
Hari itu, Rachel sedang merias seorang pengantin yang tidak lain adalah putrinya bupati di kotanya itu. Ibu bupati sengaja memilih Rachel sebagai MUA untuk putrinya Alekha.
Begitu juga dengan Alekha yang merasa sangat bangga dirias oleh Rachel." Aduh kapan lagi bisa dirias oleh kak Rachel yang super sibuk ini," ucap Alekha saat Rachel mulai dengan alat tempur riasnya untuk menyulap wajah gadis ini agar lebih cantik lagi.
"Justru aku yang bangga Alekha bisa merias kamu," ucap Rachel merendah.
"Kak Rachel selalu saja merendah, padahal sudah merias banyak orang hebat. Oh iya, kapan kak Rachel menikah dengan tuan Devan?" tanya Alekha penasaran.
"Belum tahu dek. Belum ada pembicaraan serius mengenai hubungan kami," jawab Rachel.
"Tapi di artikel yang aku baca, pernikahan kakak akan digelar bulan depan," ucap Alekha membuat Rachel tersentak.
__ADS_1
"Ah, itu hanya bisa-bisanya wartawan dek," ucap Rachel.
"Bukan tulisan wartawan kakak, tapi pernyataan kak Devan sendiri yang ingin menikahi tunangan tercinta Rachel," ucap Alekha.
"Tidak usah didengarin ocehan orang nggak jelas. Aku akan percaya kalau dia datang sendiri melamar kepada ayahku. Cuma mengumbar di media saja, rasanya belum yakin akunya. Lagipula aku ini siapa? tingkat sosialku saja masih dibawah standar. Bahkan tidak layak bersanding dengan orang hebat seperti tuan Devan," ucap Rachel.
"Kak Rachel. Cinta itu tidak perlu ada kompromi dengan status sosial. Bahkan tidak melihat akhlak pemiliknya. Makanya banyak yang menikah dengan si Upik abu. Bekum lagi penjahat mafia dengan gadis Sholehah.
Dan masih banyak lagi cinta tidak masuk akal dari pemilik cinta itu sendiri. Yang nenek-nenek bisa dapat pemuda tampan dan kakek-kakek bisa dapat gadis muda yang lebih pantas jadi cucunya," ucap Alekha dan keduanya terkekeh.
Beberapa menit kemudian, sang pengantin sudah tampil sempurna. Rachel membidikkan kameranya untuk di simpan di IG miliknya. Keduanya Selfi bersama.
__ADS_1
"Kak Rachel temanin aku ya saat nanti menemui calon suamiku," ucap Alekha.
Rachel melihat ke arah ibu bupati, nyonya Mardia. Nyonya Mardia mengangguk setuju karena putrinya sudah meminta itu dari semalam kalau saat dirinya ingin menemui calon pengantin pria, ia ingin ditemani Rachel agar tamu undangan bisa melihat mereka berdua.
"Rachel. Tolong lakukan untuk putriku di hari bahagianya. Dia akan merasa bangga karena kamu bisa mendampinginya di momen sakral ini," ucap Nyonya Mardia.
"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku merapikan dulu penampilanku," ucap Rachel.
Tidak berselang lama, kedua gadis cantik ini menemui calon pengantin menuju tempat pak penghulu. Saat keduanya berjalan berdampingan, baik fotografer maupun kamera ponsel milik para tamu undangan siap membidik keduanya.
Ditambah mereka melihat siapa gadis yang berjalan di sebelah putri bupati itu, animo mereka makin melejit dan langsung memanggil nama Rachel dengan suara lirih.
__ADS_1
"Masya Allah. Cantiknya mbak Rachel," puji mereka tanpa henti hingga mengalahkan sang pengantin wanitanya yang juga sangat cantik.
Walaupun pujian itu terdengar sayup-sayup oleh Alekha, tidak membuat gadis yang selisih usia dua tahun dengan Rachel ini tidak marah sedikitpun karena itu adalah bagian terindahnya 6 ia harapkan.