Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
7. Pernyataan


__ADS_3

Rio terlihat gugup saat melihat gadis cantik di depannya yang sudah membuatnya tidak bisa memejamkan matanya sampai pagi.


"Ada apa kak?" tanya gadis yang berusia 18 tahun ini.


"Aku sengaja menjemputmu berangkat ke kampus barengan. Daripada kamu terlambat dan dihukum dengan senior lain, lebih baik bareng sama aku, jadi kamu akan nyaman."


"Oh, begitu. Baiklah. lumayan, hari ini aku nggak perlu keluar uang untuk naik Go-Jek." Jawab Rachel.


"Dasar modus. Emang kamu kira aku tidak tahu akal bulusmu itu," batin Rachel.


Rachel pamit pada kedua sahabatnya itu. Mia dan Weni minta Selfi dengan Rio sebelum pria tampan itu meninggalkan unit apartemen mereka.


Sepeninggalnya Rio dan Rachel, Mia dan Weni begitu girang karena bisa foto bareng dengan artis idola mereka.


"Sepertinya Rio naksir deh sama Rachel," ucap Mia.


"Masa sih."


"Gestur cowok kalau lagi suka cewek gampang banget terbaca," timpal Mia.


"Apakah Rachel juga menyukai Rio?" tanya Weni.


"Sepertinya Rachel terlalu menutup diri dari setiap lelaki yang mendekatinya." celetuk Mia.


"Iya sih. Rachel sama kita saja terlalu introver. Dia tidak terlalu suka membahas keluarganya. Dia begitu pendiam. Tapi tidak pelit. Bahkan terlampau Sholehah. Dia tidak pernah boros, padahal uangnya banyak, tapi kalau kasih sedekah nggak kira-kira. Cowok bodoh saja yang mau mempermainkan dirinya. Semoga Rio bisa menaklukkan hatinya Rachel," ujar Mia.


Bukan hanya Mia dan Weni yang mengetahui akhlak dari sahabatnya ini, tapi seorang Devan sang pemilik perusahaan raksasa begitu kagum dengan sosok Rachel. Sudah hampir enam bulan lebih ia mengikuti ke mana Rachel pergi namun ruang geraknya terbatas karena menjaga nama baik gadis itu. Ia sering melihat Rachel yang senang sekali memberikan makanan untuk orang gila yang ia temui di jalanan bahkan memastikan orang gila itu makan dengan benar. Sekarang Devan baru mengerti mengapa Rachel begitu peduli dengan orang gila karena almarhum ibunya juga adalah wanita gila. Bahkan Rachel berencana ingin menabung uang yang banyak sebagai tempat penampungan orang gila dan ia ingin merawat mereka hingga sembuh.


Saat ini Devan merasa ada saingannya yang berani merebut wanitanya yang sudah ia incar sejak lama. Ia tidak mau menunggu lagi untuk bisa mendapatkan Rachel. Ia ingin mendapatkan Rachel dengan caranya sendiri.


Di perjalanan, Rachel dan Rio terlihat membisu. Kadang Rachel harus pura-pura tidur agar Rio tidak mengajaknya ngobrol yang akan membahas hal-hal yang menjurus ke arah mesum.


"Rachel. Apakah kamu tidur?"


"Masih ngantuk, kak."


"Jangan begitu. Aku merasa kesepian kalau kamu tidur."

__ADS_1


"Kak mau bicara apa?"


"Apakah kamu sudah punya pacar?"


"Jangan berusaha melakukan pdkt sama aku kak!"


"Emang kenapa?"


"Karena aku tidak berminat."


"Emang kamu seorang lesbian?"


"Nauzubillah min zhalik. Amit-amit deh kak, jangan nyumpahin aku kaya gitu."


"Lantas, kenapa kamu tidak mau berpacaran?"


"Karena aku belum bisa membagi cinta pertamaku dengan pria lain."


"Jadi, kamu sudah punya kekasih?"


"Iya. Dia adalah hidupku. Dia adalah cinta pertamaku. Tanpanya aku tidak akan hadir ke dunia ini. Dialah yang mengajarkan aku banyak hal. Tidak ada yang bisa mengambil aku darinya sebelum aku membahagiakan cinta pertamaku itu. Aku hanya punya dia. Aku ingin membahagiakannya sampai ia sendiri menyerahkan aku pada orang lain yang mampu menjagaku sepenuh hatinya dan menyayangi aku sama sepertinya. Aku sudah melewati banyak hal dengannya." Ucap Rachel dengan air mata yang sudah tercekat ditenggorokannya.


Rio merasa bahwa Rachel adalah gadis yang unik. Di mana, gadis seusia Rachel akan sibuk cari perhatian pria dengan penampilannya agar menjadi kekasihnya bahkan menjadikan suami nya tapi tidak dengan Rachel, cinta gadis ini begitu kuat untuk ayahnya.


"Rachel."


"Hmm!"


"Apakah kamu ingin berbakti dulu 9ada ayahmu sebelum kamu menikah?"


"Iya, kak. Jika aku punya suami, aku harus minta ijin pada suamiku untuk menemui ayahku. Karena batasan itulah yang membuat aku tidak ingin membagi cintaku dengan pria lain," ucap Rachel membuat Rio paham maksud gadis itu.


"Tapi kan, kita pacaran dulu bukan menikah."


"Siapa yang mau pacaran?"


"Ya kita."

__ADS_1


"Tidak ada pacaran di dalam kamus hidupku."


"Terus kamu mau apa?"


"Ta'aruf. Kalau cocok, menikah. Itu yang ada dalam ajaran agama Islam."


"Astaga Rachel. Repot amat Rachel." Batin Rio


Tiba di kampus, Rachel turun dari mobil Rio sambil mengendap karena takut dilihat oleh temannya yang lain. Rio mengerti akan hal itu. Dan syukurnya, mereka tidak terlambat. Rachel segera masuk ke dalam barisan dengan teman-temannya karena upacara belum dimulai.


Tapi tidak dengan teman Rio yang sudah mengetahui Rio dan Rachel datang bersama." Bro. Apakah kamu sudah tembak si Rachel?" tanya Reno.


"Ya, begitu deh," ujar Rio agar teman-temannya itu tidak menggoda Rachel, mengingat teman-temannya itu adalah anak-anak konglomerat. Rio hanya ingin melindungi Rachel walaupun cintanya sudah ditolak sebelum ia menyatakan cintanya pada gadis itu.


"Wah! selamat ya bro. Semoga lancar hubungannya. Kalau loe bosan, kasih gue saja."


"Emangnya makanan."


"Jaga dia bro! Sepertinya Rachel sangat beda dari sekian cewek yang gue temui. Karakternya begitu kuat. Dan dia terlihat sangat istimewa dari teman-temannya di ospek ini," ucap Reno.


Acara ospek kembali dibuka oleh Reno. Sementara Rio makin bertekad untuk melindungi Rachel dengan caranya sendiri sendiri dari orang-orang yang ingin mendekati Rachel walaupun gadis itu tidak menginginkan dirinya.


Berjalannya waktu, Rachel kini sudah resmi menjadi mahasiswa kedokteran fakultas UI. Rachel menekuni pendidikannya dan mulai menerima job sebagai MUA hanya Sabtu Minggu atau hari libur saja. Rachel tidak lagi terikat dengan IO wedding. Ia sudah punya langganan sendiri dari kalangan manapun karena Rachel tidak mau pilih kasih walaupun dibayar tanpa ia mematok harga untuk jasanya.


Saat ini, Rachel ditelepon seorang nyonya besar yang ingin menggunakan jasa Rachel untuk merias wajahnya. Rachel di jemput oleh sopir pribadi nyonya itu menuju rumah mewahnya. Rachel terlihat tenang karena ini bukan pertama kalinya ia masuk ke mansion mewah. Tapi kemewahan istana itu melebihi yang sudah-sudah. Sang nyonya begitu bahagia saat melihat Rachel masuk menemuinya.


"Kamu Rachel kan?" tanya nyonya Alisha.


"Iya nyonya."


"Kamu sangat cantik dan sopan. Sekarang duduklah dan ikut makan bersamaku. Tolong jangan menolak tawaranku. Ini perintah bukan permintaan," imbuh nyonya Alisha.


Tidak lama kemudian, terdengar suara derap kaki langkah dengan begitu gagahnya masuk ke rumah itu.


"Wah! Devan, kebetulan kamu datang sayang. Tolong temani mami ke pernikahan sepupu kamu Amira!"


"Pergi sendiri saja mami. Ajak siapa ke. Devan tidak mau sampai di sana, mami akan jodoh- jodohkan dengan putri teman-teman mami. Devan sudah punya cewek yang lagi Devan incar saat ini hanya saja...-" Kata-kata Devan terhenti saat melihat wajah cantik Rachel yang sedang duduk di depan ibunya.

__ADS_1


"Rachel ..!" batin Devan gugup.


__ADS_2