Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 57


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, ide pembangunan pasar telah mendapatkan respon yang positif dari masyarakat di kota C. Membuat Joana mendapatkan banyak pujian dari para staf tertinggi di perusahaan, termasuk Pak Riki, berulang kali pujian telah dia lontarkan kepada Joana. Hal tersebut membuat Bianca, Dimas, dan Bu Nadia semakin geram, dan ingin segera melenyapkan Joana.


"Selamat Joana, rencana proyek pembangunan pasar kamu telah mendapatkan respon positif dari masyarakat." ucap Aditya kepada Joana, saat itu Joana dan Aditya berpapasan di koridor kantor.


"Iya, sama-sama, Dit. Makasih ya." jawab Joana dengan ramah.


"Emm... apa malam ini kamu ada acara?" Aditya memberanikan diri untuk mengajak Joana makan malam dengannya.


"Nggak, memangnya kenapa?"


"Aku... aku ingin makan malam denganmu malam ini." Aditya mengatakannya dengan sedikit gugup.


Joana terdiam sejenak, kemudian dia menatap pria dihadapannya itu. "Maafkan aku, aku gak bisa, Dit. Aku harap diantara kita harus profesional, hubungan kita hanya sekedar rekan kerja. Dan aku sudah memiliki suami." Walaupun mungkin suaminya tidak menganggap Joana istrinya, tapi Joana sangat menghargai pernikahannya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Joana pun pergi meninggalkan Aditya, sayangnya di sekitar koridor sana tidak tertangkap kamera CCTV, sehingga Alvaro tidak akan tahu akan hal tersebut.


Aditya pun terdiam, sepertinya kisah cintanya memang harus kandas. Bertepuk sebelah tangan.


...****************...


Alvaro merasa ada yang berbeda dengan Joana akhir-akhir ini, Joana telah bersikap sebagai seorang istri yang baik untuk Alvaro, setiap hari dia memasak untuk Alvaro, menyiapkan bekal untuk Alvaro, sering mengirim pesan manis pada Alvaro. Entah setan apa yang merasuki wanita itu? Mungkinkah Joana telah kerasukan semacam kuntilanak manis?


Sebenarnya niat Joana memperlakukan Alvaro dengan manis untuk bisa mendapatkan hati Alvaro, agar dia bisa tahu apa alasan Alvaro menikahinya, tapi sayangnya sampai sekarang Alvaro masih bersikap dingin pada Joana.


Hari ini Alvaro sangat kelelahan karena menghadapi kasus yang lumayan berat, tentang penemuan mayat seorang wanita di dalam koper tanpa kepala, tapi sayangnya sampai kini dia sebelum bisa menemukan bukti yang konkret untuk mencaritahu siapa pelakunya, Alvaro sangat menduga bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah seseorang yang sangat mahir dalam membunuh, sehingga tidak menghilangkan jejak, persis seperti Dion, atau mungkin bisa saja Dion yang melakukannya.

__ADS_1


Apalagi di dalam koper tersebut terdapat sebuah tulisan, entah kepada siapa tulisan tersebut ditujukan oleh sang pelaku.


Apakah kamu suka hadiah dariku? Seperti itulah kalimat pada selembar kertas yang ada di koper tersebut.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Seperti biasa, setiap jam 12 siang, Joana selalu mengirimkan kata-kata manis pada Alvaro.


[Selamat kerja, Al. Kerja yang semangat dan jaga dirimu baik-baik.]


Alvaro menghela nafas ketika membaca pesan dari Joana, apalagi sekarang ini dia sedang memakan bekal yang telah disiapkan oleh Joana. Padahal dia sudah berusaha keras untuk bisa fokus ketujuan awal alasan dia menikahi Joana, tapi akhir-akhir ini Joana sering mengganggu pikirannya.


Tapi Alvaro malah menjauhkannya makanannya dari Gleen, "Tidak bisa, ini makanan milikku."


Padahal masakan Joana kadang terasa asin atau kadang terasa aneh, tapi Alvaro harus memakannya sampai habis, untuk menghargai perasaan Joana.


Danu malah terkekeh, mungkin Alvaro telah terserang virus bucin. "Kayaknya aku jadi nih botakin kepala si Gleen." ucapnya sambil menunjukan gunting pada Gleen.


Hal itu membuat Gleen memelototkan matanya sambil manyun menatap ke arah Danu.


"Maksudnya?" Alvaro tak paham dengan perkataan Danu.

__ADS_1


"Apa kamu sadar bahwa sebenarnya kamu itu sudah memiliki perasaan pada istrimu itu, Al?" tanya Danu dengan penuh penekanan.


Alvaro malah menyeringai, "Tau apa kamu tentang hatiku?"


"Aku berbicara seperti ini bukan sebagai partner kerjamu, tapi sebagai sahabatmu. Sebenarnya kamu tuh udah ada rasa sama Joana, hanya mungkin kamunya saja yang terus mengelak. Karena itu aku harap kamu bisa memperlakukan istrimu dengan baik, perlihatkan rasa cintamu padanya, jangan sampai kamu menyesal, Al." Danu tidak ingin Alvaro patah hati untuk yang kedua kalinya.


Alvaro terdiam, apakah perkataan Danu benar bahwa sebenarnya dia memiliki perasaan pada Joana?


Perkataan Danu membuat pikiran Alvaro terganggu, kemudian dia membuka laptopnya, untuk memperhatikan Joana yang sedang bekerja di kantor pusat Alpha. Dia memang harus siap siaga untuk menjaga Joana, maka dari itu dia selalu menugaskan para bodyguard untuk terus menjaga Joana, jangan sampai Joana pergi sendirian.


Alvaro teringat kembali dengan perkataan Danu, apakah mungkin selama ini dia keterlaluan pada Joana? Apakah mungkin sebenarnya dia telah memiliki perasaan pada wanita itu?


Alvaro nampak ragu untuk mengirim sebuah pesan pada Joana, entah mengapa dia merasakan deg-degan sekali.


Setelah sekian lama menulis sebuah pesan lalu dia menghapus kembali pesan tersebut, akhirnya Alvaro memutuskan untuk mengirim pesan kepada Joana.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Ponsel Joana bergetar, membuat Joana menghentikan aktivitasnya sejenak, dia meraih ponselnya diatas meja, lalu mengecek pesan masuk pada ponselnya.


Joana mengerutkan keningnya, rasanya dia tak percaya, apakah dia sedang bermimpi, Alvaro mengirim pesan semanis itu padanya.

__ADS_1


"Kesambet apa dia tiba-tiba mengirim pesan seperti ini padaku?" ucap Joana, pelan. Sampai Joana membaca pesan dari Alvaro berkali-kali.


__ADS_2