Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 75


__ADS_3

Dion sedang sibuk memilih pisau mana yang harus dia gunakan untuk mengeksekusi Minah, dia akan melakukan hal yang sama dengan korbannya yang bernama Olivia.


Minah mencoba untuk bangkit, dia berjalan dengan pelan, meraih vas bunga yang ada di dekatnya.


Begitu Dion membalikkan badannya, Minah segera memukulkan vas bunga tersebut kepada kepala Dion.


Praaang...


Sebuah vas bunga mengenai kepala Dion, membuat kelapa Dion terluka, Dion terhuyung sambil meringis, darah segar mengalir dari kepala bagian belakangnya itu.


"Arrrgghh!" Dion memegang kepalanya yang terasa sakit dan pening, kemudian dia menatap dengan beringas ke arah Minah yang telah melukai kepalanya.


"Kurang ajar, akan ku habisi kamu pembantu sialan, akan aku patahkan lehermu!" Dion terlihat sangat geram, penuh amarah, seperti seorang monster yang siap memangsa, sampai suara nafasnya terdengar memburu begitu berat, menggeram seperti binatang buas.


Minah sangat ketakutan sekali, dia segera berlari dengan tertatih-tatih, dia tidak bisa cepat berlarinya karena luka sayatan di betisnya.


Letak rumah Minah memang jauh dari pemukiman, sehingga Minah terpaksa melarikan diri ke hutan. Dion mengejar Minah dengan berjalan santai, Minah tidak akan bisa keluar dari sini, apalagi kakinya terluka parah.

__ADS_1


Dion mengikuti Minah sambil bersiul dengan santai.


Minah berjalan cepat ke arah tebing, sambil merintih merasakan rasa sakit pada tubuhnya. "Arrrgghh!"


Mungkin karena kondisi tubuhnya Minah yang lemah, Minah sudah tak sanggup lagi untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, sehingga dia terjatuh mengenai sepatu hitam seseorang.


"Arrrgghh!" Minah merintih. Kemudian dia mendongakan kepala ke atas, ternyata pria dihadapannya itu adalah Alvaro.


"De... Detektif Al?"


Minah merasa lega, akhirnya ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan nyawanya, sampai dia menangis sesegukan.


Alvaro membantu Minah berdiri, dia melihat Dion yang sedang berdiri tak jauh dari mereka sambil membawa sebilah pisau yang sangat tajam.


Dion tertawa ketika melihat Alvaro yang telah datang, "Hahaha... sangat tidak seru, padahal aku ingin membunuh Joana di depan matamu. Tapi ternyata kamu malah ingin mengantarkan nyawamu sendiri kesini, Detektif Al."


Minah bersembunyi di belakang Alvaro, dia sangat ketakutan sekali, sampai tangannya gemetaran.

__ADS_1


Alvaro menyeringai, dia tak mau kalah dari Dion. "Sebaliknya, aku yang akan mengirimkan kamu ke neraka. Rencana kamu tidak akan pernah tersampaikan, psikopat gila!"


Dion tertawa kembali, luka yang ada di kepalanya tidak dia rasakan. "Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kamu yang harus aku lenyapkan, dengan begitu aku bisa membawa istrimu pergi bersama denganku. Itulah mengapa aku membiarkan kamu pergi kesini bertemu denganku. Karena aku akan memberikan pelajaran terhadap orang yang telah berani mengusik hidupku dan merebut seseorang yang sangat berarti untukku."


Dengan Alvaro mati, tidak akan ada yang melindungi Joana lagi, dengan begitu Dion bisa membawa Joana pergi jauh, Dion hidup bahagia dengan Joana.


Dion benar-benar telah menunjukkan wajah aslinya, pria itu terlihat seperti psikopat yang sesungguhnya, tangannya penuh dengan darah, pakaiannya pun dipenuhi noda merah, dan wajahnya nampak menyeramkan. Bahkan dia tertawa seperti orang gila. Inilah jati diri sang pembunuh berantai, Dion Sanjaya.


Kemudian Dion menepukan tangannya dua kali, seakan memberikan aba-aba kepada seseorang.


Alvaro melihat ada sekitar lima belas orang anak buah Dion berdatangan sambil membawa senjata tajam, karena Dion sangat tahu bagaimana kemampuan Alvaro dalam berkelahi, sehingga dia berinisiatif menyuruh anak buahnya untuk datang kesana membantunya untuk menghabisi Alvaro, sehingga seorang Detektif Al, yang telah dikenali banyak orang dalam mengungkapkan banyak kasus, akan tinggal hanya sebuah nama.


Minah yang sedang berdiri ada di belakang Alvaro, wanita itu semakin ketakutan melihat ada lima belas anak buah Dion mengelilingi mereka.


Dion memiliki banyak uang, pastinya dia memiliki anak buah yang bersedia dalam melancarkan aksinya, walaupun dalam mengeksekusi korban selalu dilakukan olehnya seorang diri.


"Selamat tinggal Alvaro, hari ini adalah hari terakhir untukmu." ucap Dion sambil menyeringai puas, kemudian dia tertawa.

__ADS_1


Alvaro memperhatikan para gangster yang siap akan menyerangnya, mereka semua telah membawa senjata tajam yang akan siap mencabik-cabik tubuh Alvaro.


__ADS_2