
Perkataan Devan barusan pada Rachel membuat Rachel meradang. Apa segitu besar rasa penasaranmu padaku hingga kamu menyelediki kehidupan pribadiku? Di mana lagi privasiku saat kamu ingin mengetahui segalanya?" kesal Rachel yang sangat tersinggung pada Devan.
Devan merasa menyesal telah mengakui kebodohannya yang terlalu ikut campur kehidupan Yura.
"Maafkan aku Yura, aku terlalu mencintaimu hingga aku ingin mengetahui segalanya tentangmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku peduli padamu. Bahwa cintaku padamu bukan berdasarkan status sosial. Aku mencintaimu. Aku akan menerimamu adanya. Aku takut kamu menolakku hanya minder dengan kehidupanmu. Aku tidak bermaksud....-"
"Stop Devan ! Jangan katakan apapun lagi. Itu sangat menyakitkan bagiku. Kehidupanku bukan suatu aib bagiku. Aku tidak mempermalukan diriku dengan menjajal kehormatanku. Aku berjuang dengan akal dan tenagaku untuk bisa bangkit dari kemiskinanku.
Aku hanya ingin membahagiakan ayahku agar dia tidak perlu lagi bekerja sebagai kuli panggul hanya untuk bertahan hidup. Mengapa aku harus minder padamu? aku tidak menerima cintamu bukan minder denganmu. Aku memang tidak ingin mencintai Dan di cintai. Aku hanya ingin membahagiakan ayahku. Aku tidak ingin membagikan cinta yang aku miliki untuknya dengan pria lain.
Jadi, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang penolakan ku. Dan satu lagi, jika kamu sudah mengetahui semuanya tentang hidupku, bersikaplah seolah kamu tidak mengetahui apapun tentu ku dengan begitu kamu bisa menjaga lisanmu agar hati-hati bersikap kepada orang lain walaupun niatmu tidak buruk. Sekarang, tolong antarkan aku pulang!" Ucap Rachel dengan nafas memburu.
"Baik."
Hati Devan serasa tertampar saat ini. Kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan dirinya yang membuat Rachel menjadi murka padanya. Rasa penyesalan yang di rasakannya saat membuat tubuhnya meremang hingga darahnya berdesir mengalir lebih cepat ke otaknya hingga wajahnya memerah menahan malu pada Rachel.
Seorang Devan yang selama ini begitu angkuh pada wanita harus bertekuk lutut pada pesona Rachel yang bukan berasal dari kalangan kelas sosial atas.
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam tanpa ingin berkata. Mungkin yang terdengar saat ini hanya helaan nafas panjang mereka sesekali seakan ingin melepaskan beban tapi tidak bisa.
Setibanya di depan lobi apartemen, Rachel turun hanya dengan mengucapkan terimakasih. Devan merasa usahanya untuk mendekati Yura gagal total malam ini hanya karena lidahnya yang keseleo menyinggung perasaan Rachel yang notabene memiliki seorang ibu yang gila.
"Terimakasih Devan. Aku harap anda menjauhi hidupku dan berhenti mengawasiku atau aku akan membencimu." Ucap Rachel lalu menutup pintu itu seraya memberikan salam.
Devan seolah kehabisan kata dan kehilangan keberanian untuk menghadapi seorang Rachel. Karakter gadis ini yang membuat Devan tertantang untuk mendapatkan Rachel.
__ADS_1
Selama gadis-gadis cantik mengejarnya dengan menggunakan cara apapun tapi Rachel lebih memilih menarik diri dari dunia gemerlap ibu kota dengan para pria yang ingin mendapatkannya dengan mudah tentu saja yang mereka bisa berikan kekayaan yang mereka punya tapi seorang Rachel tidak membutuhkan itu semua. Rachel memang miskin harta. Tapi, Rachel lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang yang mengerti akan jiwanya. Mungkin itu yang ingin diberikan Devan hanya saja salah penempatan menghadapi Rachel.
Rachel masuk ke lift dengan wajahnya terlihat sedih hingga masuk ke unit apartemen miliknya. Dua orang sahabatnya sudah berada di kamar mereka masing-masing tentunya sibuk dengan urusan pribadi mereka.
Rachel menghempaskan tubuhnya ke ke kasur merenungi perkataan Devan yang masih terngiang dibenaknya kini.
...----------------...
Berjalannya waktu, kini Rachel sudah magang di salah satu rumah sakit mewah yang ada di Jakarta. Sialnya, rumah sakit itu ternyata milik Devan. Sejak berdebat dengan Rachel beberapa tahun lalu, Devan tidak pernah lagi melakukan pengintaian seperti biasanya karena ia tidak ingin mendapatkan kebencian dari Rachel.
Ia fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan apapun yang berhubungan dengan Rachel. Tapi do saat dirinya tidak ingin masuk lagi ke dalam hidup Rachel , justru gadis itu masuk sendiri dalam hidupnya.
Sebagai dokter magang, Rachel melayani pasien atau membantu dokter jaga. Seperti malam itu, beberapa orang dokter terlihat panik saat mendapat kabar kalau Devan mengalami kecelakaan mobil di luar kota dan di angkut dengan helikopter.
Dokter Cindy mengajak Rachel untuk menjemput pasien ke atas gedung di mana helikopter Devan berada.
"Masalahnya pasien yang kecelakaan itu adalah pemilik rumah sakit ini." Ucap dokter Cindy.
"Apakah dia orangnya sangat arogan?"
"Bukan arogan lagi tapi, lebih kepada malaikat pencabut nyawa." Ucap dokter Cindy.
Hampir saja Rachel ingin tertawa namun ia begitu segan karena suasana terasa sangat genting. Saat barisan dokter dan suster yang ada di garda depan menyambut kedatangan helikopter, yang sedang menurunkan tubuh Devan yang akan diletakkan di atas brangkar, Rachel terlihat syok menatap wajah tampan Devan yang juga terluka.
Devan juga menatapnya juga ikut syok, melihat wajah cantik yang selama ini tidak pernah ia temui berada di hadapannya dengan jas putihnya terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Leher Devan yang dipasang dengan alat penyangga dengan selang oksigen di pasang di hidungnya. Karena Rachel berjalan di sisinya, membuat Devan meraih tangan Rachel untuk digenggamnya.
Rachel begitu takut ketahuan oleh dokter lain ingin melepaskan genggaman tangan Devan , namun Devan mengeratkan genggamannya.
"Tetaplah di sisiku Rachel , jangan tinggalkan aku!" pinta Devan lirih saat Devan sudah berada di ruang IGD.
Para tim dokter menoleh ke arah Rachel yang terlihat panik sendiri melihat perlakuan Devan padanya.
"Maaf Tuan. Mohon lepaskan tangan saya! Anda akan segera ditangani." pinta Rachel gugup.
"Tidak. Aku ingin kamu yang menangani ku. Aku tidak butuh dokter lain. Aku celaka juga karena mu karena aku merasa sangat bersalah kepadamu. Aku sangat mencintaimu Rachel. Jangan pergi Rachel, please!"
"Sikapmu seperti ini membuat aku membencimu. Aku tidak tahu kalau pemilik rumah yang mengalami kecelakaan itu adalah kamu. Dan sekarang kamu ingin menunjukkan sikap otoriter mu di depan rekan dokter ku. Apa lagi aku di sini hanya dokter magang." Ucap Rachel dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan penolakan Rachel , membuat Devan mengalami serangan jantung. Dokter Cindy terlihat sangat kecewa pada Rachel yang tidak bisa bersikap profesional. Sementara direktur utama rumah sakit itu langsung memanggil Rachel.
"Ikuti aku dokter Rachel!"
"Baik dokter!"
"Apakah kamu tidak bisa bersikap profesional sedikit saja saat menghadapi pasien? terlepas ada hubungan apa kamu dengan tuan Devan, kami tidak peduli. Tapi jagalah sikapmu saat pasien hanya membutuhkan kamu untuk tetap disisinya dan tidak perlu menolak tegas seperti itu. Apakah kamu mengerti?"
"Baik dokter Zein."
"Aku tidak akan mengeluarkan nilai magang kamu, jika kamu tidak memperlakukan tuan Devan dengan baik." Ancam dokter Zein.
__ADS_1
"