
Setelah sampai di rumah, walaupun Joana sangat kesal kepada Alvaro, tapi dia tidak mungkin tega melihat Alvaro terluka, sehingga dia harus mengobati luka ringan ditubuhnya.
"Ssshh...!" Alvaro meringis ketika Joana mengobati luka lebam di wajahnya Alvaro, mungkin karena wanita itu mengoleskan salep luka pakai tenaga dalam.
"Bisa pelan-pelan kan mengobatinya?" protes Alvaro dengan nada kesal.
Joana memilih tidak menanggapi perkataan Alvaro, dia mengobati kembali luka lebam diwajahnya pria itu. Mungkin Joana masih kesal pada Alvaro, karena pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka semalam. Padahal pria itu telah membuat Joana menjadi mantan perawan, sesuatu yanh sangat berharga untuk seorang wanita.
Alvaro berusaha keras untuk tidak melihat ke arah Joana, dia sengaja memfokuskan pandangannya ke arah lain yang ada di area ruang tengah tersebut. Saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi sofa.
Namun, Alvaro merasakan jantungnya berdebar-debar ketika tangan Joana menyentuh sudut bibir Alvaro yang terluka, dia merasakan ada gelayar aneh merasuki tubuhnya, sehingga pandangan Alvaro beralih ke arah bibir manisnya Joana, sangat menggoda, seakan ada setan berbisik padanya untuk segera melahap bibir manis itu.
Tapi Alvaro berusaha keras untuk menahan diri, kali ini dia yakin pasti bisa. Sampai dia meneguk saliva berkali-kali.
Joana melihat ada noda darah di kemeja Alvaro bagian dada, bahkan ada sobek sedikit di kemejanya itu. Tanpa meminta izin dulu ke Alvaro, Joana segera membuka kancing di kemeja Alvaro satu persatu, membuat Alvaro salah tingkah. Padahal dia tahu bahwa Joana membuka kemejanya untuk mengobati luka di dada Alvaro, tapi mengapa dia malah seakan mengharapkan hal lain.
Rasanya tak karuan, sampai Alvaro mengepalkan tangannya, untuk menahan sesuatu yang merasuki tubuhnya.
Sebenarnya Joana pun nampak gugup ketika melihat bagaimana kekarnya tubuh Alvaro, sampai dia menggigit bibir bawahnya melihat bagaimana sixpacknya tubuh pria itu. Pantas saja dia begitu gagah diatas ranjang, dia memang seorang pria yang perkasa.
Joana baru menyadari bahwa di bahu Alvaro ada bekas luka, seperti luka bekas tusukan. "Apakah kamu sering terluka, Al?"
"Hm." jawab Alvaro, singkat. Sebenarnya dia tidak nyaman ketika Joana mengusap bekas luka di bahunya itu, seakan gadis itu sedang menggodanya dengan sebuah sentuhan lembut.
Joana paham betul pekerjaan Alvaro seperti apa, jadi wajar saja jika Alvaro sering terluka. Hanya disayangkan saja, dibalik wajahnya yang tampan, ternyata tubuhnya sering terluka. Joana tidak tahu bahwa hati Alvaro jauh lebih terluka, luka yang ada ditubuh Alvaro tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang ada dihatinya. Mungkin itu sebabnya dia tidak ingin jatuh cinta lagi.
"Al."
"Kenapa?"
"Aku rasa lebih baik kita pisah kamar aja, sesuai keinginan kamu, kamu awalnya menginginkan kamar kita terpisah kan?" Joana bertanya seperti itu sambil sibuk mengobati dada Alvaro yang terluka. Dia takut menjadi santapan Alvaro lagi.
"Ya baguslah, memang seharusnya kita tidur terpisah. Tapi kamunya yang ngotot ingin tidur di kamarku dan terus menggodaku." jawab Alvaro, dia rasa dengan mereka tidur terpisah itu adalah keputusan yang terbaik untuk mereka, dengan begitu Alvaro tidak akan tergoda lagi oleh Joana.
"Hhh..." Joana hanya mendengus kesal seolah semalam terjadi karena kesalahan Joana, kalau dia tahu Alvaro pria normal, dia tidak mungkin senekad itu ingin tidur di kamar Alvaro dan menggodanya.
__ADS_1
Rasanya sangat malu sekali jika mengingat bagaimana cara Joana menggoda Alvaro, seakan dia begitu nakal, padahal waktu itu dia salah mengira, Joana pikir Alvaro bukan pria normal.
...****************...
Akan tetapi malam ini Alvaro tak bisa tidur, padahal dia sudah mencoba tiduran di atas kasur, di lantai, di kursi sofa, tapi tak membuatnya ngantuk.
Alvaro sudah mengubah-ubah posisi tidurnya, dia sudah tiduran sambil terlentang, lalu tengkurap, miring ke kanan, miring ke kiri, dan jungkir balik, tapi tetap saja dia tak bisa tidur.
Pria mana yang bisa tidur jika dalam keadaan sang joni menggeliat meminta untuk dihangatkan, apalagi cuaca malam ini begitu dingin. Dan sabun bukanlah solusi yang tepat.
Nafas Alvaro tak beraturan, dia nampak gelisah, merasakan ada sesuatu yang harus dia salurkan malam ini, sebuah hasrat yang sangat menggebu-gebu. Tapi tak mungkin Alvaro meminta pada Joana.
Alvaro memilih berpush up, siapa tahu jika dia berkeringat akan membuat gairahnya menghilang dan bisa cepat tidur, walaupun sebenarnya dadanya masih terasa sakit.
"Dua puluh enam."
"Dua puluh tujuh."
"Dua puluh delapan."
"Dua puluh sembilan."
"Tiga puluh satu."
"Tiga puluh dua."
Alvaro menghentikan aktivitasnya, dia sadar bahwa yang dia inginkan bukanlah berkeringat saja, akan tetapi ada yang ingin dia lepaskan ditubuhnya yang membuatnya tersiksa. Sesuatu yang harus dia lepaskan di dalam tubuh seorang wanita.
"Aku bisa gila jika terus seperti ini." keluh Alvaro sambil mencengkram rambutnya, dia nampak resah dan gelisah malam ini.
Tidak ada pilihan, lebih baik dia meminta jatah pada Joana malam ini juga. Tapi sayangnya, ketika dia mencoba membuka pintu kamarnya Joana, pintunya telah dikunci.
Alvaro memang memiliki kunci cadangan, akan tetapi Alvaro baru ingat bahwa dia dulu telah memasang kunci khusus disetiap kamar yang ada disana, kunci tersebut hanya bisa dibuka oleh orang yang berada di dalam kamar, demi keamanan. Sehingga Alvaro tak dapat membuka pintu tersebut.
"Jo, apakah kamu sudah tidur?" tanya Alvaro, berharap Joana belum tidur.
__ADS_1
Karena tak ada jawaban, Alvaro mengetuk pintu kamarnya Joana.
Tok...
Tok...
Tok...
"Jo."
"Joana!"
Tok...
Tok...
Tok...
"Joana!"
Joana memang belum tidur, dia sedang asik menonton film di laptopnya. Dia sengaja tidak merespon Alvaro, karena tahu pasti Alvaro akan meminta jatah lagi padanya. Sehingga dia cekikikan sendirian, mentertawakan Alvaro. Mungkin Joana ingin memberikan pelajaran pada pria menyebalkan itu.
"Awas aja kalau minta jatah, gak akan aku ngasih." ucap Joana dengan pelan. Dia tak menghiraukan pria itu yang sedang kelimpungan menahan hasrat.
Malahan Joana begitu asik menikmati cemilannya sambil menonton film favoritnya.
"Huamm..." Kemudian wanita tersebut menguap, rasa ngantuk telah melanda dirinya. Tapi film yang yang dia tonton masih seru. Joana belum ingin tidur.
Alvaro merasa akan gila jika dia tak bisa melampiaskannya pada Joana malam ini juga, dia mondar mandir di depan kamar Joana mungkin karena sudah tidak tahan, bukan Alvaro namanya jika tidak memiliki ide yang cerdik.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa masuk ke dalam kamarnya?"
Alvaro berhenti melangkah ketika ada sebuah ide di otaknya.
"Hm aku punya ide." Alvaro menyeringai.
__ADS_1
Alvaro bisa masuk ke kamar Joana lewat jendela kamar, walaupun dia harus membobol dulu jendelanya. Ada gunanya juga dia belajar dari Gleen tentang cara membobol jendela tanpa membuat kacanya pecah.
Alvaro segera pergi ke balkon kamar pribadinya, balkon kamar pribadinya memang berdekatan dengan balkon kamarnya Joana. Alvaro naik ke pagar pembatas balkon, kemudian dia meloncat ke balkon kamarnya Joana, apapun akan dia lakukan demi mendapatkan jatah dari Joana malam ini.