
Keadaan Rachel tampak baik-baik saja usai keduanya melewati malam pertama mereka. Devan terlihat sangat bahagia karena kekuatirannya yang akan menyakiti Rachel jika memaksakan kehendaknya tidak terbukti. Rachel akhirnya bisa melakukan kewajibannya sebagai istri untuk melayani kebutuhan suaminya. Kepuasan batinnya sangat terasa puas bahkan melebihi ekspektasi sebagai pengantin baru.
"Kamu sakit saja sudah membuat aku sangat mabuk sampai saat ini dan ingin menagih lagi karena milikmu membuat pekerjaanku seakan tidak juga usai karena dipikirkanku hanya ada dirimu," gumam Devan sambil mengetik sesuatu di laptop miliknya.
Deni yang baru masuk ke ruang kerja bosnya, memperhatikan raut wajah cerah dengan aura ketampanan yang lebih tampan dan segar daripada sebelumnya.
"Sepertinya pengantin baru, baru belah duren nih," goda Deni.
"Emangnya kelihatan sekali ya aku bahagianya?" tanya Devan.
"Iya bos. Kelihatan lebih tampan dan segar. Apakah sangat nikmat?" pancing Deni.
"Menikahlah! maka kamu akan mengetahuinya sendiri karena kata saja tidak cukup untuk menjelaskannya padamu," ucap Devan sambil senyum-senyum pada Deni.
"Aku bingung bos. Masalahnya saat ini aku lagi naksir dua gadis sekalian," ucap Deni.
"Serakah sekali kamu Deni. Tidak mungkin kamu menikahi dua orang sekalian. Emang siapa gadis yang kamu sukai itu?" tanya Devan.
"Kedua sahabatnya istrimu, Weni dan Mia," ujar Deni.
"What...? apakah kamu sudah gila hingga meraup semuanya? persahabatan mereka akan renggang gara-gara kamu, Deni," oceh Devan.
"Ambil salah satu dari mereka! kalau istriku tahu kamu membuat keputusan yang salah, ia akan kepikiran karena kamu menghancurkan persahabatan Mia dan Weni," titah Devan.
"Menurut bos, siapa diantara mereka yang lebih cocok untukku?" tanya Deni.
"Dari segi fisik dan wajah, jelas Weni. Dari segi akhlak dan cerdas, tentu saja Mia. Jadi menurutku untuk jadikan istri, Mia lebih pantas untukmu karena Weni punya ekspektasi tinggi pada sosok cowok impiannya," ucap Devan.
"Terimakasih bos atas sarannya. Aku akan mengikuti bos. Mungkin bis sudah banyak dengar dari nona Rachel tentang sifat kedua sahabatnya itu," ucap Deni.
"Karena mereka bertiga adalah anak tunggal yang datang dari kelurga tidak mampu. Sama-sama berjuang untuk menaklukkan ibu kota agar tidak ditindas oleh orang-orang angkuh," ucap Devan.
__ADS_1
"Iya bos. Walaupun sudah hebat, mereka tidak lupa diri. Mia sekarang sudah menjabat sebagai manajer hotel. Dan Weni sudah membangun IO wedding sendiri yang berkerjasama dengan hotel yang dijalankan oleh Mia," ucap Deni.
"Baiklah. Aku mau menyerahkan tugasku selama satu bulan ke depan padamu. Karena aku mau pergi berobat Rachel sambil bulan madu. Mohon doanya Deni. Semoga kamu miliki keturunan walaupun itu pasti sangat sulit karena Rachel mengkonsumsi obat-obatan berdosis tinggi. Apa lagi kangker darah tidak memungkinkan dia untuk hamil," ucap Devan.
"Tidak usah pesimis seperti itu bos, saya yakin nona Rachel akan sembuh karena Allah tidak akan menguji hambaNya diluar dari kemampuannya," ucap Deni mensupport Devan.
"Terimakasih Deni untuk doanya. Semoga Allah tidak akan memberikan ujian kami diluar kapasitas kami sebagai pengantin baru yang ingin membina rumah tangga dengan hadirnya seorang momongan. Tidak usah banyak. Satu saja sudah cukup untuk kami," ucap Devan.
"Pasti akan Allah kabulkan. Asal yakin, tuan. Karena kata Allah, aku bagaimana tergantung prasangka hamba-Ku," ucap Devan mengutip firman Allah.
"Sepertinya kamu banyak tahu tentang firman Allah?" ucap Devan.
"Karena saya sekarang lagi getol ikut kajian Tuan. Sekali-kali bergabunglah majelis ta'lim. Dengan begitu saat kita labil dan iman kita goyah, maka manusia sering dihadapkan pada rasa putus asa. Dan setan mudah masuk dalam jiwa kita yang hampa," ucap Deni.
"Berarti ilmumu sekarang berguna untukku," ucap Devan sambil tersenyum kecut.
"Saling menasehati dalam kebaikan adalah kewajiban kita sesama manusia untuk saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyata," ucap Deni.
"Silahkan Tuan! nanti malamkan tuan berangkat ke Amerika?" tanya Deni.
"Iya Deni. Biar bangun pagi sudah di Amerika.
"Kan nyampe juga malam lagi Tuan bukan perbedaan waktu antara Jakarta dan Amerika 11 jam?" tanya Deni.
"Benar juga. Baiklah kalau begitu aku pulang dulu," pamit Devan.
...----------------...
Setibanya di mansion, Devan menghampiri ibu dan ayah mertuanya sesaat dan ia juga menyampaikan bahwa dirinya dan Rachel akan berangkat ke Amerika nanti malam.
"Mami, ayah. Nanti malam Devan dan Rachel akan berangkat ke Amerika untuk bulan madu sekalian membawa Rachel untuk berobat," ucap Devan.
__ADS_1
"Iya sayang. Lakukan apa yang harus dilakukan olehmu untuk kesembuhan Rachel. Semoga Rachel cepat sembuh dan bisa memberikan kami cucu," ucap mami Alisa.
"Aamiin," ucap Devan penuh harap.
"Nak Devan. Kabari apapun perkembangan jika dua sudah ditangani tim medis. Walaupun ayah sudah menyerahkan dia padamu seutuhnya, namun dia tetap putriku yang paling berharga di dunia ini setelah Istriku," ucap pak Lukman.
"Insya Allah ayah. Devan tidak akan menyerah sampai Rachel sembuh," ucap Devan semangat.
"Baiklah sayang. Temui Rachel! dia masih ada di kamar kalian," ucap nyonya Alisha
"Devan tinggal dulu ya mami, ayah," ucap Devan sambil berlalu dari hadapan ibu dan ayah mertuanya.
Setibanya di kamar, Devan melihat Rachel sedang membaca buku. Devan menghampiri istrinya seraya mengucapkan salam.
"Hai sayang! apakah kamu baik-baik saja saat ini?" tanya Devan seraya mengecup bibir istrinya.
"Aku bosan, Devan. Aku ingin melakukan ini itu namun dilarang oleh mami. Aku tidak biasa berdiam diri. Jika terus begini aku merasa penyakitku akan terus berkembang," adu Rachel membuat Devan membenamkan bibirnya lagi pada bibir pucat Rachel.
"Hussst..! jangan mengatakan hal yang menyeramkan seperti itu sayang karena itu sangat menyakitkan aku. Apakah kamu tidak kasihan pada kami yang menginginkan kesembuhanmu?" gumam Devan dengan wajah sendu.
"Aku tahu sayang. Tapi aku ingin sekali memasak untukmu. Aku menjadi istri yang berguna untukmu, Devan," pinta Rachel.
"Sayang. Nanti malam kita berangkat ke Amerika. Di sana kita akan tinggal di apartemen milikku jadi kamu bisa memasak dan melakukan apapun sesuka hatimu di sana, apakah kamu mau?" tawar Devan.
"Benarkah? kalau begitu itu sangat hebat sayang. Cepatlah kita berangkat! aku tidak sabar lagi untuk beraktivitas!" pinta Rachel.
"Tapi saat ini Aku ingin kita berdua beraktivitas di ranjang ini dulu, bagaimana? biar bisa mengusir rasa suntuk kamu sayang," goda Devan.
"Ihhh... suamiku genit dan mesum banget," ucap Rachel.
Devan melepaskan semua pakaiannya agar bisa menyentuh istrinya. Devan juga melucuti pakaiannya Rachel dan keduanya sudah polos.
__ADS_1
"Ayo kita beraktivitas yang menyenangkan!" goda Devan lalu memagut bibir istrnya.