
Devan mengadakan pesta ulang tahun perusahaannya di sebuah hotel di mana hotel itu miliknya sendiri. Malam itu ia ingin melamar sang pujaan hatinya. Devan mengirimkan gaun mewah dan indah untuk Rachel agar gadis itu mengenakan gaun itu saat pesta ulang tahun perusahaannya.
Tidak lama kemudian, gaun itu sudah tiba dikediaman Rachel yaitu unit apartemen milik ia dan kedua temannya Mia dan Weni. Mia yang menerima paket yang berisi gaun dan perlengkapannya yaitu jilbab, sepatu dan tas. Tentu saja harganya selangit karena hasil desain dari desainer terkenal luar negeri.
"Rachel. Ada paket untukmu," ucap Mia meletakkan paket itu diatas meja. Weni dan Rachel menghampiri paket itu. Rachel yang tidak pernah merahasiakan sesuatu dari kedua sahabatnya itu membuka paket itu di hadapan keduanya.
"Paket apa ini dan dari siapa ya?" tanya Rachel dengan jantung berdebar.
"Udah, buka saja dulu. Aku juga penasaran, itu paket apa," ucap Weni tidak sabaran.
Rachel membuka secara perlahan dan terlihatlah sebuah gaun dengan perlengkapannya. Di dalam kotak itu ada kartu yang berisi pesan dari sang pengirimnya. Rachel membaca pesan itu dengan ekspresi kaget.
"Pakai gaun ini dengan pelengkapnya. Aku akan menjemputmu nanti malam sekitar jam tujuh. Aku harap atas kehadiranmu karena kamu adalah tamu istimewaku malam ini di acara ulang tahun perusahaanku. Ajak kedua temanmu itu dan aku juga mengirim gaun untuk mereka agar bisa menemani kamu nanti agar kamu tidak canggung berada di pesta itu, Devan," tulis Devan di kartu itu membuat Rachel mengerutkan alisnya.
"Astaga. Kenapa tiba-tiba sekali. Aku saja belum siap mentalku untuk menerima ajakannya," gumam Rachel lirih.
"Sini, aku mau baca. Penasaran deh. Apa isi tulisannya?" tanya Weni sambil merebut kartu dari tangan Rachel.
Saat Weni membaca kartu itu, tidak lama kemudian datang paket kedua untuk Weni dan Mia dari Devan.
"Astaga. Cowok loe baik banget sih Rachel. Terimakasih lho kita diundang juga dan ada gaun pesta juga untuk kita," ucap Weni penuh rasa syukur pada Rachel.
"Semoga hubungan kalian langgeng ya Rachel sampai ke jenjang pernikahan," ucap Mia yang ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabat mereka Rachel.
"Aaamiin. Terimakasih untuk doanya," ujar Rachel lalu ketiganya berpelukan.
"Rachel nanti kamu dandanin kami dulu ya!" pinta Mia.
__ADS_1
"Ok sayang. Sekarang kita makan siang dulu lalu sambil pedicure dan menicure," ucap Rachel.
Ketiganya kompak menjawab sambil melakukan tos satu sama lain. Ketiganya menikmati makan siang mereka sambil membayangkan bagaimana mereka tampil nanti malam di pesta ulang tahun perusahaan milik Devan.
"Belum apa-apa jantungku sudah lebih dulu berdetak kencang seperti ini," ucap Rachel.
"Kami juga Rachel. Padahal kami hanya peran pendukung, tapi jantungku rasanya mau meledak," ucap Weni.
"Perasaan waktu cepat banget berlalu. Detak jam itu berpacu dengan jantung kita saat ini. Aduh semoga kita semua bisa berdiri sejajar dengan para konglomerat," ucap Mia.
"Tenang Mia, Kitakan punya Rachel karena dia adalah tamu VVIP sekaligus kekasihnya Devan. Pasti nggak ada yang berani mengusik kita deh," ucap Weni.
"Kalian ini bisa saja mengkhayal hal-hal yang belum kita duga seperti apa nantinya," ucap Rachel.
"Bismillah saja. Semoga acaranya lancar," ucap Mia.
...----------------...
Di saat malam tiba, kedua sahabatnya Rachel yaitu Mia dan Weni sudah tampil cantik bak model dengan gaun cantik pemberian Devan. Kini tinggal Rachel yang hanya mengenakan gaunnya saja karena Rachel baru selesai memoles makeup diwajahnya.
Weni dan Mia membantu memakaikan gaun super mewah dan cantik itu ditubuh Rachel. Kini ketiganya seperti Dewi cinta yang akan menebarkan aroma cinta kepada semua orang.
Rachel melirik jam di pergelangan tangannya sambil melangkah ke pintu utama. Baru saja mereka mau keluar tiba-tiba, terdengar bunyi bel. Rachel melihat monitor CCTV dan ternyata itu adalah Devan.
Rachel membuka pintu itu secara perlahan. Devan menatap wajah bidadarinya dengan jantung berdegup kencang. Gaun merah jambu yang dikenakan oleh Rachel sangat membuat Devan takjub. Dalam satu menit pertama tatapan Devan tak putus menatap Rachel membuat Mia dan Weni saling menyikut. Bahkan keduanya tersipu malu.
"Selamat malam dokter Rachel!" ucap asisten Deni mewakili Tuannya Devan.
__ADS_1
"Assalamualaikum Devan!" sapa Rachel membuat Deni menutup bibirnya karena salah mengucapkan salam yang tidak sesuai dengan agama yang dianut mereka.
"Waalaikumuslam Rachel! boleh kita berangkat sekarang?" tanya Devan sambil memberikan lengannya untuk digandeng Rachel.
Mereka berlima berjalan menuju lift utama. Tidak berapa lama mereka sudah berada di dalam mobil Limosin silver metalik. Mobil itu bergerak cepat membelah jalanan ibu kota agar cepat tiba di tempat acara. Setibanya di sana, semua tamu rupanya sudah menunggu Devan yang akan meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.
"Selamat malam para hadirin, kita sambut pemilik perusahaan tuan Devan yang akan menyampaikan beberapa kalimat mengawali ulang tahun perusahaan ini yang ke 60 tahun," ucap MC acara.
Devan mengajak Rachel dan ibunya, nyonya Alisa untuk mendampinginya berdiri di depan podium.
"Assalamualaikum. Selamat malam semuanya atas kehadiran kalian yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu dari kalian. Entah itu nama maupun jabatan karena tamu undangan malam ini semuanya sangat istimewa bagi saya dan ibu khususnya.
Sebelum acara ini di mulai, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian bahwa saya akan melamar Rachel untuk bertunangan dengannya terlebih dahulu," ucap Devan membuat tamu undangan sangat syok.
Rachel yang tidak mengetahui bakalan ini adalah malam istimewa untuknya menjadi gugup hingga tubuhnya seketika gemetar dengan tungkai kaki yang terasa sangat lemah membuat Devan langsung merengkuh pinggangnya agar Rachel tidak jatuh.
"Hati-hati sayang! jangan panik seperti itu," bisik Devan pada gadis berjilbab ini.
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi gila seperti ini Devan? apa tanggapan mami kamu jika kamu memilih aku...-"
"Mami sendiri yang meminta aku untuk melamar kamu sayang dan mami sudah tahu dengan kejutan ini. Tanpa restu beliau, aku tidak akan mungkin melakukan ini," ucap Devan.
"Devan. Tamu sedang menunggu kalian sayang," bisik nyonya Alisa menyadarkan putranya yang sejak tadi terus saja berdebat dengan Rachel.
"I..iya mami," ucap Devan lalu melanjutkan kalimatnya.
"Mohon maaf ada sedikit kendala teknis. Perkenalkan calon istriku yaitu Rachel Andara. Pasti kalian sudah banyak yang mengenal siapa Rachel atau lebih tepatnya, dokter Rachel karena beliau baru saja menyandang gelar dokter spesialis psikologi," ucap Devan.
__ADS_1
Pria tampan itu lalu mengeluarkan kotak cincin untuk menyematkan cincin berlian itu pada jari manis Rachel.