Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 62


__ADS_3

Alvaro masih belum sadarkan diri, dia masih terbaring di rumah sakit. Dan Joana selalu setia menemaninya, sangat berharap Alvaro segera membuka matanya.


Joana duduk di samping Alvaro, dia memegang tangan Alvaro, matanya sembab mungkin karena sering menangis, sangat mengkhawatirkan kondisi Alvaro.


Joana merasa dia telah berhutang budi pada Alvaro, Alvaro yang sifatnya selalu membuatnya kesal dan sangat menyebalkan, akan tetapi dia rela terluka demi menyelamatkan Joana. Pria itu rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi dirinya.


"Al, kamu harus bangun. Kamu berhutang banyak padaku." ucapnya sambil terisak-isak. Hutang yang dimaksud Joana salah satunya dia ingin tahu apa alasan Alvaro menikahi Joana dan Joana sebenarnya sangat ingin tahu bagaimana perasaan Alvaro kepadanya.


Joana sangat menyayangkan mengapa dia baru menyadari perasaannya terhadap Alvaro setelah Alvaro terluka seperti ini, dia sangat takut kehilangan Alvaro, dia baru tahu ternyata perasannya kepada Alvaro begitu dalam, dia telah jatuh cinta kepada pria itu, entah sejak kapan, dia pun tak tahu.


"Aku kangen sifat menyebalkan kamu, Al." Karena bagi Joana memang tak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan dengan Alvaro, tapi ternyata sifatnya itu malah membuat Joana sangat merindukannya.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Ponsel Joana bergetar, dia mendapatkan pesan dari ayahnya.

__ADS_1


[Papa ada di ruangan direktur, papa ingin berbicara denganmu sebentar.]


Rumah sakit tempat Alvaro dirawat memanglah rumah sakit yang ada di bawah naungan Alpha Group, sehingga keamanan Alvaro terjamin disana.


Jika ayahnya mengirim pesan seperti itu, itu artinya ayahnya ingin berbicara tentang hal yang sangat penting kepada Joana.


Ayahnya memang sering menjenguk Alvaro, karena bagi Pak Riki, Alvaro adalah sosok menantu yang mengagumkan. Alvaro mampu mengubah Joana yang awalnya memiliki sifat yang tidak mau diatur-atur, kini Joana telah bisa bersikap dewasa, bahkan bisa bekerja dengan baik, berkat dukungan dari Alvaro. Apalagi Alvaro rela terluka demi melindungi Joana.


Joana segera menghapus air matanya, kemudian dia pergi ke ruangan direktur untuk bertemu dengan ayahnya.


Joana merasa khawatir ketika melihat ayahnya yang terbatuk-batuk.


"Uhukk... uhukk..."


"Seharusnya papa harus diperiksa kembali, batuk papa semakin parah." Joana berkata dengan nada khawatir, sebagai seorang anak dia pasti sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.


"Papa selalu meminum obat setiap hari, kamu tenang saja, Jo. Papa baik-baik saja." ucap Pak Riki sambil tersenyum, "Bagaimana kondisi suamimu?" Pak Riki lebih mengkhawatirkan kondisi menantunya.


Raut wajah Joana memperlihatkan kesedihannya. "Alvaro belum sadarkan diri sampai sekarang, Pa."

__ADS_1


"Dokter Arga bilang mungkin sebentar lagi Alvaro akan siuman. Alvaro adalah suami yang hebat, papa sangat bersyukur kamu menikah dengan pria sehebat Alvaro. Jika seandainya papa ditakdirkan untuk segera menghadap Tuhan, papa merasa tenang Karena ada sosok pria yang akan selalu menjagamu." Pak Riki mengatakannya dengan kesungguhan hatinya.


"Papa jangan bilang begitu, papa harus sembuh, papa harus sehat kembali." Joana tidak ingin kehilangan ayahnya. Kemudian Joana sedikit menundukan kepalanya, dia merasa tersentuh dengan perkataan sang ayah, karena apa yang dikatakan ayahnya memang benar adanya, Alvaro adalah suami yang hebat.


"Tadinya papa ingin segera memutuskan untuk memberitahu semua orang bahwa kamu adalah penerus Alpha, Jo. Papa ingin mempercayakan perusahaan padamu. Tapi karena kondisi Alvaro masih belum membaik, papa akan menundanya sebentar, hanya saja papa sudah menandatangani surat wasiat papa dan juga nama pemilik perusahaan telah papa ganti atas namamu, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua." Pak Riki berkata dengan nada serius.


Mata Joana berkaca-kaca mendengar perkataan ayahnya, dia memang bukan wanita gila harta, tapi Joana sadar bahwa memang dia lah yang harus menjadi penerus perusahaan. Dia tidak akan rela jika perusahaan yang dibangun dari nol oleh orang tuanya harus jatuh ke tangan tiga manusia laknat itu.


"Papa..." Joana tak mampu berkata apa-apa, dia hanya bisa terisak.


"Maafkan papa, memang seharusnya dari awal perusahaan Alpha adalah milikmu, tapi papa hanya ingin tahu bagaimana kesungguhan kamu terhadap perusahaan." Mungkin karena Pak Riki tahu bagaimana sifat Joana yang dulu, sebelum bertemu dengan Alvaro.


Setelah berbicara panjang lebar dengan ayahnya, Joana segera kembali ke tempat Alvaro dirawat.


Joana berjalan kaki dengan begitu cepat, agar dia bisa cepat sampai ke tempat Alvaro dirawat, apalagi setelah dia mendengarkan kabar bahwa Alvaro akan cepat siuman.


Namun, Joana mengurungkan niatnya ketika dia hendak membuka pintu, Joana tak sengaja melihat ada Bianca di dalam, wanita itu terlihat sedang menangis memegang tangan Alvaro.


Hal tersebut membuat hati Joana bertanya-tanya, ada hubungan apa diantara mereka, mengapa Bianca harus menangis seperti itu, apalagi Bianca terlihat sedang menggenggam tangan suaminya. Sungguh sangat mencengangkan untuk Joana, membuat matanya berkaca-kaca seketika.

__ADS_1


__ADS_2