutari area tempat berdirinya para penumpang yang sedang memperhatikan memperhatikan barang dan koper mereka sesuai dengan nama yang tertera.


Rachel mengambil koper besar miliknya dan juga kardus yang berisi oleh-oleh untuk kerabatnya. Rachel berjalan menuju tempat penghentian mobil taxi bandara. Setelah memberitahukan alamat yang dituju, Rachel masuk ke dalam taksi dan barangnya di masukkan ke bagasi mobil oleh sopir taksi.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Rachel melihat banyak perubahan di kota kelahirannya dari pembangunan infrastruktur.


Kedatangan Rachel tanpa sepengetahuan ayahnya itu menjadi kejutan terbesar untuk ayahnya. Walaupun beberapa bulan yang lalu ia sudah bertemu dengan ayahnya ketika ayahnya menghadiri acara wisudanya bersama dengan Devan.


Taksi itu berhenti di pinggir jalan. Rachel harus berjalan lagi agak jauh karena rumahnya dekat dengan pinggir sungai.


"Kak Rachel ya?" tanya Gani sambil tersenyum pada Rachel.


"Eh, kamu bukannya Gani putranya pak Hengky?" tanya Rachel.


"Iya kak. Itu Fandi dan itu lagi Bani. Sini kak, koper dan kardusnya kami bawain," ucap Gani.


"Alhamdulillah. Ada juga yang mau bantuin kakak. Terimakasih ya Gani, Fandi dan Bani," ucap Rachel yang sekarang sudah jalan melenggang santai menuju rumahnya.


Ketika ia berjalan menanjak dari jauh ia melihat ayahnya sedang memetik cabe. Rachel mempercepat langkahnya sambil memanggil sang ayah.


"Ayahhh...!" pekik Rachel sambil melambaikan tangannya ke arah ayahnya yang begitu kaget melihat kedatangan Rachel.

__ADS_1


"Rachel. Kenapa tidak kabari ayah kalau kamu mau datang?" tanya pak Lukman.


"Rachel ingin buat kejutan untuk ayah. Apakah ayah menyukainya?" tanya Rachel dengan sikap manjanya pada sang ayah. Gadis ini mencium punggung tangan ayahnya penuh takzim.


Pak Lukman hanya bisa mengelus kepala putrinya penuh kasih sayang. Keduanya masuk ke dalam rumah. Ketiga pemuda tanggung menaruh barang-barang milik Rachel. Rachel memberikan uang kepada ketiga pemuda itu yang menerimanya dengan senang hati.


"Alhamdullilah. Lumayan bisa buat jajan pulsa buat isi kuota untuk main pulsa," ucap Bani sambil terkekeh.


"Iya. Kakak tahu itu kok. Kalian memang pingin jajan yang jugakan? ini kakak tambahin uang jajannya," goda Rachel yang awal kasih tiap anak 50 ribu kini di kasih lagi 100ribu. Jadilah ketiganya merasa dapat rejeki nomplok.


"Alhamdullilah.Terimakasih kak Rachel. Nanti jangan sungkan kalau butuh bantuan panggil kami saja ya. Boleh minta nomor kontak kak Rachel nggak?" pinta Fandi.


"Boleh. Tapi, jangan kasih sembarangan ke orang lain ya tanpa seijin kakak!" pinta Rachel.


"Tenang saja kak. Kami tidak akan kecewakan kak Rachel. Kami akan jadi pelindung kak Rachel kalau ada yang isengin kak Rachel," ujar Bani.


Rachel menyebutkan nomor kontaknya pada ketiga pemuda tanggung itu yang langsung mencatatnya dengan cekatan di ponsel milik mereka masing-masing.


"Tunggu sebentar ya. Ayo duduk dulu! kakak punya oleh-oleh untuk kalian," Rachel ke belakang untuk mengambil oleh-oleh untuk ketiga pemuda itu yaitu kaos bola Jersey yang lagi booming saat ini karena Rachel pulang tepat dengan piala dunia sedang berlangsung.


"Ini kaos bola untuk kalian. Semoga kalian suka," ucap Rachel.


"Alhamdullilah. Rejeki anak Sholeh. Terimakasih kak Rachel. Semoga banyak rejekinya dan sehat selalu," ucap ketiganya secara beruntun membuat Rachel dan ayahnya pak Lukman tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.


Dan ketiganya langsung pamit kembali ke pangkalan mereka di pos ronda milik RT. Rachel menghempaskan tubuhnya di sofa sambil melihat keadaan rumahnya sekarang berubah 180 derajat dengan gubuk yang dulu ia tempati dan ia tinggalkan untuk merantau ke Jakarta.


"Rachel bawa makanan ayah. Tadi Rachel sempat beli nasi Padang saat keluar dari bandara. Kita makan dulu ya ayah," ucap Rachel.


"Iya nak." Pak Lukman mencuci tangannya di wastafel cuci piring dan Rachel menyiapkan makanan itu di atas piring.


Tidak lama keduanya duduk bersama di meja makan sambil menikmati makan siang mereka. Pak Lukman yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Rachel. Bagaimana hubunganmu dengan Devan. Apakah kalian berencana untuk menikah?" tanya pak Lukman membuat Rachel berhenti mengunyah makanannya.


Ddggg


__ADS_2