Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 41


__ADS_3

Setelah pekerjaannya selesai, Alvaro bergegas untuk menjemput Joana ke kantor pusat Alpha, dia memarkirkan mobil mewahnya di depan kantor milik sang mertua.


Alvaro melihat ada empat orang bodyguard yang selalu setia menjaga Joana, mereka saat ini sedang berdiri di depan kantor, karena Joana tak mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam.


Kemudian Alvaro menyuruh mereka untuk pulang duluan.


"Kalian boleh pergi duluan, biar istriku pulang bersama denganku." ucap Alvaro kepada keempat bodyguard yang dari tadi selalu setia standby di depan kantor pusat Alpha tersebut.


"Baik, Tuan." ucap keempat bodyguard tersebut hampir bersamaan. Mereka segera pergi, menuruti perintah dari bosnya.


Alvaro tak menyadari ada banyak mata memperhatikannya, memuji dirinya, karena mengira Alvaro adalah sosok suami yang sangat siaga. Sampai mempekerjakan empat orang bodyguard untuk menjaga Joana, apalagi sekarang dia sendiri yang menjemput Joana.


"Benar-benar suami idaman. Suami Nona Joana sangat tampan, kaya, macho, dan sangat siaga terhadap istrinya." ucap karyawan wanita 1.


"Semoga Tuhan mengirimkan kita lelaki seperti itu. Dia pasti sayang sekali sama Nona Joana." ucap karyawan wanita 2.


"Iya, aku juga mau punya suami seperti itu, aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Hanya wanita bodoh yang menyia-nyiakan laki-laki seperti itu." ucap karyawan wanita 3.


Deg!


Perkataan karyawan wanita yang terakhir membuat Bianca merasakan ngilu dihatinya, karena dia memang saat ini sedang berada di sekitar mereka, tepatnya dia sedang menunggu Dimas keluar dari kantor, agar selalu terlihat harmonis, selalu pulang bersama.


Tapi Bianca membenarkan perkataan karyawan tersebut, dia memang wanita yang sangat bodoh, telah menyia-nyiakan Alvaro, itulah mengapa dia ingin kembali pada Alvaro, karena tidak akan ada yang bisa menggantikan Alvaro dihatinya, dan tak ada pria yang mencintai seorang wanita begitu dengan setulus hati seperti Alvaro.

__ADS_1


Bianca saat ini harus menahan diri ketika melihat Alvaro yang sedang berdiri di depan mobilnya untuk menjemputnya Joana, mungkin jika berada di tempat yang sepi, ceritanya akan berbeda, dia pasti akan menjumpai pria itu.


Hatinya terbakar rasa cemburu jika mengingat ada banyak tanda merah dileher Joana, terbayang dengan sangat jelas bagaimana gagahnya tubuh Alvaro bercinta dengan Joana. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangannya, untuk menahan segala rasa yang dia rasakan.


Rasanya dia ingin marah, tapi dia tak berhak memarahi Joana? Joana adalah istri sahnya Alvaro, sementara dia hanyalah mantan istrinya.


Alvaro melihat Joana yang baru keluar kantor, dia memandangi Joana dari kejauhan dengan tatapannya yang dingin. Namun, Alvaro merasa terganggu karena pria bernama Aditya itu memanggil nama Joana, sambil berlari menghampirinya Joana.


"Joana, kamu mau pulang denganku?" Aditya menawarkan tumpangan pada Joana, mungkin dia belum menyadari bahwa di depan kantor ada suaminya yang sedang menunggu Joana.


Bianca tersenyum sinis melihatnya, sangat berharap Joana menerima tawaran tumpangan tersebut, sehingga Alvaro kecewa pada Joana, dengan begitu dia memiliki kesempatan untuk bisa dekat lagi dengan Alvaro.


'Lebih baik kamu pulang bersama pria itu, Joana.' gumam hati Bianca.


Tapi dia harus menghargai pernikahannya, jadi dia menolak ajakan dari Aditya. "Aku gak bis..."


Joana belum selesai bicara karena dipotong oleh Alvaro yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. "Joana akan pulang denganku, karena aku suaminya."


Alvaro langsung menarik tangan Joana untuk ikut bersamanya ke dalam mobil.


"Al, lepaskan. Aku bisa pulang sendiri. Buat apa kamu menjemputku? Kamu juga tidak perlu menugaskan bodyguard untuk menjagaku, aku bukan selebritis." Joana mengatakannya dengan pelan. Mungkin karena Joana masih ngambek pada Alvaro.


Tapi Alvaro tak melepaskan tangan Joana, dia membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Joana tak paham, ada apa dengan pria itu? Mengapa dia seakan sedang marah pada Joana? Padahal seharusnya Joana lah yang marah pada Alvaro.


Joana tak paham dengan sikap suaminya itu. Sangat aneh, Alvaro yang membuat Joana kesal, tapi pria itu yang malah terlihat seakan sedang marah kepadanya. Seharusnya dialah yang marah pada Alvaro.


Sementara Bianca terlihat sangat kesal ketika melihat Alvaro menarik tangan Joana, seakan menandakan bahwa pria itu sedang cemburu terhadap istrinya yang tengah didekati pria lain.


"Gak mungkin, Alvaro gak mungkin cemburu. Alvaro gak mungkin jatuh cinta sama Joana. Alvaro tidak boleh jatuh cinta pada Joana." ucap Bianca dengan pelan.


Alvaro memakaikan sabuk pengaman pada Joana, membuat hati Joana berdebar-debar karena jarak badan mereka sangat dekat sekali. Tapi pria itu tak berkata apa-apa, tatapannya begitu dingin.


Selama ditengah perjalanan, tak ada yang memulai bicara diantara Alvaro dan Joana, padahal suasana jalan raya begitu ramai, tapi entah mengapa mereka seakan berada di tengah kuburan, terasa sunyi.


Mungkin karena merasa canggung jika mengingat bagaimana panasnya pertempuran mereka diatas ranjang, bahkan mungkin kenikmatannya belum bisa mereka lupakan.


Sampai mereka menelan saliva dengan susah payah mengingat kejadian semalam, padahal mereka melakukannya tanpa ada rasa cinta, tapi mengapa mereka tidak bisa melupakannya, ketika tubuh mereka menyatu dan mereka saling mendes-ah, saling berbagi peluh bersama.


Ckiiit...


Alvaro tiba-tiba menghentikan mobilnya ketika ada dua mobil menghalangi jalan mereka.


Sepertinya akan ada sekelompok penjahat yang akan menyerang mereka berdua, entah suruhan dari siapa, karena sejatinya seorang detektif seperti Alvaro memang memiliki banyak musuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Selamat ulang tahun untuk Amelia_ling, semoga panjang umur, selalu diberikan kesehatan, dan semoga apa yang kamu impikan dapat tercapai, serta selalu ada dalam lindungan-Nya. Aamiin...


__ADS_2