
Rachel yang keras kepala mempertahankan janinnya dan menolak segala bentuk kemoterapi dan obat untuk memperlambat penyebaran sel kankernya, membuat Devan juga tidak tega pada Rachel.
Ia kembalikan semuanya kepada Allah dan memilih untuk pulang ke tanah air. Apa lagi Rachel sedang ngidam dan ingin makan makanan Indonesia sementara sulit sekali di temukan di Amerika.
Rachel yang sedang membaca buku, di peluk oleh Devan dari balik punggung saat duduk di ruang tamu.
"Sayang. Bagaimana kalau besok kita balik ke tanah air?" tanya Devan.
"Ok. Itu sangat menyenangkan, sayang. Kalau bisa pulang sekarang saja," pinta Rachel.
"Kita habiskan malam ini dengan bercinta sayang," ucap Rachel.
"Ok. Siapa takut," Rachel mengecup bibir suaminya. Devan menggendong istrinya membawanya ke dalam kamar mereka.
Tubuh itu direbahkan dengan perlahan. Rachel menerima setiap cumbuan suaminya penuh cinta. Tidak ada rasa kesakitan di sana. Lagi pula Devan memperlakukannya dengan lembut. Tidak terburu-buru apa lagi kasar. Posisi bercinta selalu dipikirkan Devan untuk membuat istrinya nyaman. Yah, semuanya atas penuh cinta.
__ADS_1
Keesokan harinya, sesuai janji Devan, mereka kembali ke Indonesia dengan jet pribadi milik Devan. Devan sengaja memilih perjalanan malam hari agar Rachel bisa istirahat.
"Apa kamu senang sayang?" tanya saat pesawat memasuki landasan pacu.
"Aku kangen dengan alam Indonesia. Aroma kamarku dan pelukan hangat ibu. Walaupun ayah sudah pulang ke kampungnya, nanti aku bisa ketemu ayah saat baby sudah lahir. Semoga dia baik-baik saja di dalam sana," ucap Rachel sambil mengusap perutnya yang saat ini sudah berusia tiga empat bulan.
"Makanan apa yang kamu ingin makan ketika kita baru tiba di Jakarta?" tanya Devan.
"Aku ingin rujak buah dan empek-empek Palembang.
"Baiklah. Nanti Revo yang akan siapkan untuk kamu," ucap Devan.
"Begitukah? justru daging gepuk buatanmu yang paling enak menurutku," balas Devan.
"Tapi dedenya pingin makan makanan makanan buatan Mia. Iyakan sayang?" tanya Rachel sambil mengusap perutnya membuat Devan terkekeh.
__ADS_1
"Ihhh .. takut banget kalau tidak di kabulkan sama papanya," canda Devan sambil mencolek hidung Istrinya gemas.
"Nanti tiba di Jakarta, aku masih boleh masak nggak?" tanya Rachel membuat Devan menarik nafasnya berat.
"Boleh. Tapi jangan terlalu berlebihan jika sudah capek. Nanti yang menyiapkan semua bahan masakan pelayan. Kamu cukup mengolahnya dan masaknya jangan terlalu membutuhkan durasi waktu yang lama. Cukup yang cepat matang saja," ucap Devan.
"Siap hubby!" canda Rachel.
"Sekarang istirahatlah. Nanti tiba di Jakarta, aku akan membangun mu," pinta Devan.
" Bagaimana kalau kita mampir ke Jedah Devan?" tanya Rachel membuat Devan bingung.
"Untuk apa ke sana Rachel?"
"Aku ingin umroh Devan. Aku ingin berdoa di depan Ka'bah untuk kesepakatan aku dan calon bayi kita baby," pinta Rachel.
__ADS_1
"Rachel. Kamu sedang hamil dan keadaan kamu tidak memungkinkan untuk umroh. Ibadah butuh tenaga karena fisiknya harus kuat. Jika kamu kelelahan akan berpengaruh pada kandunganmu," ucap Devan.
"Kata orang. Jika kita melakukan ibadah karena Allah, insya Allah kita akan dipermudah segala sesuatunya. Siapa tahu ada keajaiban yang Allah akan berikan kepada kita asalkan kita yakin Devan," pintu Rachel membuat Devan makin frustasi.