
Alvaro memutuskan untuk menemui Dion, saat ini Dion sedang berada di sebuah panti asuhan miliknya, karena dia sedang mengadakan acara amal, banyak sekali orang-orang yang tidak mampu datang kesana. Sampai banyak orang miskin yang menangis memeluknya, karena merasa terharu dengan sumbangan yang telah Dion berikan.
"Terimakasih Pak Dion, anda sangat baik sekali. Semoga anda bisa tabah dengan nasib yang dialami oleh ayah anda." ucap seorang nenek tua sambil menangis.
"Terimakasih Pak Dion, anda memang orang yang sangat baik." ucap seorang kakek-kakek yang sudah tua renta.
"Terimakasih Pak Dion, saya harap anda mendapatkan balasan yang berlimpah dari Tuhan. Karena anda orang yang baik." ucap seorang ibu-ibu dengan nada sedih.
Itulah ucapan rasa terimakasih dari segelintir orang yang menerima sumbangan dari Dion. Dion memang harus bisa menyembunyikan sifat aslinya, sehingga dia harus bisa berbaur dengan orang lain, padahal sebenarnya dia sangat tidak nyaman jika berada ditempat orang ramai.
Seorang psikopat biasanya selalu introvert, suka menyendiri, tidak suka dengan tempat keramaian, karena kepalanya seakan mau meledak jika mendengar banyak suara ataupun kegaduhan. Karena itu Dion segera pergi ke kamar mandi, dia merasa mual karena banyak sekali orang-orang yang bersalaman padanya, apalagi banyak yang memeluknya.
"Shittt... dasar orang miskin sialan, berani sekali mereka memelukku." gerutu Dion, dia membersihkan jas hitamnya dengan tisu.
Setelah merasa tenang, Dion pun keluar dari kamar mandi, dia tak sengaja berpapasan dengan Alvaro.
Dion berpura-pura bersikap ramah kepada Alvaro, seolah-olah dia baru mengenal Alvaro.
"Anda Detektif Al kan? Yang sudah mama sewa untuk mencaritahu siapa selingkuhannya papa? Tapi mengapa anda berada disini?" Dion selain pandai membunuh, dia juga pandai dalam berakting.
Dan Alvaro tahu itu, pria itu sedang berakting. Membuatnya muak jika melihat bagaimana Dion berpura-pura bersikap ramah padanya. Maka dia pun bisa berakting. Alvaro langsung merangkul Dion, menepuk-nepuk pundak Dion. "Akhirnya kita bisa bertemu juga, jujur saja saya sangat ngefans sama anda. Karena anda orangnya sangat baik, Pak Dion."
Padahal Alvaro sedang meronggoh ponselnya Dion yang ada di saku celananya, mentransfer data di ponselnya Dion dalam waktu sekejap ke ponsel miliknya.
Dion merasakan sesak karena Alvaro memeluknya begitu erat, dia mendorong Alvaro, dia tahu betul bahwa Alvaro sedang mengincarnya. "Anda memelukku terlalu kencang, Detektif Al."
"Maafkan saya, itu karena saking ngefansnya saya sama anda. Anda sangat berhati mulia." Padahal rasanya ingin muntah Alvaro mengatakannya. Alvaro memperhatikan suasana di sekitar panti asuhan tersebut.
Dion nampaknya tidak suka jika Alvaro memperhatikan panti asuhannya, "Bagaimana kalau kita ngopi bareng? Atas rasa terimakasih saya kepada anda, karena anda telah membantu mama saya. Papa memang pantas dihukum atas kejahatan yang telah dia lakukan."
Alvaro pun menyetujui permintaan dari Dion, dia dan Dion ngopi bersama di sebuah ruangan yang ada di depan panti.
__ADS_1
"Apa anda tidak membenci saya karena saya ayah anda di penjara?" tanya Alvaro dengan santai.
Dion pura-pura terkekeh mendengar pernyataan dari Alvaro, "Tentu saja tidak, kejahatan ayah saya memang begitu besar, ayah pantas mendapatkan balasan atas perbuatannya." Padahal dia sangat membenci Alvaro.
"Apa kamu tahu selingkuhan ayahmu telah ada yang membunuhnya semalam?" tanya Alvaro dengan santai, setelah berkata seperti itu dia menyeruput kopi yang ada diatas meja, karena dia tahu kopinya aman, Dion bukanlah orang yang membunuh orang secara terang-terangan. Apalagi di luar sana banyak sekali orang-orang yang hadir dalam acara amal.
Dion pun menyeruput kopi miliknya, kemudian dia menjawab pertanyaan dari Alvaro. "Ya, aku tau. Aku sudah mendengarnya. Tapi apa hubungannya denganku?" Dion sama sekali tidak merasa berdosa dengan apa yang telah dia perbuat.
"Tidak, seandainya aku bertemu dengannya, aku hanya ingin bilang sesuatu kepada pembunuh itu, bahwa aku pasti akan menangkapnya. Aku pasti akan mengirimkannya ke neraka atas kejahatan yang telah dia lakukan." Alvaro menatap tajam kepada Dion.
Di bawah meja sana, tangan Dion terkepal, menahan emosi pada Alvaro. Tapi dia berpura-pura tersenyum kepada Alvaro. "Ya, kamu bisa katakan sendiri saja pada orangnya, Detektif Al."
"Tentu saja aku pasti akan mengatakan secara langsung padanya."
Alvaro tidak mungkin to the point mengatakan bahwa Dion adalah pembunuh itu, karena dia belum memiliki bukti dengan ucapannya tersebut. Sekarang ini tersangka sudah ada di depan mata, tapi bukti sama sekali belum dia punya. Dion begitu teliti dan cerdik dalam bertindak.
"Hm, ya. Aku baru tau ternyata kamu adalah mantannya istriku?"
Alvaro segera berdiri, dia menepuk-nepuk pundak Dion. "Terimakasih, sudah menjaga Joana untukku."
Setelah berkata seperti itu, Alvaro pun pergi meninggalkan Dion.
Dion mengepalkan tangannya, dia sangat terlihat marah sekali, sampai dia menekan gelas yang dia pegang sangat kuat, sehingga gelas tersebut pecah, melukai tangannya sendiri.
Setelah masuk ke dalam mobil, Alvaro segera mengecek ponselnya, dia ingin melihat ada data apa saja di ponselnya Dion.
Ternyata di ponselnya Dion tidak ada data apapun, hanya ada dua nama di kontaknya tersimpan di ponselnya, semua kotak pesan kosong, tidak ada riwayat panggilan, dan hanya memiliki 10 foto, semuanya hanya foto Joana, tidak ada foto lain. Alvaro terperangah melihatnya.
Mungkin Dion memang mencintai Joana, bahkan dia terobsesi padanya. Hanya saja Dion sulit untuk mengendalikan dirinya, hasrat jiwa pembunuhnya lebih besar, sehingga dia terlalu asik dengan dunianya sendiri, ke dalam dunia seorang pembunuh. Dimana dia bisa menikmati bagaimana ketika dia menyiksa wanita-wanita yang telah dia targetkan, lalu membunuhnya secara sadis.
Mungkin saja tanpa Alvaro menjadikan Joana umpan pun, Joana akan tetap berada dalam bahaya jika terus berhubungan dengan Dion, karena seorang psikopat sangat mudah tersinggung, selalu menganggap dirinya adalah korban, ketika Joana melakukan kesalahan walaupun hanya sepele, nyawanya akan terancam.
__ADS_1
...****************...
"Shittt, detektif sialan!" Dion nampak terengah-engah menahan emosinya, di menatap tangannya yang terluka, ada darah segar yang mengalir di tangannya tersebut.
Darah itu membuat Dion teringat bagaimana ketika dia membunuh Gina dengan secara sadis, menusuk perutnya dengan pisau berkali-kali, sampai wanita itu merintih kesakitan memohon ampun.
"Tolong lepaskan aku, aku mohon. Aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan ayahmu, Dion. Aku mohon!" Gina memohon ampun pada Dion kala itu, dia sedang merintih kesakitan karena banyak luka sayatan di tubuhnya.
Jleb...
Jleb...
Jleb...
Malam itu Dion menusuk perut Gina berkali-kali dengan pisau.
"Rasakan hukumanmu dasar wanita murahan, karena sudah menggoda ayahku!" Dion tak akan pernah mengampuninya.
"Enak saja, setelah menggoda ayahku, menyakiti ibuku, kamu mau aku memaafkanmu?" ucap Dion lagi dengan penuh amarah.
"Arrrgghh!" Gina hanya bisa merintih kesakitan, tubuhnya telah bersimbah darah, bahkan mulutnya kini telah memuntahkan darah dengan begitu banyak.
Jleb...
Jleb...
Jleb...
Dion kembali menusuk perut Gina dengan brutal.
Setelah mengalami banyak penyiksaan akhirnya Gina menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1