
"Al!" Bianca memanggil Alvaro yang sedang mencari keberadaannya, mungkin Alvaro mengalami kesulitan untuk mencari Bianca karena di taman tersebut banyak sekali orang berlalu lalang.
Alvaro pun membalikkan badannya, sehingga dia berhadapan dengan Bianca.
Malam ini Bianca sangat bahagia sekali, matanya berkaca-kaca begitu melihat sosok pria dihadapannya, walaupun jarak mereka terpaut enam meter, sampai wanita itu meneteskan air matanya.
Bianca akan belajar mengikhlaskan Alvaro, walaupun sebenarnya dia sangat berat sekali untuk melakukannya, buktinya selama lima tahun berpisah dengan pria itu, rasa cinta Bianca tidak pernah memudar.
Sayangnya dulu ambisi dan keserakahan telah mengalahkan rasa cinta itu, sehingga dengan tega dia menyakiti Alvaro yang telah banyak berkorban untuknya, dan dia harus menjadi seorang pembunuh untuk calon anak mereka, buah cinta mereka.
Bianca meronggoh tasnya, dia ingin memberikan botol kecil berisi polonium kepada Alvaro, untuk menebus rasa bersalah dia kepada ayah mertuanya, selama ini sang ayah mertua selalu memperlakukannya dengan baik, tapi dengan teganya dia menutup mata terhadap apa yang dilakukan oleh Bu Nadia dan Dimas untuk membuat Pak Riki mati dengan perlahan, dan malah mendukung kejahatan mereka.
Semenjak melihat Alvaro terluka karena luka tembak gara-gara rencananya sendiri yang padahal saat itu Bianca mengharapkan Joana mati, tapi malah Alvaro yang terluka, gara-gara ide darinya yang menyuruh Dimas untuk mempercepat rencana pembunuhan terhadap Joana, itulah awal Bianca sadar bahwa apa yang telah dia lakukan selama ini sangat kejam, berimbas orang yang dicintainya harus terluka.
Dari tatapan pria itu, Bianca sadar bahwa sudah tidak ada ruang lagi untuk dirinya, Alvaro sudah tak memiliki perasaan apapun padanya. Sungguh sangat menyesakkan.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan begitu keras memekakan telinga.
Zdor...
Sebuah peluru melesat dengan cepat menembus perut bagian kiri Bianca, membuat wanita itu terkulai tak bertenaga, darah segar telah mengalir keluar dari perutnya Bianca, membuat kemeja biru yang dia kenakan telah bersimbah darah.
"Bianca!" Alvaro terkejut, dia segera berlari menangkap tubuh Bianca yang hampir saja terjatuh.
Walaupun dia tak memiliki perasaan lagi pada Bianca, tapi dia tidak mungkin membiarkan seseorang terluka dihadapannya, apalagi dia cukup mengenal Bianca dengan baik.
Alvaro menyumpal perut Bianca dengan tangannya, "Bertahanlah Bi!"
Orang-orang yang ada disana sangat terkejut dengan kejadian mengerikan tersebut, sehingga ada beberapa orang yang berhamburan untuk menjauhi TKP, ada juga yang peduli, ada seorang pria paruh baya segera menelepon ambulan. "Hallo, ada seorang wanita yang terluka kena tembak, tolong kirim ambulan ke taman yang ada di jalan xxxx."
__ADS_1
Mata Alvaro beredar mencari siapa orang yang telah menembak Bianca, dia yakin orang itu ada disalah satu kerumunan yang tadi, sayangnya tidak ada yang mencurigakan, atau mungkin dia telah pergi dari sana.
Bianca membuka matanya, walaupun nafasnya tersendat. Dengan sisa tenaga yang dia punya, dia memberikan botol kecil yang ada di genggamannya kepada Alvaro.
"Se-selamatkanlah ayah mer-mertuamu, Al. Di-dia membutuhkanmu!" Walaupun Bianca sudah kesulitan untuk bernafas tapi dia berusaha keras untuk berbicara.
"Di-Dimas dan Bu Na-Nadia telah meracuninya."
Alvaro tercengang mendengarnya, sehingga dia sangat mengkhawatirkan ayah mertuanya. Tapi saat ini dia harus membawa Bianca ke rumah sakit, dia tidak mungkin membiarkan Bianca mati mengenaskan seperti ini.
Terdengar suara ringisan kesakitan Bianca, air mata masih tergenang dimatanya, meniti lewat hidung. Wajahnya semakin memucat.
"Bertahanlah Bianca! Tolong bertahanlah! Ambulan akan segera tiba." Alvaro terus memperingatkan Bianca agar terus mempertahankan kesadarannya.
"Ma-maafkan aku, Al. Atas se-semua kesalahan yang telah aku lakukan, luka yang aku to-torehkan kepadamu terlalu da..lam, kamu pantas membenciku." Nafas Bianca sudah mulai tak beraturan, dia berkata seperti itu dengan menitikan air matanya.
Alvaro terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar permintaan maaf dari Bianca.
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus bertahan, Bianca!" ucap Alvaro ketika mendengar perkataan Bianca yang seolah-olah menandakan bahwa dia akan segera pergi untuk selamanya.
Bianca menggelengkan kepalanya, wanita itu masih menangis, tangannya menyentuh wajah tampannya Alvaro. "A-aku sangat mencintaimu dan aku sa-sangat menyesal telah melukaimu, Al. Ma-maafkan aku!"
Setelah berkata seperti itu, tangan Bianca terkulai lemas di atas tanah yang kotor, diikuti dengan sepasang matanya yang mengatup rapat. Bianca telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Alvaro menitikan air matanya, dia tidak mengira bahwa malam ini benar-benar pertemuan terakhirnya dengan Bianca, untuk selamanya. "Bi..."
Bianca meninggal dengan keadaan tenang, karena dia telah meminta maaf dengan setulus hati kepada Alvaro, bahkan sebelum mereka bertemu, Bianca telah mengirimkan sebuah surel kepada polisi, bahwa dia telah mengakui perbuatannya, dialah pelaku tabrak lari sesungguhnya terhadap seorang kakek, pada tahun 2018 silam.
Bianca ingin mengembalikan nama baik Alvaro, sehingga namanya bersih dari pelaku tindak pidana. Itulah hal terakhir yang bisa Bianca lakukan untuk menebus kesalahannya kepada Alvaro.
__ADS_1
Walaupun malam ini Bianca harus pergi, tapi dia sangat merasa bahagia karena mati di dalam dekapan Alvaro, dan Alvaro adalah orang yang terakhir dia lihat saat menghembuskan nafas terakhirnya.
Dan akhirnya suara sirene ambulan pun telah terdengar memekakan telinga, menjemput Bianca yang sudah tak bernyawa lagi.
...****************...
Sabtu, 9 September 2023
Kepada Yth.
Kapolsek xxxxxx
Di Kota A
Teruntuk Bapak Kapolsek yang terhormat, dengan ini saya ingin memberitahukan sebuah kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Saya, Bianca Erliza, akan mengakui dengan kesadaran saya sendiri tanpa melalui sebuah paksaan dari pihak manapun, bahwa saya adalah pelaku sebenarnya pada kasus tabrak lari pada seorang korban bernama Beni Muhaemin pada tanggal 24 April 2018, pukul 1 siang, di Jalan Raya Nagasuka.
Mantan suami saya, Alvaro Ferdinand, dia tidak bersalah, dia hanya ingin melindungi saya, karena saya yang memintanya untuk menggantikan saya waktu itu.
Adapun saya akan memberikan bukti konkret pada kejadian itu, yang akan saya langsung kirimkan, perihal video rekaman di dashcam mobil saya kala itu.
Ttd.
Bianca Erliza
No KTP: 1234567XXXXXXXX
No HP: O85xxxxxxxxx
__ADS_1
...****************...
...Jangan pernah meninggalkan pasanganmu yang menemanimu dari nol hanya karena pendatang baru yang hanya ingin menjadi penikmat....