Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
47. Lega


__ADS_3

Persalinan normal nekat dilakukan Rachel yang membuat para tim dokter cukup menegangkan membantu gadis ini melahirkan bayi pertamanya. Wajah Devan seakan kaku dengan mulut terbungkam dan air mata terurai tanpa diminta. Bagaimana tidak, nafas Rachel yang pendek seakan terus memaksa untuk mengejan beberapa kali oleh dokter namun selalu gagal karena Rachel selalu berhenti di tengah jalan dan hampir kehilangan tenaganya karena sudah kelelahan.


"Nona Rachel. Bayimu sudah hampir kelihatan di jalur lahir. Tolong jangan berhenti karena dia akan kehilangan oksigen. Dan itu tidak baik untuknya. Bayimu bisa meninggal. Apakah kamu tidak mau menyelamatkannya?" desak dokter Niar karena sudah ketakutan.


Mendengar ucapan dokter yang menakutkan pasangan suami-istri ini, Devan hanya bisa memberikan semangat kepada istrinya tanpa bisa bicara lagi.


"Insya Allah. Aku bisa. Ya Allah tolong aku!" lirih Rachel meminta kekuatan dari Allah karena dia yang meminta untuk melakukan persalinan normal.


"Kita harus cepat atau perjuangan kamu selama sembilan bulan ini akan berakhir sia-sia," desis dokter Niar.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahuakbar...!" pekik Rachel lalu mengejan sekuat mungkin dengan tenaganya yang tersisa dan itu berhasil mengeluarkan bayinya yang langsung menangis keras membuat Devan langsung pingsan karena melihat leher Rachel langsung terkulai lemas.

__ADS_1


Dokter dan suster harus mengurus keduanya. Mengangkat tubuh Devan lalu memindahkan ke brangkar. Dokter Kayla membantu menyadarkan Devan dan dokter Niar mengurus bayi Rachel terlebih dahulu sebelum mengurus Rachel.


"Bayi laki-laki. Panjang badan 52cm. Berat badan 3.5kg," ucap dokter Niar seraya memberikan bayi itu pada suster untuk dibersihkan usai memotong tali pusarnya.


"Alhamdullilah ya Allah. Akhirnya bayinya selamat," ucap Dokter Sella.


"Sekarang kita hanya mengurus ibunya. Semoga semuanya baik-baik saja," harap dokter Niar sambil menekan rasa takutnya jika Rachel bisa meninggal saat ini juga karena pendarahan akut.


"Kita harus menghargai pilihannya. Walaupun pada akhirnya kita yang akan menanggung akibatnya dari kenekatan istrinya si bos," ungkap dokter Niar sambil melakukan bantuan memompa jantung Rachel yang saat ini terhenti.


Setelah beberapa saat kemudian, jantung Rachel mulai kembali berdetak. Dokter Niar hanya bisa menangis haru walaupun Rachel belum siuman seratus persen setidaknya gadis ini bisa melewati masa kritisnya.

__ADS_1


"Alhamdullilah. Tugas kita selesai. Kita akan pindahkan pasien ke ruang rawat inap," ujar dokter Niar.


"Apakah suaminya juga dipindahkan ke ruangan yang sama dokter?" tanya suster Lana.


"Iya. Satukan saja keduanya. Jika tuan Devan nanti siuman, ia bisa melihat langsung istrinya yang ada di sampingnya. Itu akan memudahkan kita mengawasi keduanya. Baiklah. Sementara kalian mengurusi pasangan suami-istri ini, saya akan menemui nyonya besar dulu untuk mengabari keadaan cucu pertamanya," ucap dokter Niar sambil berlalu dari hadapan teman-temannya.


Pintu dibuka oleh dokter Niar. Dokter muda dan cantik ini menyunggingkan senyumnya yang sangat manis saat bicara pada nyonya Alisha dan pak Lukman.


"Alhamdullilah. Nyonya Alisha dan tuan Lukman. Nona Rachel berhasil melahirkan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki," ucap dokter Niar di sambut haru oleh nyonya Alisha dan pak Lukman.


"Alhamdullilah pak Lukman. Akhirnya kita punya cucu. Lalu bagaimana dengan kondisi ibunya dokter Niar?" tanya nyonya Alisha.

__ADS_1


__ADS_2