Ayah, Aku Ingin Pulang

Ayah, Aku Ingin Pulang
17. Syok


__ADS_3

Tepuk tangan para tamu undangan membahana saat Devan dan Rachel resmi menjadi sepasang tunangan malam itu. Nyonya Alisa sangat gembira karena mendapatkan calon menantu seperti Rachel. Para kolega dan relasi perusahaan Devan memberikan selamat pada pasangan itu.


Sekretaris Melisa yang sedang membuat jebakan untuk Rachel tersenyum penuh kemenangan. Ia ingin melihat wajah cantik Rachel yang sedang tersenyum bahagia dan akan berganti syok.


"Tersenyumlah Rachel karena sesaat lagi kau akan merasakan sakit yang luar biasa yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan seumur hidupmu," gumam sekertaris Melisa sambil meneguk wine.


Tidak lama kemudian tayangan layar monitor didepan mereka di tayangkan. Kali ini Melisa mempermalukan Rachel dengan mengumumkan latar belakang keluarga Rachel.


"Selamat tuan Devan dan nona Rachel. Nona Rachel, aku punya kejutan untukmu. Lihatlah di layar monitor ini! Apakah nyonya Alisa masih bangga memiliki calon menantu sepertimu yang memiliki latar belakang keluarga di mana mendiang ibumu adalah seorang wanita gila?" ucap sekertaris Melisa memperlihatkan foto-foto wajah ibu Rachel yang sedang berjalan di pasar di mana tubuhnya di lempar batu oleh anak-anak kecil, bahkan ibunya memungut buah mangga yang setengahnya sudah busuk lalu di makannya.


Raut wajah Rachel seketika mengeras. Ia bukan malu karena memiliki seorang ibu yang gila atau gangguan mental. Ia menangis karena hatinya sangat merindukan sosok Ibu yang selalu ia rawat seperti anaknya sendiri. Sosok ibu yang seharusnya menjadi tempat ia mengharapkan kasih sayang penuh cinta yang tak pernah bisa ia dapatkan setelah usianya dua tahun.


Devan ingin menghampiri sekertaris Melisa yang sangat nekat mempermalukan tunangannya Rachel. Ia ingin melabrak wanita sialan itu namun tangannya ditahan oleh Rachel yang menggelengkan kepalanya.


"Jangan mempermalukan dirimu hanya ingin membelaku di hadapan para tamu terhormat di momen berharga ini. Ijinkan aku menyelesaikan dengan caraku sendiri!" Pinta Rachel bijaksana membuat nyonya Alisa menganggukkan kepalanya pada putranya yang tidak ingin membuat Rachel terluka.


Rachel mengambil mikrofon dari tangan MC. Ia lalu menghampiri sekertaris Melisa dengan tatapan teduh dan itu mampu membuat hati Melisa membeku.

__ADS_1


"Terimakasih sekertaris Melisa karena kamu sudah mewakili aku membuka jati diriku dari keluarga kecil yang tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan pada calon suamiku apalagi calon mertuaku, mami Alisa.


Aku memang lahir dari seorang ibu yang sangat istimewa buatku apalagi ayahku yang tidak bisa kudapatkan pria hebat seperti dirinya. Aku pun tidak bisa memilih menjadi putri mereka karena aku hadir ke bumi karena atas kehendak Allah. Jadi, di mana letak kesalahanku untuk memiliki mereka? bukankah orangtuaku menghadirkan aku melalui pernikahan sah bukan anak hasil zinah.


Hanya saja malang tak dapat aku hindari setelah usiaku dua tahun ibuku mulai mengalami gangguan mental entah apa penyebabnya. Walaupun begitu, ayahku sangat setia merawatnya menyiapkan kebutuhan ibuku dan tidak sedikitpun dia berpaling, apakah ada pria yang memiliki hati yang cukup lapang mendapati istrinya gila yang tidak bisa memenuhi kebutuhan syahwatnya? adakah di sini pria yang sangat setia seperti ayahku? bahkan ayahku rela bekerja serabutan demi menghidupi aku dan ibuku entah jadi kuli panggul atau apa saja yang penting ia bisa membawa uang yang tidak seberapa dan itu adalah uang halal yang ia dapatkan untuk kami.


Pantang bagi ayahku untuk meminta atau mengemis karena harga dirinya lebih tinggi karena ia yakin Allah sudah menentukan takdir kami seperti itu. Apakah itu sebuah dosa, Melisa?" dan aku dengan kemiskinanku berjuang keras hanya untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus menjual tubuhku atau merayu pria kaya seperti tuan Devan untuk menjadi milikku.


Dan tanyakan kepadanya, apakah aku yang mendesaknya untuk menikahiku atau mengadakan acara pertunangan ini? apakah aku terlalu egois kalau aku juga mencintai Devan?" tanya Rachel sambil menahan tangisnya dengan bibir gemetar karena luapan emosionalnya saat mengungkapkan latar belakang hidupnya.


Nyonya Alisa begitu bangga pada calon menantunya itu. Begitu pula sahabat dekat Rachel yaitu Mia dan Weni yang sudah menangis Bombay malam itu hingga mereka tidak memperhatikan lagi maskara mereka pakai jadi luntur akibat air mata. Artis Rio dan juga rekan seprofesinya yang sangat mengenal Rachel terharu melihat keberanian Rachel yang begitu bangga memiliki kedua orangtuanya.


"Ayo sayang, kita pulang!" ucap Devan yang sudah tidak respek lagi dengan acara itu. Nyonya Alisa langsung menggantikan putranya untuk melanjutkan acara tersebut.


"Mami. Aku mohon maaf sudah membuat mami malu karena memiliki calon...-"


"Ssssttt..! jangan katakan apapun sayang. Justru mami makin mencintaimu karena kamu sangat berani menggambarkan nilai berharga sebuah keluarga. Itu yang sudah tidak ada lagi dalam diri gadis seusiamu yang selalu menutupi latar belakang kehidupan keluarganya," puji nyonya Alisa lalu memeluk Rachel sambil mengusap kepala gadis itu yang merasa terenyuh mendapatkan perlakuan hangat dari calon mertuanya.

__ADS_1


"Terimakasih mami karena mau menerima keadaanku yang tidak punya apa-apa selain kehormatanku yang masih bisa aku banggakan dihadapanmu, mami," imbuh Rachel sambil menyeka air matanya.


Devan merangkul kedua wanita yang sangat dicintai itu dalam hidupnya. Hanya keridhoan ibunya yang Devan butuhkan saat ini untuk merestui hubungannya dengan kekasihnya Rachel.


"Terimakasih mami, sudah menerima Rachel sebagai menantu mami," ucap Devan.


"Kamu sangat jenius memilih calon istri, Devan. Bagi mami Rachel adalah paket komplit untuk menjadi menantu idaman. Lebih dari itu mami tidak butuh apa-apa lagi karena apa yang dimiliki oleh Rachel sudah mami temukan," ucap nyonya Alisa membuat Rachel makin meraung karena tidak dapat menahan luapan harunya.


Devan membawa Rachel pulang diikuti oleh kedua sahabatnya Rachel, Mia dan Weni. Rasanya malam ini sangat lega untuk mereka. Awalnya yang menggembirakan lalu ditengah menegangkan dan pada akhirnya kebahagiaan yang mereka dapatkan.


"Dasar gadis bodoh! apakah dengan caramu yang kampunganmu itu bisa membuat Rachel jatuh terpuruk dan berlari keluar karena dipermalukan olehmu, hah? justru dua tampil berani mengangkat kepalanya dengan bangga memperkenalkan kehidupannya yang papah hingga mengundang decak kagum dari para tamu undangan dengan penuh rasa empati termasuk nyonya Alisa," ucap Deni sarkas membuat sekertaris Melisa hanya mengigit bibir bawahnya sambil merematkan kedua tangannya.


"Boro-boro mau menjatuhkan lawan dengan hinaan yang ia tampilkan untuk mempermalukan Rachel, justru dirinya sendiri sedang berada di ambang tiang gantungan.


"Mulai detik ini juga, kamu saya pecat!" hardik Deni membuat mulut Rachel terbuka dengan wajah tercengang.


"Hahhh...?"

__ADS_1


__ADS_2