Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
32. Kesabaran Devan


__ADS_3

Devan rajin menemani istrinya melakukan upaya kemoterapi selama satu bulan ini namun tidak menunjukkan perubahan sama sekali. Ia akhirnya membawa Rachel ke luar negeri dengan alasan untuk bukan madu.


Jika alasannya pingin berobat, pasti Rachel akan menolaknya. Jalan satu-satunya adalah mengajak Rachel bulan madu karena sampai saat ini Devan belum menyentuh gadis ini sama sekali karena tidak memungkinkan baginya memaksa kehendaknya pada Rachel yang masih dalam kondisi sakit.


"Sayang. Kita berangkat ke Amerika ya?" pinta Devan saat sudah menyuapi makanan untuk istrinya.


"Apakah kita akan bulan madu?" tanya Rachel.


"Iya sayang. Kita kan pengantin baru. Belum merasakan indahnya surga dunia. Apakah kamu tidak ingin memberikan milikmu yang berharga itu padaku?" tanya Devan.


"Apakah harus?" goda Rachel sambil terkekeh.


"Jangan di tanya kerena itu di larang. Aku hanya ingin kamu sehat dan kita mulai beraksi," ucap Devan.


"Sekarang saja. Tidak perlu ke Amerika kalau ingin mendapat hakmu," ucap Rachel.


"Tidak sayang. Aku ingin kita melakukannya di luar negeri, siapa tahu anakku entar mirip bule," ujar Devan sambil terkekeh.


"Kita bisa melanjutkan itu lagi di Amerika. Tapi, pembukaannya tetap di sini. Lakukan sekarang! Aku takut waktuku tidak cukup untuk memberikan hakku untukmu," ujar Rachel membuat senyum Devan yang tadi mengembang berubah murung.


"Kenapa harus begitu. Jika kenikmatan yang kamu berikan terdengar semu, lupakan saja. Aku tidak ingin melakukannya. Aku tidak mau kehilanganmu karena itu sangat menyakitkan untukku, Rachel," imbuh Devan menahan tenggorokannya yang sudah tercekat karena bulir bening itu sudah naik ke permukaan tenggorokannya yang harus ia tahan agar tidak mudah tumpah dari matanya yang tajam.


"Aku akan berusaha agar tidak mudah tumbang saat kita melakukan ibadah ini. Insya Allah. Allah akan menolong kita. Apakah kamu tidak ingin mempunyai keturunan dariku?" tanya Rachel.


"Tentu saja aku ingin memiliki banyak anak darimu, Rachel. Makanya ku mohon kamu cepat sembuh. Jangan membuatku selalu kuatir hanya untuk menyentuhmu saja," ujar Devan.


"Kalau begitu, kamu bisa menikah lagi Devan. Aku mengijinkanmu," sahut Rachel.


"Tidak. Jika hanya urusan ranjang, tidak perlu menunggumu dengan susah payah karena aku bisa jajan diluar," Devan cemberut.

__ADS_1


"Kalau begitu, lakukan denganku! kita bisa melakukannya dengan pelan-pelan. Daripada tidak mencobanya sama sekali. Siapa tahu suntikan penuh cinta darimu menjadi obat mujarab untuk bisa menyembuhkan aku," imbuh Rachel.


"Apakah kamu yakin akan hal itu sayang?" Devan memastikan kesungguhan Rachel padanya.


"Insyaallah. Sebentar. Aku ingin mempersiapkan diriku dulu. Bolehkah sayang?" pinta Rachel.


"Iya sayang. Jangan lama ya. Takutnya si bird jenuh duluan kalau sudah siap terbang," ucap Devan.


"Bujuk dia, kalau dia ingin menetap di sangkar emas," canda Rachel.


Devan girang saat ini. Rachel menuju ke ruang ganti. Mengambil lengerie yang sudah ia pesan beberapa hari yang lalu saat Devan ke perusahaan.


Rachel berdandan secantik mungkin untuk menutupi wajahnya yang pucat. Setelah memastikan penampilannya, Rachel tersenyum sendiri melihat pantulan dirinya saat ini lebih dari seorang pelacur kelas atas karena sangat menggoda saat ini.


"Alhamdullilah. Semoga Devan tergoda padaku. Ya Allah kuatkan aku dan jangan pernah membuat suamiku kecewa dan kuatir keadaanku," gumam Rachel lirih.


Pintu kamar dibuka. Langkah Rachel dengan sepatu berhaq tinggi melangkah genit di depan suaminya yang sedang menatap takjub.


"Rachel...! sayang. Apakah ini kamu istriku?" tanya Devan lagi.


Kali ini berdiri mendekati Rachel. Merengkuh pinggang istrinya agar lebih merapat ke tubuhnya. Devan memagut bibirnya Rachel. Merasakan kenikmatannya sebagai salam pembuka untuk mereka. Pemanasan awal itu sudah mulai terdengar dengan decapan dan lenguhan. Tubuh indah Rachel yang sedikit agak kurus tetap terlihat seksi di mata Devan.


Sesaat kemudian, pergumulan di atas tempat tidur itu mulai memanas kini.


...----------------...


Devan senyum-senyum sendiri saat mengenang malam pertama mereka yang baru dilalui semalam. Rasanya miliknya masih terasa mengigit dengan menjebol gawang milik istrinya yang masih perawan tulen. Yah, tubuh Rachel hanya ia satu-satunya pria yang pernah menyentuh bagian tubuh Rachel.


Itulah bentuk kebanggaannya dan siap bertahan untuk gadis itu dalam keadaan apapun. Benar juga kata orang, jika mendapatkan gadis cantik dalam model apapun mungkin dia akan berani mendapatkan wanita cantik dengan uangnya, tapi apakah diantara mereka masih perawan? itu yang menjadi tanda tanya besar untuknya.

__ADS_1


Devan tidak ingin mengambil resiko untuk salah memilih teman hidup. Untuk itu setia itu penting agar hati tetap terjaga untuk mendapatkan gadis suci seperti Rachel.


"Sayang. Apakah kamu ingin kita melakukan hal yang lain saat kita ingin bulan madu?" tanya Devan.


"Maksudnya apa Devan?"


"Aku ingin kita bulan madu sambil berobat di luar negeri," ujar Devan.


"Apa rumah sakitmu tidak dapat menyembuhkan aku?" tanya Rachel.


"Bukankah kesembuhan itu milik Allah? dan kita hanya cukup ikhtiar saja?" timpal Devan.


"Bukankah peralatan medis dan kompetensi dokter di sini juga sudah teruji? kenapa harus ke tempat yang jauh kalau di sini mereka masih bisa menangani kasus penyakit aku, Devan?" bantah Rachel.


"Apakah kamu tidak ingin punya anak dariku sayang?" tanya Devan membuat Rachel terbungkam.


Deggg


Ia mengerti keinginan besar suaminya untuk memiliki momongan karena salah satu tujuan orang menikah adalah anak.


"Benar juga katamu Devan. Aku sampai tidak memikirkan hal penting itu. Aku memang pingin seorang anak. Sangat ingin sekali. Baiklah aku akan menuruti keinginanmu, aku tidak sabar hamil dari benih suamiku dan melahirkan anak kita," ucap Rachel membuat suaminya mulai terangsang.


Devan mendekati istrinya mengelus perut ramping tanpa lemak itu. Rachel terlihat gelisah. Belaian tangan kekar Devan mampu membuat darahnya berdesir.


"Aishh ..! kenapa dia sangat lihai sekali membuat aku bisa birahi seperti ini?' batin Rachel sambil mengigit sudut bibirnya membuat Devan makin tergoda.


"Baby! maukah kita mengulanginya lagi? aku masih menginginkanmu, Rachel. Tubuhmu sangat nikmat dan itu sudah membuatku candu," ucap Devan dengan suara serak lagi berat.


Walaupun sudah melakukannya, namun tubuh Rachel masih juga bergetar hebat. Bisikan nakal suaminya yang terdengar syahdu dikupingnya mampu membangkitkan syaraf-syaraf gairahnya.

__ADS_1


Devan memagut bibirnya Rachel dan keduanya mulai tenggelam dalam api kenikmatan yang sudah membakar jiwa mereka. Tanpa di sadari, tubuh keduanya sudah polos dan tangan mereka mencari sesuatu berupa benda kenyal untuk bisa saling memanjakan.


Lenguhan Rachel terdengar nyaring saat Devan mulai menghisap ujung bukitnya dengan lembut membuat mata Rachel terasa sangat berat saat ini.


__ADS_2