Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 65


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, Alvaro kini telah sadarkan diri, setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya dia bisa diizinkan untuk pulang ke rumah.


Joana memang selalu setia menemani Alvaro dan merawatnya, tapi Alvaro merasakan ada yang berbeda pada sikap Joana, biasanya wanita itu selalu banyak bicara, atau berkata apapun yang membuat Alvaro kesal, tapi kali ini Joana selalu banyak diam.


Siapa yang tak kecewa ketika mengetahui kenyataan bahwa ternyata Alvaro dan Bianca sebenarnya sudah saling mengenal, bahkan mungkin saja diantara mereka pernah memiliki hubungan spesial, tapi mereka bersikap seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain di depan Joana, di hadapan keluarga juga.


Mungkinkah alasan Alvaro menikahi Joana karena ada hubungannya dengan Bianca? Pertanyaan itulah yang kini ada di benak Joana.


Sakarang ini Alvaro merasa kondisinya semakin membaik dan besok sudah mulai kembali bekerja, sementara Joana masih tetap saja selalu mendiamkannya. Kini menjadi terbalik, Alvaro yang lebih banyak bicara, tapi Joana hanya menjawab satu atau dua kata saja, membuat Alvaro merasakan ada yang aneh pada Joana.


Alvaro pikir Joana bersikap seperti itu karena dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, karena hari kemarin Pak Riki telah mengumumkan bahwa Joana adalah orang yang akan menggantikan dirinya dalam memimpin perusahaan, alias menjadi CEO di Alpha Group.


Walaupun Dimas, Bianca, dan Bu Nadia sangat kecewa dengan keputusan Pak Riki, akan tetapi mereka berusaha untuk bersikap tenang, karena mungkin mereka akan menjalankan rencana B agar bisa menjadi penguasa di Alpha.


Padahal Pak Riki telah memberikan 5 anak perusahaan kepada Dimas, untuk di pimpin oleh Dimas, tapi Dimas tidak memiliki kepuasan untuk itu semua, dia tetap menginginkan memiliki seluruh kekayaan yang Alpha miliki. Dia ingin menjadi pemimpin tertinggi di Alpha Group.

__ADS_1


Seperti biasa, setiap hari Joana dan Alvaro selalu tidur terpisah. Setiap hari Joana memang selalu memasak untuk Alvaro, bahkan mereka selalu makan bersama, tapi Joana selalu menghindar kontak mata dengan Alvaro, bahkan dia hanya berbicara seperlunya saja. Padahal Alvaro merasa tak memiliki kesalahan apapun pada Joana.


Malam ini seperti biasanya, setiap malam Joana selalu mengobati luka dan mengganti perban di punggung Alvaro.


Terlihat Alvaro sedang duduk di kursi sofa, dia sudah membuka bajunya, sementara Joana sedang mengobati luka di punggung Alvaro yang sudah mulai mengering, kemudian Joana menutup luka tersebut dengan perban.


Alvaro merasakan perasaan yang aneh akhir-akhir ini, hatinya selalu berdebar-debar setiap kali bersama Joana, saat ini dia sedang mencoba untuk merangkai kata di dalam pikirannya untuk membuka pembicaraannya dengan Joana, "Emm... bukankah lusa akan diadakan pesta penyambutan CEO baru?" Alvaro nampak kikuk pada dia sudah tahu bahwa lusa akan ada pesta penyambutan kepada Joana sebagai CEO baru di Alpha Group, tapi dia malah pura-pura lupa.


"Hm." Joana menganggukkan kepala, dia masih fokus menggantikan perban di punggung Alvaro.


Walaupun Joana merasa kecewa kepada Alvaro, tapi dia tidak mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri, dia tetap merawat Alvaro, karena dia sadar diri bahwa Alvaro terluka karenanya. Anggap saja sebagai rasa hutang budi pada Alvaro.


"Ya, terimakasih." jawab Joana dengan nada datar. Kemudian wanita itu segera berdiri karena tugasnya dalam menggantikan perban di punggung Alvaro sudah selesai.


Namun, Alvaro tidak bisa membiarkan Joana pergi begitu saja. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, dia menahan lengan Joana. Karena dia merasa tersiksa dengan sikap Joana yang tak seperti biasanya, dia lebih suka pada sikap Joana yang banyak bicara ataupun jahil padanya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa denganmu?" Alvaro bertanya dengan nada menekan. Dia sangat tersiksa dengan sikap Joana akhir-akhir ini


Joana melepaskan lengannya dari Alvaro, "Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah, mau istirahat." jawabnya dengan nada jutek.


Alvaro menghela nafas, dia tak paham dengan seorang wanita, wanita selalu bilang tidak apa-apa, tapi raut wajah dan sikapnya tak dapat berbohong. Tidak mungkin tidak ada apa-apa kalau kenyataannya sikap Joana kini berubah padanya.


Seharusnya wanita paham, bahwa seorang pria tak memiliki rumus untuk mengerti dari arti kata tidak apa-apa itu.


"Katakan sejujurnya ada apa, Jo? Salahku apa? Mengapa kamu terus mendiamkan aku seperti ini?" tanya Alvaro dengan nada menekan.


Joana enggan untuk menjawab, dia hanya menatap dingin kepada Alvaro.


Tapi bukankah ini yang Alvaro harapkan? Dia ingin menjalani pernikahan sesuai dengan misi dan tujuan awalnya, yaitu hanya untuk menjadikan Joana umpan untuk Dion agar Dion memperlihatkan bagaimana sikap yang sesungguhnya, dan juga menjadikan Joana sebagai pion untuk balas dendam terhadap Bianca dan Dimas?


Seharusnya dia tidak keberatan dengan sikap Joana seperti itu, tapi mengapa dia harus merasa tersiksa setiap kali Jaona mendiamkannya?

__ADS_1


...****************...


...Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang selalu setia menemanimu, ketika dia mulai jenuh dan mulai menghindar, maka kamu akan sadar betapa berartinya orang itu untukmu. Jangan sampai kamu membiarkannya pergi dari hidupmu....


__ADS_2