
Bu Risa menjerit begitu melihat kondisi anak semata wayangnya, Dion harus meninggal dengan cara yang mengenaskan, walaupun mungkin tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan sang pembunuh berantai itu terhadap para korbannya.
Nasib korban lebih tragis dibandingkan dengan kematian Dion. Beruntung Minah telah selamat, dan sekarang kondisinya baik-baik saja.
Walaupun di mata orang lain Dion akan dikenang sebagai seorang psikopat, tapi bagi Bu Risa Dion adalah anaknya, putra satu-satunya. Sehingga dia terus saja menangis histeris memanggil nama sang anak.
"Dion, anakku!"
"Dion!"
"Arrrgghh.... Dion!"
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bu Risa mengikhlaskan kepergiannya, mungkin inilah cara yang terbaik untuk menghentikan kejahatan dari seorang Dion Sanjaya, agar tidak ada banyak korban lagi.
Mungkin karena semasa hidupnya, Dion ingin memusnahkan para wanita murahan, agar tidak ada ada wanita yang bernasib sama seperti ibunya, seorang ibu yang menderita karena korban perselingkuhan ayahnya dan para wanita murahan simpanan ayahnya.
Tapi cara yang dilakukan Dion tidaklah benar, dan sangat keji. Sesalah apapun orang lain, dia tidak berhak untuk menghakimi kesalahan mereka, biarlah itu semua menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Mungkin karena memang pengaruh besarnya ada pada gangguan kepribadian yang dialami oleh Dion sedari kecil, yang mengarah pada psikopat. Padahal jika ada dukungan dari orang tua, Dion tidak akan tumbuh menjadi seorang pria yang mengerikan, mungkin saja Dion bisa menjalani kehidupan selayaknya manusia normal pada umumnya.
__ADS_1
Dan hal ini menjadi pukulan berat untuk Pak Alex, mungkin dialah faktor utama yang membuat Dion nekad menjadi seorang pembunuh. Pak Alex memang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi saja, karena Dion lah pembunuh yang sebenarnya.
Pak Alex pun menangis, dia menyalahkan dirinya sendiri, karena dia telah merasa gagal menjadi orang tua gara-gara kesenangan duniawinya Bahkan demi sebuah jabatan, tidak ingin nama baiknya tercemar, dia menyembunyikan kejahatan putranya tersebut.
"Dion, maafkan papa, Nak."
"Arrrgghh... maafkan papa, Nak. Papa tidak bisa menjadi papa yang baik untukmu."
"Arrrgghh.... Dion!"
Pak Alex merasa Dion kurang beruntung karena harus memiliki seorang ayah sepertinya. Dia sangat merasa bersalah kepada Dion.
Mungkin diantara mereka ingin ada yang menghajar Dion, tapi sayangnya mereka tak bisa melakukannya, karena sang tersangka kini telah mati.
Alvaro mengizinkan Joana untuk melihat Dion untuk terakhir kalinya, kebetulan Alvaro saat ini sedang dirawat di rumah sakit yang sama, karena ada cidera pada bagian punggungnya, saat dia terjun dari tebing, walaupun tidak parah, dan Alvaro awalnya menolak untuk dirawat, tapi karena Joana memaksanya, akhirnya Alvaro mengiyakan.
Setelah Bu Risa dan Pak Alex pergi, Joana datang ke kamar mayat seorang diri, dia membuka kain yang menutupi tubuh Dion. Walaupun dia tak memiliki perasaan lagi pada Dion, tapi tetap saja dia merasa sedih dengan apa yang terjadi pada kehidupan Dion.
__ADS_1
Mungkin Dion memang telah menjadi seorang pembunuh berantai, tapi selama ini Dion tak pernah melakukan kesalahan apapun pada Joana, disaat Dion ingin menjadikan Joana targetnya, tapi selalu berperang dengan hatinya yang yang sangat mencintai wanita itu. Selain itu, dia adalah anak yang baik untuk ibunya, tak akan membiarkan ibunya dilukai oleh siapapun. Tapi walaupun begitu, tetap saja pembunuh adalah seorang pembunuh, entah apapun alasannya, menghilangkan nyawa seseorang tidak dibenarkan.
"Selamat tinggal Dion, aku harap dikehidupan kamu yang selanjutnya kamu terlahir menjadi seorang manusia yang baik, seperti Dion yang selama ini aku kenal." ucap Joana sambil menitikkan air matanya.
"Terimakasih, selama ini kamu selalu menjadi bersedia menjadi pendengar aku ketika aku memiliki banyak masalah dengan keluargaku." Joana menghapus air matanya yang dari tadi terus mengalir.
Pada akhirnya Dion tak sanggup membunuh Joana, wanita yang dia cintai.
Mungkin setelah ini Dion harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan Tuhan, karena kejahatannya tak termaafkan dan sangat sadis.
Setelah itu Joana menutup kembali mayatnya Dion dengan kain berwarna putih.
Inilah akhir dari perjalanan seorang psikopat, Dion Sanjaya. Yang pastinya meninggalkan luka yang mendalam untuk para keluarga korban yang telah dibunuh olehnya secara sadis.
Disamping itu, mungkin hampir semua orang di negeri menganggap kematian Dion adalah berita bahagia, karena akhirnya seorang pembunuh berantai seperti Dion telah musnah di dunia ini. Semoga tidak ada Dion lainnya di dunia ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Ada pepatah yang mengatakan seorang anak tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua seperti apa, tapi orang tua bisa memilih akan menjadi orang tua seperti apa untuk anaknya....