
Rachel menghubungi lagi Devan karena hatinya tidak tenang. Namun nomor Devan tidak aktif sama sekali. Rachel mencoba menghubungi Deni yang mungkin mengetahui keberadaan Devan.
"Deni. Apakah kamu tahu Devan sekarang ada di mana?" tanya Rachel.
"Lho. Bukankah tuan Devan sedang berada di kampung anda untuk melamar anda secara personal?" tanya Deni.
"Dia tadi bersamaku hanya saja perselisihan antara kami dan ia langsung pergi begitu saja. Aku sudah coba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Sepertinya dia sudah memblokir nomor kontak aku," ucap Rachel.
"Baiklah. Tunggu sebentar nona Rachel. Biar aku saja yang menghubunginya. Setelah itu akan menghubungimu lagi kalau sudah tahu keberadaannya," ucap Deni.
"Terimakasih Deni. Aku menunggumu. Tolong kabarin aku secepatnya. Aku sangat kuatir padanya," ucap Rachel.
"Baik."
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, Rachel mendapatkan chating dari Deni dan ia juga mendapatkan lokasi keberadaan Devan." Rupanya dia masih ada di hotel di kota ini. Aku harus segera ke sana," ucap Rachel.
Rachel mengeluarkan motor matic ayahnya. Ia ingin bertemu dengan Devan untuk meminta maaf. Ia tidak peduli pria itu masih menginginkan dirinya atau memutuskan pertunangan mereka, yang jelas ia ingin meminta maaf pada Devan saja. Hanya itu keinginannya.
Setelah menempuh waktu sekitar dua jam, akhirnya ia sampai juga di kota. Ia segera masuk ke hotel itu setelah memarkirkan motornya. Ia segera ke kamar Devan karena nomor kamar Devan sudah diketahuinya dari Deni.
Sudah beberapa kali ia memencet tombol nomor kamar Devan, namun pintu itu tidak dibuka sana sekali oleh Devan. Rachel mencoba sekali lagi dan ternyata memang tidak dibuka oleh Devan.
"Oh begitu. Terimakasih bang. Permisi!" ucap Rachel yang langsung berlari ke arah pintu lift. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan Devan sebelum pria itu meninggalkan kota kelahirannya.
Rachel menaiki sepeda motornya menuju bandara yang jaraknya memakan waktu sekitar 30 menit. Setibanya di bandara, ia menanyakan penerbangan menuju Jakarta dengan nomor pesawat sesuai yang diberitahu Deni.
"Maaf nona. Pesawat Garuda menuju Jakarta sudah berangkat sepuluh menit yang lalu," ucap petugas bandara itu membuat Rachel sangat syok.
__ADS_1
"Apaaaa ....?" pekik Rachel.
Rachel duduk sebentar untuk menenangkan dirinya. Ia tidak menyangka hanya satu bentakan darinya, Devan menghapus semua kenangan mereka apalagi rasa cintanya yang diberikan Devan padanya hanya sebuah fatamorgana. Terlihat indah dari jauh tapi kenyataannya tidak ada yang nyata sama sekali.
"Hanya sebatas itukah cintamu padaku Devan?" tanya Rachel sambil berkaca-kaca.
Rachel berjalan kembali ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Iapun segera pulang agar bisa menangis di dalam kamarnya sepuas-puasnya.
"Aku membencimu Devan. Aku sangat membencimu. Jika kamu ingin menyingkirkan aku secara perlahan, maka aku akan membuangmu seperti sampah," ucap Rachel dengan kemantapan hatinya yang sudah telanjur terluka.
Setibanya di rumah, Rachel masuk ke kamarnya dan menangis meraung-raung di atas bantalnya. Ia ingin meluapkan perasaan sakitnya.
Rachel berjanji tidak akan pernah lagi berurusan dengan Devan karena laki-laki itu tidak lebih dari seorang pecundang. Rachel merasa sangat kelelahan bolak balik ke kota lalu kembali ke desanya membuat ia akhirnya tertidur dengan air matanya yang masih mengembang dikelopak mata indahnya.
__ADS_1