
Setelah mengetahui jika putrinya dalam keadaan sakrat, pak Lukman segera terbang ke Jakarta yang langsung di jemput Deni. Pak Lukman sudah mengetahui cerita sebenarnya dari nyonya Alisha kalau Rachel bisa selamat jika pak Lukman siap melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang pada putrinya.
Pak Lukman sudah bertekad untuk memikirkan nasib putrinya jika ia harus bertarung nyawa demi kesembuhan putrinya." Jika ini satu-satunya jalan terbaik untuk Rachel, aku rela meninggalkan dunia ini demi putriku," batin pak Lukman terlihat ikhlas.
Setibanya di bandara, pak langsung dibawa ke rumah sakit untuk melakukan sejumlah tes dan memastikan keadaannya terlebih dahulu apakah pak Lukman layak menjalani pencangkokan sumsum tulang belakang atau tidak.
"Apakah bapak siap untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang untuk putri bapak?" tanya dokter Risna.
"Insya Allah saya siap dokter. Apakah saya boleh melihat putri kesayanganku?" tanya pak Lukman.
"Silahkan pak. Nona Rachel di ruang ICU khusus untuk putri bapak sendiri karena tuan Devan tidak ingin istrinya bercampur dengan pasien lain," ujar dokter Risna.
__ADS_1
"Terimakasih dokter sudah melakukan yang terbaik untuk putri saya dalam merawatnya," ucap pak Lukman penuh kerendahan hati.
Sebagai seorang putri, dokter Risna sangat terenyuh melihat ketulusan cinta seorang ayah pada anaknya, apa saja demi kesembuhan putrinya.
"Ya Allah. Seperti inikah perjuangan seorang ayah mencintai anaknya. Di usia senjanya ia seharusnya menikmati masa tuanya dengan bahagia, tapi ia rela menukar nyawanya demi anaknya dan juga cucunya," lirih dokter Risna saat melihat pak Lukman menemui putrinya yang tergolek lemah tak berdaya di ruang ICU dengan perut yang sudah membesar. Tuan Devan yang melihat dokter Risna sedang menunggu di depan kamar istrinya sambil menangis membuat jantungnya seakan mau berhenti saat ini.
"Ada apa dengan dokter itu? mengapa dia menangis' di depan pintu kamar istriku? apakah Rachel ....! Oh tidak. Ya Allah. Tolong jangan ambil istriku!" gumam Devan terlihat frustasi sambil melangkah cepat menghampiri dokter Risna.
"Dokter Risna! Apa yang terjadi pada Rachel?" tanya Devan dengan wajah panik.
Devan segera mengintip ke dalam melalui kaca pintu dan terlihat mertuanya sedang bicara dengan Rachel sambil menangis.
__ADS_1
"Ayah...!" gumam Devan lirih.
"Sebaiknya tinggalkan mereka berdua tuan karena tuan Lukman harus bicara banyak pada istri anda sebelum melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang," ucap dokter Risna membuat Devan tersentak.
"Siapa yang meminta mertuaku melakukan itu, dokter?" tanya Devan heran.
"Lho...! bukankah tuan yang membawa pak Lukman ke Jakarta karena melakukan pencangkokan sum-sum tulang belakang untuk nona Rachel?" tanya dokter Risna.
Devan menggeleng dengan wajah termangu." Bukan saya dokter. Saya justru tidak sanggup menyampaikan berita itu walaupun hati saya menginginkannya," ujar Devan.
"Lantas siapa tuan? Saya tadi melihat pak Lukman justru diantar oleh asisten anda pak Deni saat melakukan tes kesehatan beliau menjelang pencangkokan sumsum tulang belakang yang akan dilakukan besok," ucap dokter Risna.
__ADS_1
Devan makin geram mendengar penjelasan dokter Risna. Ia hanya tahu satu nama yaitu ibu kandungnya sendiri." ini pasti perbuatan mami. Ia sendiri yang menyuruh Deni menjemput ayah mertuaku ke Jakarta," batin Devan.
Devan mengambil ponselnya lalu menghubungi asistennya Deni. Ia ingin memastikan sendiri bahwa kecurigaannya pada ibunya adalah benar.