
Atas tekanan dari atasannya, yang meminta Rachel untuk menemani Devan , akhirnya mau tidak mau Rachel menyanggupi permintaan itu.
"Uhhhgtt. Kalau aku tidak butuh nilai, sudah aku kabur saja dari sini," kesal Rachel sambil memasang wajah datarnya.
Devan yang masih belum siuman nampak pucat akibat dari kecelakaan itu. Rachel memeriksa semua alat vital Devan untuk memastikan keadaan Devan baik-baik saja. Saat masih berkutat di tubuh Devan dengan stetoskop miliknya, Devan tiba-tiba meracau memanggil Rachel membuat Rachel tersentak.
Keringat Devan bercucuran dengan air mata yang menetes di sudut matanya. Rachel mengusap kening Devan ternyata pria tampan ini sedang mengalami demam. Hati Devan merasa terenyuh. Rachel menyuntikkan obat penurun panas di cairan infus Devan.
"Rachel... Rachel.... Rachel! jangan pergi! jangan tinggalkan aku!" Devan sepertinya sangat takut kehilangan Rachel.
Sedangkan gadis ini terlalu membangunkan benteng yang kokoh diantara orang-orang yang ingin mendekatinya entah itu punya kepentingan dengannya atau dengan ketulusan hati mereka seperti yang saat ini yang sedang di rasakan Devan pada Rachel.
Betapa bingungnya Rachel kini. Antara rasa iba pada Devan atau mempertahankan prinsipnya yang tidak ingin menjalin hubungan dengan Devan.
Devan masih meracau memanggil namanya membuat pertahanan Rachel akhirnya runtuh. Ia segera menggenggam tangan kekar pemuda tampan itu dengan lembut.
"Aku di sini Devan, bersamamu. Aku tidak akan ke manapun sampai kamu sembuh," bisik Rachel lirih dikuping Devan.
Iapun menggenggam tangan kekar Devan untuk menenangkan pria tampan itu." Tenanglah! semuanya baik-baik saja." Ucap Rachel sambil memainkan ibu jarinya itu dipunggung tangan Devan yang terlihat kembali tenang.
Ketenangan Devan bukan karena ada Rachel di sampingnya, tapi karena Rachel sedang berada di dalam mimpinya yang mengajaknya bercumbu.
Ciuman panas keduanya yang membuat Devan tersenyum. Rachel tidak mengerti dengan arti senyum Devan. Tapi hatinya cukup tenang melihat Devan tidak meracau lagi.
Karena sudah larut malam, Rachel akhirnya tertidur di pinggir brangkar Devan dengan tangannya masih menggenggam tangan Devan.
Devan yang baru siuman, mengerjapkan matanya melihat gadis impiannya sedang tidur.
Devan berusaha bangkit untuk duduk. Ia ingin membelai pipi Rachel sebelum gadis ini bangun. Baru saja ingin membelai pipi Rachel gadis itu tiba-tiba bangun membuat tangan Devan melayang di udara.
"Kamu sudah bangun?"
__ADS_1
"Eh, iya. Kamu tidur saja. Biar aku yang menjagamu."
Rachel buru-buru menarik tangannya dari Devan, namun Devan tidak ingin melepaskan tangannya Rachel. Ia malah membawa tangan Rachel ke dadanya.
"Aku mohon jangan lepaskan tanganmu Rachel! Aku takut kamu akan pergi dariku," pinta Devan penuh harap.
"Aku ditugaskan untuk menjagamu. Bukan kemauanku untuk menjagamu. Tolong jangan salah paham padaku," ujar Rachel apa adanya.
"Apakah kamu sedikitpun tidak peduli padaku? lantas mengapa kamu menggenggam tanganku? apa artinya ini Rachel?" desak Devan yang makin sedih dengan penolakan Rachel padanya.
"Itu karena aku sangat takut jika kamu sakit dan sedih karena aku."
"Bagaimana kamu tahu kalau aku sakit karenamu?"
"Itu...itu .. karena kamu...-"
"Karena aku apa Rachel? jawablah dengan jelas!" pinta Devan.
"Ini sangat memalukan. Masa aku harus mengakui kalau dia baru saja meracau menyebut namaku?" batin Rachel.
"Kenapa kamu diam Rachel? Apa yang kamu cemaskan?"
"Masalahnya, tadi kamu sempat demam dan itu sangat membuatku takut," ucap Rachel tidak semuanya benar.
"Berarti kamu menyukaiku?"
"Kuatir belum tentu suka. Itu sangat jauh berbeda Devan." sahut Rachel.
"Jangan berkata seperti itu, Rachel. Katakan dengan jujur padaku! Apakah kamu tidak mencintaiku sama sekali? Apakah jantungmu tidak sedikitpun berdetak cepat saat bersama denganku? katakan padaku kalau kamu tidak mencintaiku sambil menatap mataku, Rachel!"
Rachel tidak bisa menahan lagi air matanya. Dadanya rasanya sangat sesak saat ini. Belum saja ia mengatur nafasnya, Devan sudah memaksanya lagi." Rachel. Apakah dengan kematian ku kamu baru mau menyampaikan perasaanmu padaku?" tanya Devan yang sudah kehabisan kata untuk mendapatkan balasan cinta Rachel.
__ADS_1
"Rachel...!" suara Devan cukup keras memaksa gadis ini untuk menyampaikan perasaannya.
"Saya ...saya...-"
"Selamat malam tuan Devan!" saos dokter Keysa membuat Rachel menghentikan ucapannya sambil mengusap air matanya dan mundur sedikit dari brangkar untuk memberikan dokter Keysa ruang memeriksa keadaan Devan.
"Malam dokter!" Balas Rachel namun tidak dengan Devan yang sangat kesal menganggu obrolannya dengan Rachel.
"Dokter Rachel! Anda boleh pulang sekarang karena saya yang akan menjaga tuan Devan," ucap dokter Keysa.
"Tidak. Saya hanya ingin dijaga oleh dokter Rachel. Saya tidak mau dengan yang lainnya." Tolak Devan tegas.
"Tapi Tuan. Masalahnya dokter Rachel sudah dua hari ini menjaga anda hingga ia kekurangan istirahat." Ucap dokter Keysa.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersama dengannya. Dan aku tidak mau ada yang mengaturku. Apakah kamu tidak mengerti perkataanku, hah?" Bantah Devan makin kesal.
"Baiklah Tuan Devan! Kami tidak akan menghalangi anda, jika anda lebih menginginkan dokter Rachel menjaga anda di sini," pukas dokter Keysa.
"Dokter Rachel adalah calon istriku. Aku labuh nyaman di jaga oleh calon istriku sendiri daripada orang sepertimu," sarkas Devan pada dokter yang dianggapnya seperti penjilat.
Rachel makin tidak enak dengan senior nya di rumah sakit ini. Jika tidak memikirkan nilai yang dibutuhkan dirinya, mungkin Rachel sudah ingin melabrak Devan yang dianggapnya terlalu berlebihan pada dirinya.
Lagi-lagi Rachel hanya menarik nafas dengan wajah tertunduk malu. Dokter Keysa akhirnya keluar meninggalkan Devan dan Rachel karena tidak ingin membuat Devan mengamuk pada dirinya.
Rachel mengambil ponselnya untuk mengalihkan amarahnya sambil memainkan game. Sesuatu yang tidak ia sukai untuk melakukannya namun amarahnya saat ini sudah mengubun hingga tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya pasrah. Ia hanya menunggu semua ini berakhir dengan cepat dengan begitu ia tidak akan pernah lagi berurusan dengan Devan lagi.
Devan melirik gadisnya yang masih saja cemberut dan tidak ingin menatapnya. Devan menarik nafas panjang lalu menghunuskan dengan lembut. Apapun yang ingin ia lakukan untuk bisa memiliki Rachel agar selalu berada disisinya.
"Maafkan aku Rachel! Jika cara halus tidak bisa membuatmu mengerti atas perasaanku, apa boleh buat aku harus membuat kamu mengerti dengan caraku yang sedikit kasar agar kamu akan aku miliki secepatnya. Aku janji akan membahagiakan kamu nantinya jika kita sudah menikah," batin Devan penuh harap pada Rachel.
"Ya Allah, aku tahu Devan baik. Tapi aku begitu takut bersanding dengan orang kaya seperti Devan. Dia pasti akan dibully orang gara-gara kehidupanku yang menyedihkan," batin Rachel.
__ADS_1