
Dimas dan Bu Nadia terkejut ketika melihat ada tim dari kepolisian datang menghampiri mereka. Rupanya Alvaro telah melaporkan mereka berdua atas semua kejahatan yang telah mereka lakukan.
"Saudari Nadia dan Saudara Dimas, kalian kami tangkap atas rencana pembunuhan terhadap Nona Joana." ucap salah satu polisi yang ada disana.
Mungkin untuk saat ini hanya tuduhan atas rencana pembunuhan terhadap Joana, karena hanya bukti kasus itu yang sudah lengkap. Sementara bukti kasus yang lainnya masih dalam proses, karena belum ada bukti yang kuat.
Jika seandainya mereka terbukti menjadi tersangka kasus rencana pembunuhan terhadap Pak Riki dan pembunuhan berencana terhadap Bianca, kemungkinan mereka akan dihukum seberat-beratnya, atau bisa saja mereka di hukum mati ataupun dipenjara seumur hidup.
Salah satu diantara mereka ada yang segera memborgol tangan Bu Nadia dan Dimas.
Bu Nadia mencoba untuk memberontak, dia tidak mau mengakui kesalahannya. "Eh lepaskan saya, saya difitnah, Pa. Saya tidak tahu apa-apa."
Sementara Dimas, dia tidak ingin hidup dibalik jeruji besi, dia menyikut perut seorang polisi yang akan memborgolnya, sehingga dia bisa berlari dengan cepat untuk melarikan diri menyusuri lorong rumah sakit.
"Shitt..." Joana sangat geram melihatnya, tapi Alvaro mencoba untuk menenangkannya.
"Kamu tunggu disini, jaga ayahmu. Biar Dimas menjadi urusanku." ucap Alvaro dengan begitu tenang.
Alvaro mengikuti para polisi yang sedang berlarian untuk mengejar Dimas.
Dimas berlari secepat mungkin sampai rasa sakit di wajahnya bekas pukulan dari Alvaro tidak dia hiraukan, yang penting saat ini dia bisa melarikan diri.
Polisi tidak mungkin menembak Dimas disembarangan tempat, apalagi di rumah sakit, karena disana banyak orang berlalu lalang.
Alvaro segera menelepon Gleen, "Apa kamu sudah standby?"
"Sudah, sesuai instruksi darimu." jawab Gleen, sambil menyetir truk kontainer, disampingnya ada Danu yang sudah berhasil menemukan rekaman CCTV penembakan yang dilakukan oleh Liam terhadap Bianca.
__ADS_1
Rupanya sudah ada orang yang menunggu Dimas di depan rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan pembunuh bayaran yang di sewa mahal oleh Dimas.
Zdor...
Zdor...
Zdor...
Bahkan tanpa segan Liam menembak tiga orang security yang berusaha untuk mencegah Dimas, tanpa dia harus keluar dari mobil. Sehingga para security terkapar dengan bersimbah darah.
Dimas segera masuk ke dalam mobil milik Liam, dengan cepat Liam mengendarai mobilnya.
Liam menaikkan kecepatan mobilnya.
Brrmmm...
Brrmmm...
Brrmmm...
Namun saat mobil itu hendak melintasi persimpangan jalan, tiba-tiba terdengar sebuah suara dentuman begitu keras.
JEGEEEERR!
Mobil yang ditumpangi oleh Liam dan Dimas menabrak sebuah truk kontainer yang tiba -tiba saja berhenti memalang di tengah jalan, menutup akses jalan mereka.
Membuat mobil tersebut terjungkal berkali-kali.
__ADS_1
Brugh...
Brugh...
Brugh...
Gleen dan Danu segera keluar dari truk kontainer sana, Gleen dan Danu mengedipkan matanya kepada Alvaro yang baru tiba disana, sambil tersenyum penuh rasa kemenangan, hal seperti ini memang sudah dipersiapkan, tentu saja sesuai komando dari Alvaro.
"Arrrgghh... Arrrgghh!" Dimas merintih kesakitan, dia merasakan kakinya patah, sehingga tak bisa digerakkan.
Sementara Liam, dia tak sadarkan diri karena kepalanya terluka saat mengalami benturan yang keras.
Alvaro berjalan dengan santai mendekati mobil yang dalam keadaan terjungkal itu, dia melihat ada Dimas yang sedang berusaha untuk keluar dari mobil tersebut.
Alvaro tersenyum kecut kepada sang kakak ipar, "Inilah balasan untukmu karena telah melukai orang-orang terdekatku. Dan hari ini penderitaanmu akan segera dimulai."
Dimas hanya bisa menatap geram kepada Alvaro, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena kakinya patah. Pria itu hanya bisa menggeram kesakitan. "Arrrgghh.... kakiku!"
Tak lama kemudian dari pihak kepolisian pun datang, untuk menangkap Dimas dan Liam.
Alvaro mendekati Gleen dan Danu yang sedang berdiri di samping sebuah truk kontainer yang bagian belakangnya telah penyok.
Danu menyerahkan memory card hasil rekaman CCTV yang didapatkan olehnya kepada Alvaro, disana terdapat sebuah rekaman yang jelas ketika Liam menembak mati Bianca. "Aku sudah berhasil mendapatkan rekaman CCTV-nya."
Begitu pun juga Gleen, dia memberikan satu buah gelas yang sudah diamankan ke dalam kantong plastik, "Semoga ini bisa dijadikan bukti bahwa mereka sering memberikan racun polonium pada minuman ayah mertuamu."
Alvaro merasa terharu, kedua sahabatnya selalu ada untuknya, dan bahkan mereka selalu kompak dalam memecahkan sebuah kasus. "Terimakasih, kalian adalah sahabat dan partner terbaik."
__ADS_1