Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
8. Gugup


__ADS_3

Wajah tampan Devan terlihat sangat tegang. Betapa tidak, ia yang selama ini diam-diam mengincar Rachel dan baru saja ingin menceritakan siapa gadis yang akan ia nikahi, justru sudah berada di dalam mansionnya. Tidak ingin terlihat wibawanya jatuh, Devan yang awalnya terlihat manja pada ibunya berubah 180 derajat menjadi datar kembali seperti biasanya.


Rachel yang tidak tahu apa-apa tentang Devan, memilih menghabiskan makanannya tanpa merasa ada Devan yang saat ini tak lepas menatap wajahnya. Melihat sikap putranya yang seakan naksir berat pada Rachel, membuat nyonya Alisa sengaja menggoda putranya.


"Naksir ya? cantik kan dia?" bisik nyonya Alisha sambil tersenyum menggoda putranya.


"Apa-apaan sih, mami?" Devan segera duduk di kursi utama sebagai kepala keluarga di rumah itu.


Pelayan yang hendak melayani Devan dihentikan oleh nyonya Alisa. Tidak usah Farah. Biar Rachel yang akan melayani putraku." Ucap nyonya Alisa membuat Rachel sedikit tersedak.


Devan menatap tajam wajah ibunya yang senyam-senyum tidak jelas seakan menggoda putranya.


"Mami..!" Tegur Devan dengan wajah yang terlihat memerah karena malu.


Rachel yang bingung masih diam di tempat tanpa ingin melihat wajah Devan. Entah mengapa jantung Rachel yang tidak pernah berdegup kencang selama berhadapan dengan pria dewasa yang bukan muhrimnya kini berubah menjadi gugup saat berada di depan Devan.


"Astaga...! Ada apa denganku? kenapa aku sangat gugup saat ini. Kenapa juga dengan jantungku?" batin Rachel sambil istighfar.


"Ayo nak Rachel. Tolong layani putraku." Pinta nyonya Alisa sekali lagi sambil mengamati keduanya dengan senyum yang masih menyungging dibibirnya.


"Saya bisa sendiri!"


"Iya nyonya!"


Ucap keduanya bersamaan sambil memegang sendok nasi.


"Cie...cie..! Kompak banget." Goda nyonya Alisa makin membuat Devan mati kutu. Rachel makin bingung dengan situasi yang belum ia pahami sama sekali.


"Ijinkan aku melayani anda Tuan!" Pinta Rachel dengan tangan bergetar memegang sendok nasi.


Gadis ini menuangkan nasi di piring Devan sangat hati-hati.


"Lauk apa yang anda inginkan, tuan?"


"Ikan, udang, dan sayur capcay." Ujar Devan.

__ADS_1


Rachel melepaskan semua daging ikan gurame dari tulangnya sebelum diberikan kepada Devan. Pria tampan itu begitu kaget cara Rachel melakukannya. Begitu juga dengan nyonya Alisa.


"Mengapa kamu melepaskan daging ikan dari tulangnya Rachel? Devan bisa melakukannya sendiri." Tanya nyonya Alisa ingin tahu alasan Rachel.


"Karena ayahku selalu melakukan itu saat aku masih kecil. Kata ayahku," Saat memberikan daging ikan kepada orang yang ingin kamu layani, pastikan daging ikannya terbebas dari tulangnya agar tidak ketelan saat memakannya. Tidak semua orang memperhatikan tulang kecil dari ikan itu ketika memakannya." Jelas Rachel cukup masuk akal membuat Devan mengukir senyumnya hampir tak terlihat.


"Apakah semua temanmu, kamu memperlakukan seperti itu Rachel?"


"Hanya kepada ayah dan ibuku saja, nyonya dan ini pertama kalinya aku melakukan untuk tuan Devan karena permintaan nyonya yang ingin saya melayaninya." Ucap Rachel.


"Wah! Berarti putraku sangat istimewa nih dapat perhatian dari gadis cantik seperti Rachel, iyakan sayang?" Goda nyonya Alisa sambil melirik ke arah Devan.


Hampir saja Devan tersedak saat ini, tapi sang mafia itu dapat mengendalikan perasaannya. Walaupun ia sangat terharu dengan perlakuan Rachel padanya, namun ia tidak mau terlihat bodoh di depan Rachel.


Wajah datarnya yang tetap setia menghiasi keangkuhannya di depan siapapun saat ini dan Nyonya Alisa tidak mau berlebihan lagi menggoda putranya.


"Ayo Rachel! Dandanin mami. Mami sudah terlambat ke acara resepsi pernikahan Amira." Pinta nyonya Alisha.


Dalam beberapa menit wajah nyonya Alisa terlihat lebih mudah dari usianya. Wanita paruh baya itu yang aslinya memang sudah cantik dan tetap terawat di usianya seakan menyaingi wanita usia empat tahun. Nyonya Alisha begitu puas dengan tangan ajaib Rachel yang membuatnya makin percaya diri saat ini.


Rachel tidak mau mengomentari apa lagi untuk kepo kehidupan orang-orang kelas atas. Dia lebih memilih mendengarkan apa saja yang orang lain bicarakan padanya.


"Terimakasih ya sayang. Kamu sudah membuat aku cantik hari ini. Nanti mami akan transfer ke rekeningmu."


"Terimakasih atas kemurahan hatimu nyonya. Kalau begitu aku permisi," Ucap Rachel meninggalkan kamar nyonya Alisa.


"Biar mami mengantarmu sampai depan."


"Terimakasih."


Tubuh jenjang dengan body yang aduhai milik Rachel, mampu memikat hati siapa saja walaupun gadis ini mengenakan pakaian yang cukup longgar dengan hijab yang menutupi mahkota indahnya. Saat melewati kamar milik Devan, pria tampan ini langsung melihat wajah Rachel yang hanya menunduk hormat padanya tanpa senyum.


"Apakah sudah selesai, Rachel ?" Tanya Devan sok akrab pada Rachel.


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Biar aku yang akan mengantarkan kamu pulang." Ucap Devan.


"Tapi!"


"Bukankah kamu tadi di jemput oleh sopir pribadi mami? nah, sekarang biar aku yang mengantarkan kamu pulang. Sopir mami mau antar mami ke undangan." Ucap Devan syarat dengan modus.


"Oh iya benar juga. Terimakasih Tuan." Rachel sedikitpun tidak curiga dengan Devan karena merasa baru pertama kali bertemu.


Devan membuka pintu mobil untuk Rachel. Rachel memasang seat belt pada tubuhnya dan mobil itu dalam sekejap sudah menghilang dari mansion utama keluarga Bramantyo.


"Apakah kamu ada panggilan lagi?" tanya Devan memecah keheningan.


"Saya hanya menerima satu pelanggan saja dalam sehari. Saya tidak mau tubuh saya kelelahan dan akan berimbas pada pendidikan." Ucap Rachel


"Bagus. Aku senang dengan pemikiran terbuka seperti kamu. Pendidikan lebih penting karena dengan ilmu, uang bisa dicari. Apakah aku boleh mengajak kamu jalan-jalan?"


"Maaf tuan. Aku ada tugas yang harus aku selesaikan."


"Kalau begitu, aku akan menemani kamu mengerjakan tugasmu di apartemenmu."


"Bagaimana anda tahu kalau aku tinggal di apartemen?"


"Aku harus tahu siapa tamu ibuku untuk memastikan keamanannya karena ibuku sangat berharga untukku."


"Aku tidak bisa menerima laki-laki yang bukan muhrim ku masuk ke unit apartemenku. Aku tidak mau ada fitnah. Jika aku berani melakukan itu, reputasi ku akan buruk dihadapan Allah. Kita tidak saling kenal tuan Devan dan tolong jaga batasan anda." Ucap Rachel ketus.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan melamarmu kepada kedua kedua orangtuamu agar bisa menikahimu," imbuh Devan tanpa basa-basi.


"Apakah anda salah minum obat? Jangan terlalu percaya diri dengan mentang-mentang tuan kaya lantas seenaknya memperlakukan aku seperti itu." Ucap Rachel.


Tidak terasa mobil milik Devan sudah memasuki depan lobi apartemen milik Rachel. Rachel membuka seat belt-nya lalu hendak turun.


Devan baru sadar dari lamunannya karena obrolan yang terjadi tadi hanya sebatas dalam angannya yang langsung buyar saat Rachel mengucapkan terimakasih padanya.


"Tuan... tuan Devan. Terimakasih.

__ADS_1


"Oh iya, Rachel. Hati-hati!" Ucap Devan gugup hampir membuat Rachel terkekeh.


__ADS_2