
Dua gangster penjahat berlari untuk menyerang Alvaro, dengan santai Alvaro menghadapi mereka, dia menahan bogeman dari gangster berbaju merah, sementara kakinya menendang gangster berbaju hitam, sehingga gangster berbaju hitam itu terjungkal ke aspal.
Krek...
Alvaro memutarkan tangan gangster berbaju merah, membuat tangannya keseleo, sampai gangster itu menjerit memohon ampun, "Ah ampun bang, ampun bang. Tanganku sakit bang, aduh!"
Bugh...
Alvaro memberikan bogem mentah pada wajah gangster berbaju merah tersebut, kemudian dia menendang kembali perut gangster berbaju hitam yang hendak bangun untuk menyerang Alvaro lagi.
Alvaro telah berhasil melumpuhkan dua gangster yang sedari tadi menahan Joana, tinggal satu gangster lagi. Sementara kedua sahabatnya dan 10 orang gangster The Jhon tengah sibuk bertarung dengan para para gangster penjahat.
"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuh dia?" ucap seorang gangster sambil mengarahkan pisau pada leher Joana.
Joana terlihat ketakutan sekali, apalagi pisau yang dipegang oleh gangster tersebut sangat tajam, membuat lehernya Joana sedikit tergores.
Alvaro sangat marah melihatnya, "Brengsek! Cepat lepaskan dia atau kamu ingin mati ditanganku?" Dia berjalan berhati-hati mendekati Joana yang sedang ditahan oleh seorang gangster dari belakang.
Alvaro merasa ngilu sendiri melihat leher Joana yang sedikit tergores, demi apapun, dia tidak akan pernah memaafkan gangster berambut keriting itu, sampai dia mengepalkan tangannya menatap tajam ke arah gangster tersebut.
"Hahaha... tidak akan, aku akan melenyapkannya di muka bumi ini." Gangster tersebut malah tertawa terbahak-bahak.
Joana merasakan perih di area lehernya, mungkin karena lehernya sedikit terkena goresan oleh tajamnya pisau yang terus diarahkan oleh gangster berambut keriting tersebut.
__ADS_1
Joana harus memberanikan diri untuk melawan, dia menginjak kaki gangster tersebut, membuat gangster itu kesakitan, sehingga pisau yang dia pegang terjatuh ke aspal.
"Ahhh, cewek sialan!"
Joana segera berlari untuk menjauhi gangster tersebut, sementara Alvaro datang menyerang secara membabi buta pada gangster berambut keriting tersebut.
Alvaro menendang dada gangster itu, membuatnya jatuh terjengkang ke aspal, Alvaro duduk diatas perutnya memberikan banyak bogem pada wajah gangster itu. Dia sangat marah, karena gangster itu telah berani melukai Joana.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"Brengsek, aku akan membunuhmu!" Alvaro bagaikan kesetanan, dia terus memberikan banyak pukulan ke wajah gangster yang berambut keriting tersebut, sampai wajahnya terluka, hidung dan mulutnya berdarah.
"Al, berhenti Al!" Joana merangkul Alvaro dari belakang.
Joana sangat merasa tersentuh, Alvaro bisa semarah itu karena gangster berambut keriting tersebut telah membuat Joana terluka.
Alvaro bagaikan kesetanan, sangat terlihat marah kepada gangster tersebut. Baru kali ini. Joana melihat Alvaro bisa semarah itu, karena tidak rela melihat Joana terluka.
Alvaro telah membuat gangster tersebut pingsan, pelukan Joana telah membuat dirinya sedikit tenang, dia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
__ADS_1
Alvaro terdiam membiarkan Joan memeluk punggungnya dari belakang. Emosinya kini sudah mulai meredup, yang penting sekarang Joana baik-baik saja, dia sudah sangat bersyukur.
Alvaro teringat luka goresan di leher Joana, dia segera membalikkan badan, dia melihat goresan dileher Joana tersebut, "Lehermu gak apa-apa kan? Kita lebih baik ke rumah sakit, Jo."
"Aku gak apa-apa, Al. Ini hanya luka kecil." Joana mencoba meyakinkan Alvaro.
Di sebuah rooftop gedung yang ada di sekitar sana, terlihat ada seorang pria memakai sebuah topeng, dia tersenyum sinis mengarahkan sebuah senapan ke arah Alvaro, kemudian ke arah Joana. Sepertinya dia nampak bimbang harus menembak Alvaro atau Joana. Siapa yang harus dibuat mati terlebih dulu?
Alvaro tak sengaja melihat ke arah gedung yang ada disekitar jalan raya tersebut, dia melihat ada seorang pria memakai topeng yang sedang mengarahkan senapan ke arah Joana.
Rupanya pria tersebut telah menekan pelatuk, membuat peluru melesat dengan cepat ke arah Joana.
"Jo, awas!" Alvaro segera menarik Joana, membuat posisinya memasang badan untuk melindungi wanita itu, sehingga terdengar bunyi tembakan memekakan telinga.
Zdor...
Sebuah peluru melesat menembus punggung Alvaro.
"Shhh..." Alvaro sedikit meringis, merasakan darah segar mengalir di punggungnya.
Joana terkejut, dia melihat ada darah bercucuran di punggung Alvaro. "Al, punggungmu terluka!"
"Shittt..." Gleen yang sedang berkelahi dengan seorang gangster, dia tidak terima melihat sahabatnya terluka seperti itu. Dia segera berlari ke arah gedung untuk menangkap orang yang menembak Alvaro.
__ADS_1
Tapi sayangnya Gleen tak menemukan siapapun di rooftop gedung tersebut, orang itu langsung pergi begitu saja setelah menembak Alvaro.
"Kenapa dia cepat sekali menghilangnya?" ucap Gleen sambil terengah-engah, mungkin karena kelelahan harus berlari dari bawah sampai ke lantai atas yang memiliki ketinggian lima lantai. Sepertinya orang yang menembak Alvaro adalah seorang pembunuh profesional.