
Setelah melihat Dion untuk terakhir kalinya, Joana pun pergi menemui Alvaro kembali, di ruangannya tempat Alvaro di rawat.
Joana melihat Alvaro yang sedang terbaring diatas brankar dengan kondisi mata terpejam. Joana lama sekali memandangi wajah sang suami, karena Alvaro akhirnya Joana bisa lepas dari Dion, entah bagaimana nasibnya jika dia tak lepas dari Dion waktu itu. Walaupun Joana tahu Dion mencintainya, tapi Dion tidak bisa mengendalikan jiwa psikopatnya. Mungkin saja Joana akan menjadi salah satu korban kekejian Dion. Secara tidak langsung, Alvaro telah melindunginya dari Dion.
Joana menggenggam tangan Alvaro, "Al, terimakasih untuk semuanya. Selama ini kamu sudah melindungi aku, bahkan kamu rela terluka demi aku. Mengapa baru kali ini aku menyadari betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti kamu?"
Joana meneruskan perkataannya kembali, matanya terlihat berkaca-kaca. "Tapi walaupun begitu aku berharap kamu tidak akan terluka lagi, aku tidak ingin kehilangan kamu, Al. Aku juga tidak tahu sejak dari kapan perasaan ini muncul di hatiku, yang pasti aku sangat takut kehilangan kamu, dan aku sangat mencintaimu, Al."
Joana merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaannya, walaupun dengan kondisi Alvaro yang sedang tidur, karena dia belum berani mengatakannya secara langsung, apalagi Joana akhir-akhir ini selalu mendiamkan Alvaro.
Joana tersenyum lega, "Akhirnya aku bisa mengatakannya juga padamu, Al. Aku belum berani bicara secara langsung padamu dalam keadaan kamu dalam kondisi sadar, aku bukan wanita yang bisa gampang bilang cinta."
Joana menguap, dia merasakan dirinya mengantuk, dia memilih untuk tidur di kursi sofa, tapi dia dibuat kaget, tiba-tiba ada seseorang yang menahan lengannya, siapa lagi kalau bukan Alvaro.
"Al?" Joana terbelalak, apa mungkin pria itu dari tadi tidak tidur, itu artinya dia mendengar apa saja yang Joana ucapkan tadi.
Pria itu malah menyeringai, begitu mudahnya mengangkat tubuh Joana ke atas brankar, sehingga duduk dipangkuannya. "Katakan sekali lagi!"
Joana pura-pura tidak paham. "A-apanya?"
Alvaro memperagakan apa yang Joana ucapkan tadi, "Aku berharap kamu tidak akan terluka lagi, aku tidak ingin kehilangan kamu, Al. Aku juga tidak tahu sejak dari kapan perasaan ini muncul di hatiku, yang pasti aku sangat takut kehilangan kamu, dan aku sangat mencintaimu, Al."
__ADS_1
Wajah Joana nampak memerah mendengar perkataan Alvaro, sampai dia mencubit pinggang Alvaro. Pria itu seakan sedang meledeknya.
"Arrrgghh!" Alvaro meringis memegang pinggangnya. Kemudian dia tertawa, mengecup bibir Joana dengan sekilas.
"Al, kamu lagi sakit. Lepaskan aku!" Joana tidak ingin duduk dipangkuan Alvaro, karena dia tahu Alvaro sedang cidera.
Tapi Alvaro tak ingin melepaskan Joana, dia ingin membiarkan wanita itu untuk tetap duduk dipangkuannya, dia sangat bahagia karena akhirnya tahu bagaimana perkembangan Joana padanya. "Aku tidak sakit. Dari awal aku sudah bilang tidak apa-apa, tapi kamu memaksa aku untuk dirawat di rumah sakit."
"Aku hanya takut kamu terluka, Al." Joana hanya ingin memastikan Alvaro baik-baik saja.
Alvaro semakin mempererat pelukannya pada Joana, sehingga wajah mereka sangat dekat sekali. "Jadi benar kamu mencintai aku dan tidak ingin kehilangan aku, Jo?"
"Bukankah kamu sudah mendengarnya tadi waktu kamu pura-pura tidur?" Wajah Joana nampak seperti kepiting rebus, begitu merah merona. Dia sangat malu karena dia pikir saat itu Alvaro sudah tidur.
Joana baru menyadari Alvaro juga belum menyatakan perasaannya secara langsung pada Joana, pria itu hanya mengungkapkan perasaan lewat sebuah pesan. "Kamu juga belum..."
"Aku mencintaimu." potong Alvaro, pria itu mengatakannya dengan tatapan matanya yang penuh dengan kesungguhan hati. Dia tahu apa yang akan dibahas oleh Joana.
Joana nampak terperangah, akhirnya kata cinta keluar juga dari mulut Alvaro, sampai dia tak mampu berkata apa-apa lagi pada Alvaro, yang pasti hatinya sekarang ini berbunga-bunga.
"Aku sangat mencintaimu, Joana." Alvaro mengulangi perkataannya lagi, kemudian dia tersenyum kepada wanita cantik itu, membelai rambutnya dengan mesra.
__ADS_1
Mulai sekarang Alvaro akan memperlakukan Joana dengan baik, dia ingin menjadi seorang suami yang baik untuk Joana, yang akan mengisi hari-hari mereka dengan penuh cinta.
"Sangat tidak romantis, mengapa kita harus mengungkapkan perasaan kita di rumah sakit?" Joana mengeluhkan sebuah tempat saling mengungkapkan perasaan mereka.
"Kamu tenang saja tidak akan ada yang ganggu kita, karena aku sudah melarang dokter untuk datang kesini, jadi kamu bebas ingin menunjukkan betapa besarnya cintamu untukku, Jo." Alvaro malah membahas hal lain. Kata romantis bagi pria dan wanita memang berbeda, mungkin bagi pria harus berakhir di ranjang.
Joana menghela nafas dengan kem3suman suaminya. "Maksud aku bukan begitu."
"Besok akan ada kejutan untukmu." ucap Alvaro lagi.
"Apa itu?" Joana menjadi penasaran, kejutan apa yang ingin Alvaro berikan pada Joana.
"Lihat saja besok!" Alvaro akan memberikan hukuman kepada siapapun yang berani menyakiti Joana, siapa lagi kalau bukan Dimas, Bianca, dan Bu Nadia.
"Apa kejutannya?" Joana malah semakin penasaran.
"Aku akan mengatakannya nanti, tapi sekarang ini aku mau membuat hadiah untuk ayah mertuaku dulu."
"Hadiah apa?"
"Ayahmu bilang kita harus cepat-cepat memberikan cucu untuknya, karena itu mulai sekarang kita harus melakukannya setiap hari." Alvaro membalikan posisi, sehingga kini posisi Alvaro yang berada diatasnya Joana, dia menautkan bibirnya dengan bibir Joana dengan penuh cinta.
__ADS_1
Joana tahu apa yang diinginkan Alvaro, mungkin dia ingin merayakan kebahagiaan mereka yang telah saling mengungkapkan perasaan. Joana pun sama, dia menginginkan pria itu malam ini.