Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
46. Persiapan Melahirkan


__ADS_3

Devan dan keluarganya merasa sangat lega saat melihat perkembangan kesehatan Rachel mulai membaik. Rachel terbebas dari kanker hingga ke akar-akarnya. Wajah Devan lebih cerah lagi melihat perut Rachel yang makin membesar dengan tubuhnya yang sedikit gempal. Pipinya yang chuby dengan bokong bulat yang makin montok di dukung dada sekang padat berisi makin membuatnya terlihat bahenol.


Devan sangat senang melihat perubahan itu. Kadang ia selalu menggoda Rachel dengan iseng meremas bokong bulat itu saat gadis ini sedang melakukan aktivitas ringan seperti jalan pagi yang kerap dilakukan gadis itu usai sholat subuh di sekitar taman mansion. Apa lagi kakinya dibiarkan telanjang menapaki rerumputan halus yang dibasahi embun pagi.


Keduanya sempat berhenti saat melihat pohon tomat dengan buah yang sangat lebat. Buah tomat beef yang menjadi perhatian Rachel. Ia mengulurkan tangannya membelai setiap buah tomat itu. Tomat hasil tanaman yang ditanam ayahnya dan juga ibu mertuanya. Walaupun masih ada tanaman lainnya yang sedang berbuah, tapi Rachel lebih senang dengan buah tomat beef.


"Apakah kamu ingin memetiknya, baby?" tawar Devan.


"Tidak ada keranjang di sini. Aku ingin membuat sendiri jus tomat untuk baby-nya. Biar nanti kesehatan matanya bagus," ucap Rachel memberi alasan.


"Kalau begitu tunggu sebentar di sini, sayang! Aku akan mengambil keranjang untukmu," Devan berlari ke dapur disongsong pelayan yang menanyakan keperluannya.

__ADS_1


"Apa tuan butuh sesuatu?' tanya pelayan Eli.


"Iya bibi, tolong ambilkan saya keranjang buah!" pinta Devan.


"Baik tuan. Tunggu sebentar!" Eli ke dalam dapur mengambil keranjang buah yang terbuat dari rotan.


Devan kembali lagi ke kebun sayur menemui istrinya yang sedang makan buah jambu air duduk di taman itu dan Rachel terlihat sangat cantik dengan pose duduk dengan kaki terulur ke depan sedikit bersandar di sandaran lengan sofa panjang itu. Devan secara diam-diam memotret istrinya yang saat ini mengusap perut buncitnya sambil tersenyum.


"Cih...! dia semakin cantik saat ini!" puji Devan lalu melanjutkan lagi langkahnya membawa keranjang buah untuk Rachel.


"Biar aku sendiri yang pegang dulu. Nanti kalau sudah berat, kamu boleh membantuku," ungkap Rachel.

__ADS_1


"Baiklah." Devan menuruti permintaan istrinya dan duduk di bangku panjang itu sambil merekam kegiatan istrinya memetik buah tomat Deng gunting khusus untuk memetik buah yang ada di taman itu.


Sekitar setengah keranjang tomat dan kini Rachel beralih mencabut sayuran kangkung dan bayam untuk di masaknya pagi ini dan beberapa jenis cabai yang ia petik. Ada juga paprika dengan tiga warna berbeda yang menjadi incarannya.


"Ayo Devan! kita pulang. Aku mau masak dan buat jus tomat," ajak Rachel.


Devan mengambil keranjang hasil panen istrinya." Apakah kamu masih bisa masak dengan perut sebesar itu sayang?" tanya Devan ragu.


"Di desaku, wanita hamil tua tidak boleh dimanjakan dari aktivitas yang satu itu. Badannya harus tetap bergerak agar proses persalinan secara normal akan di permudahkan Allah dengan dua rajin bekerja," ujar Rachel.


"Tapi, kamu tidak bisa melakukan persalinan secara normal Rachel karena kondisimu tidak mengijinkan kamu untuk persalinan secara normal. Kamu tetap melakukan operasi sesar," ucap Devan memberi alasan.

__ADS_1


"Tidak mau. Aku mau melahirkan putra pertamaku dengan normal. Jangan memaksaku, Devan!" pukas Rachel sambil berlalu meninggalkan Devan yang hanya bisa bengong menatap bokong istrinya yang terlihat lucu dan menggoda.


"Hahh ..?"


__ADS_2