Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 44


__ADS_3

Bruukk...


Alvaro meloncat dari pagar pembatas balkon ke arah balkon kamarnya Joana, dia mengendap-endap berjalan di balkon sana, agar tidak ketahuan oleh Joana.


Kemudian Alvaro mengeluarkan dua buah obeng dan satu alat tipis dari tas kecil yang dia bawa untuk membongkar jendela kamar tersebut.


Alvaro seakan menjadi maling di rumahnya sendiri, demi mendapatkan jatah dari sang istri. Padahal dia ingin masuk ke kamar istri, tapi serasa akan masuk ke kamar selingkuhan.


Alvaro memasukan obeng ke celah beading di satu sudut, lalu dia mulai membongkar sedikit demi sedikit. Ketika beading sudah melonggar sepenuhnya, dia menarik dengan tangan sampai terbuka.


"Akhirnya berhasil." Alvaro sangat bernafas lega, akhirnya malam ini dia bisa melepaskan sebuah hasrat yang begitu menyiksanya.


Sang joni akhirnya akan mendapatkan jatahnya lagi. Ini bukan Alvaro yang mau, tapi joninya yang tak bisa diajak berkompromi. Kepala atas bawahnya akan pusing jika hasratnya tak tersalurkan.


Kemudian Alvaro masuk ke dalam kamar Joana dengan semangat melalui jendela. Alvaro loncat ke dalam kamar.


Namun, Alvaro nampak lemas dan senyumannya seketika memudar ketika melihat Joana yang telah tertidur pulas. Gadis itu memang telah tertidur, karena tidak tahu bahwa Alvaro akan membobol jendela kamarnya. Mungkin juga Joana telah kelelahan dengan pekerjaannya di kantor.


"Wah, dia enak-enakan tidur. Sementara aku tersiksa seperti ini." keluh Alvaro, dia memperhatikan Joana yang tengah tertidur di kursi sofa yang ada di kamar.


Mungkin Joana ketiduran saat menonton film di laptopnya, sehingga laptopnya masih menyala.


Alvaro lama sekali memandangi wajahnya Joana, wanita itu walaupun dalam keadaan tertidur pulas, tapi tetap terlihat sangat cantik. Alvaro tidak memungkiri bahwa istrinya memang sangat cantik.

__ADS_1


Alvaro berjalan mendekati Joana, dia mematikan laptopnya sang istri. Kemudian dia segera menggendongnya, merebahkan tubuh Joana diatas kasur. Karena tidak tega membiarkan Joana tertidur di kursi sofa.


Walaupun dia sangat ingin melakukannya, tapi dia tidak tega membangunkan Joana. Wanita itu pasti kelelahan dengan pekerjaannya di kantor.


Alvaro pun menyelimuti tubuh Joana dengan selimut tebal. Dia duduk di pinggiran kasur, merapikan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantiknya Joana.


Mata Alvaro tertuju pada belahan di dadanya Joana, sangat menggoda. Sampai Alvaro menelan saliva dengan susah payah, karena masih terbayang bagaimana indahnya buah melon milik Joana yang masih padat dan sin-tal.


Alvaro menggelengkan kepalanya. "Aku tidak boleh melakukannya, sekarang ini dia sedang tidur, aku tidak boleh membuatnya semakin kelelahan."


Tanpa sadar mata Alvaro tertuju pada bibirnya Joana, bibir Joana memang sangat menggoda, Alvaro tak dapat menahan dirinya, dia menunduk kepalanya, sehingga bibirnya menempel pada Bibir Joana, mengecup bibirnya dengan sekilas.


"Baiklah, malam ini kamu bebas, Joana." ucap Alvaro walaupun dia harus nelangsa malam ini karena tidak mendapatkan jatah.


Alvaro tak sengaja melihat ada koleksi foto di laptop tersebut, itu adalah foto-foto Joana ketika Joana masih kecil, ketika Joana telah mulai beranjak menjadi remaja, dan setelah Joana beranjak dewasa.


Tanpa sadar Alvaro tersenyum ketika melihat foto Joana yang masih kecil, mungkin usianya kurang lebih sekitar 5 tahunan. "Sangat imut." pujinya.


Alvaro memandangi foto Joana yang masih remaja, wanita itu sudah terlahir cantik dari kecil, dia semakin terlihat cantik setelah beranjak dewasa.


Alvaro menarik nafas dalam-dalam, dia yakin dia pasti bisa menghilangkan sejenak hasratnya, memang seorang pria paling susah dalam mengendalikan hawa naf-su, apalagi orang yang membuatnya bergairah ada di depan mata. Sayangnya orang yang membuatnya bergiarah itu sudah tertidur lelap.


Drrrrtt...

__ADS_1


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Alvaro mendengar ponselnya Joana bergetar diatas meja, dia tak sengaja melihat ada sebuah pesan masuk dari seseorang bernama Aditya.


[Joana, apa kamu sudah tidur?]


Alvaro menghela nafas ketika membaca pesan itu, padahal Aditya tahu bahwa Joana telah memiliki seorang suami.


Alvaro segera membalas pesan dari Aditya.


[Joana sudah tidur, ini dengan suaminya.]


Tak lama kemudian Aditya membalas pesan dari Alvaro.


[Oke, titip salamku untuknya.]


Alvaro terperangah membaca pesan balasan dari Aditya, seakan pria itu sedang menantang suaminya, sampai menitipkan salam untuk sang istri.


Mungkin karena Aditya merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan Joana dan Alvaro, apalagi ketika dia menyaksikan sendiri saat Alvaro melamar Joana di pesta. Dari raut wajah Joana, sangat terlihat bagaimana Joana terkejut sekaligus kebingungan ketika dia dilamar oleh Alvaro.


Bagaimana Joana tidak kebingungan waktu itu, karena Joana menyuruh Alvaro datang ke pesta untuk menjelaskan kejadian sebenarnya kepada ayahnya bahwa Alvaro bukanlah pacarnya Joana dan mereka tidak melakukan apapun di kamar hotel itu, tapi sungguh diluar dugaan, Alvaro malah melamarnya.

__ADS_1


Padahal malam itu Aditya telah meminta ayahnya untuk menjodohkannya dengan Joana, sayang sekali dia kalah cepat dari Alvaro. Tanpa Alvaro sadari, Alvaro telah mematahkan para pria yang memiliki perasaan pada istrinya itu.


__ADS_2