
Gleen dan Danu sedang bekerjasama agar bisa masuk ke dalam rumahnya Dion, karena itu Gleen mencoba untuk mengelabui Bu Risa, sambil menawarkan hadiah yang ingin Bu Risa pilih karena telah berlangganan ke toko galon AHA.
Saat itu Gleen memarkirkan mobil pick up yang berisikan banyak galon di depan gerbang rumahnya Bu Risa, dia sedang berbicara dengan Bu Risa yang menyambut kedatangannya.
"Lho ini Mas yang tadi pagi memasang galon dirumah kan? Kok balik lagi?" tanya Bu Risa, dia tidak mencurigai Gleen karena Gleen sudah bilang pada Bu Risa bahwa dia karyawan baru di toko galon AHA. Tentu saja dia sudah membayar toko itu untuk bekerjasama dengannya.
"Kebetulan toko AHA ulang tahun hari ini, karena itu kami dari toko galon AHA ingin memberikan hadiah kepada para pelanggan." jawab Gleen, dia memperlihatkan sebuah katalog yang disana ada berbagai jenis hadiah.
"Padahal seharusnya tidak perlu repot-repot." Bu Risa nampak tidak tertarik dengan hadiah yang ditawarkan oleh Gleen.
"Gak apa-apa, tante. Pilih saja hadiah mana yang tante inginkan." Gleen memberikan katalog pada Bu Risa.
Bu Risa nampak kebingungan karena banyak sekali barang di katalog tersebut.
Sementara Danu, dia masuk ke dalam halaman rumahnya Bu Risa persis seperti seorang maling, dia masuk melalui gerbang belakang.
Danu melihat ada sebuah tangga di halaman belakang itu mengarah ke bawah, tidak salah lagi, itu adalah jalan ke ruang bawah tanah melalui pintu luar.
Danu membobol kunci pintu tersebut dengan kunci L. Danu memasukkan kunci L ke lubang kunci dengan arah yang lurus dengan gerakan maju-mundur. Kemudian, dia memutarkan kunci L tersebut dalam membuka pintunya. Setelah itu Danu memutarkan sedikit lagi sampai pintu itu terbuka.
Danu pun masuk ke dalam ruang bawah tanah tersebut, turun melalui anak tangga satu persatu, suasana disana nampak gelap, sehingga dia segera menekan stop kontak yang ada disana, sehingga terlihat dengan jelas bagaimana suasana di ruang bawah tanah tersebut.
Begitu mencengkam dan suasana begitu gelap.
__ADS_1
Tapi sayangnya Danu tak melihat apapun yang mencurigakan di ruangan tersebut, karena Dion selalu membersihkan ruangan bawah tanah itu, disana hanya terlihat sebuah patung berbentuk wanita tela-njang. Danu memperhatikan dengan seksama patung tersebut.
"Apa dia membuat sendiri patung ini?" gumam Danu.
Mata Danu menangkap sesuatu, dia melihat ada sebuah pecahan kepala patung yang sebenarnya disudut ruang bawah tanah bagian kiri.
Danu merasa ada yang tidak beres, apalagi saat ini ada kasus yang belum terpecahkan yaitu polisi sedang mencari dimana keberadaan kepalanya seorang selebritis bernama Olivia itu.
Mata Danu beredar mencari alat apa saja yang yang bisa dia gunakan untuk menghancurkan patung tersebut, kemudian dia membuka lemari besar yang ada disana. Ternyata di lemari tersebut ada berbagai senjata tajam dan senapan, termasuk sebuah palu.
Danu membawa palu yang berukuran besar, dia mengayunkan palu besar tersebut ke arah leher patung.
Brakk...
Sehingga kepala patungnya jatuh ke bawah dan hancur, Danu dibuat terkejut ketika melihat di dalam kepala patung itu berisikan kepala seorang manusia, mungkin karena bau busuk yang menyengat, membuat dia mual dan hampir mau muntah.
Gleen membiarkannya karena ada laporan dari Danu kalau misinya telah berhasil, dia telah menemukan kepalanya Olivia.
Karena itu, Danu dan Gleen mulai mengintrogasi Bu Risa. Bu Risa hanya bisa menangis dan menangis, di satu sisi dia merasa lega karena kejahatan anaknya sudah terungkap, dia satu sisi dia sangat merasa sedih dengan nasib sang anak.
"Aku tau sebagai seorang ibu, anda pasti sangat menyayangi putra anda. Tapi menyembunyikan kejahatannya tidak dibenarkan, Dion harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jangan sampai bertambah korban lagi." ucap Danu kepada Bu Risa, dia hanya ingin Bu Risa menyadari bahwa jika dia terus membiarkan Dion membunuh para korbannya, itu bukanlah sebuah kasih sayang. Kasih sayang yang sebenarnya adalah orang tua harus membiarkan anaknya bertanggungjawab terhadap kesalahan yang dia lakukan.
Bu Risa pun terisak. Akhirnya dia mengakui kejahatan yang telah dilakukan oleh putranya. "Ya, putraku Dion, dia adalah seorang psikopat. Dialah pembunuh berantai itu, bukan suamiku."
__ADS_1
Gleen dan Danu merasa lega akhirnya Bu Risa bersedia menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh Dion, mungkin Bu Risa ingin Dion bertanggungjawab terhadap kejahatan yang telah dia lakukan.
Mereka berharap Alvaro pun berhasil melumpuhkan Dion, walaupun mungkin pekerjaan Alvaro lebih berat karena harus menghadapi sang jagal seorang diri.
...****************...
Sementara itu Alvaro, saat ini dia sedang dikelilingi oleh lima belas orang anak buahnya Dion, mereka semua membawa senjata tajam, tapi Alvaro tak bergeming, dia tak takut pada mereka. Walaupun disini yang terlihat sangat ketakutan adalah Minah, wajar saja karena dia hampir saja mati ditangan Dion.
"Selamat tinggal Alvaro, hari ini adalah hari terakhir untukmu." ucap Dion sambil menyeringai puas, kemudian dia tertawa. Dia merasa senang karena pada akhirnya dia yang akan menang.
Tiga puluh menit yang lalu, sebelum Alvaro tiba disana, Alvaro telah mengirimkan sebuah pesan kepada Joana, dia hanya takut tidak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, agar seandainya jika dia mati, dia tidak mati penasaran.
Dulu Alvaro tidak takut mati, karena tidak akan ada yang menangisinya, dan dia tidak merasa berat meninggalkan seseorang. Tapi setelah kehadiran Joana di dalam hidupnya, dia selalu berharap bisa memiliki umur yang panjang agar bisa terus hidup bersama Joana dalam waktu yang lama.
Ponsel Alvaro terus saja terasa bergetar, mungkin ada panggilan telepon dari Joana, wanita itu sangat mengkhawatirkannya, tapi Alvaro belum bisa mengangkat telepon darinya untuk sementara ini, karena situasi sedang gawat darurat.
Kemudian Alvaro menyeringai sambil menatap Dion, "Jangan senang dulu, ada kejutan untukmu." Alvaro berkata seperti itu seakan meledek Dion yang sudah menganggap dirinya pemenangnya.
Tak lama kemudian, para pasukan polisi berdatangan dengan jumlah cukup banyak, mengepung mereka, pasukan polisi tersebut mengarahkan senjata ke arah semua anak buahnya Dion. "Letakan senjata kalian atau kami tembak!" ancam salah satu polisi yang ada disana.
Semua anak buahnya Dion membuang senjatanya ke tanah, lalu mereka mengangkat tangan mereka dengan ketakutan, takut di tembak oleh para polisi tersebut.
Seorang polwan segera mengamankan Minah, membawanya untuk segera pergi dari sana, karena Minah terluka parah, dia bisa dijadikan saksi terhadap kejahatan yang dilakukan oleh Dion.
__ADS_1
"Shittt!" Dion menatap tajam ke arah Alvaro, dia merasa dipermainkan oleh pria itu.
Alvaro menyeringai. Bukan Alvaro namanya jika dia tidak memikirkan rencana yang matang, apalagi menghadapi psikopat licik seperti Dion. Karena itulah instingnya sebagai seorang detektif tidak pernah diragukan.