
Satu jam sebelum Bianca mengirim pesan kepada Alvaro.
Bianca hari ini resmi akan meninggalkan mansion mewah miliknya Pak Riki, karena dia dan Dimas akan segera bercerai. Walaupun awalnya Pak Riki tidak setuju, mungkin karena merasa bahwa Bianca adalah menantu yang baik dan telaten dalam bekerja, tapi karena Bianca bersikukuh ingin bercerai dengan Dimas, akhirnya Pak Riki tidak bisa menahan lagi jika seandainya Bianca memang sudah tidak bisa hidup bersama Dimas.
Diantara semua orang yang ada di mansion, ternyata hanya Pak Riki yang peduli pada Bianca dan berusaha untuk mencegahnya pergi dari mansion tersebut, sementara Bu Nadia malah senang karena sampai sekarang Bianca belum bisa memberikan keturunan juga. Dan Dimas, dia sudah tak peduli lagi dengan Bianca.
Hal tersebut membuat Bianca sangat merasa bersalah kepada Pak Riki, padahal dia mengetahui dengan jelas tentang apa yang telah dilakukan oleh Bu Nadia dan Dimas terhadap minuman yang hampir setiap hari diminum olehnya, tapi dia memilih untuk tutup mata, malah mendukung hal tersebut.
Itulah mengapa mereka tetap membiarkan Pak Riki hidup, tapi mereka gencar untuk melenyapkan Joana. Karena Pak Riki hanya tinggal menunggu matinya saja, dengan sebuah racun yang sering dikonsumsinya setiap hari yang dituangkan ke dalam minuman Pak Riki. Sehingga mereka sangat mengharapkan Joana akan segera mati juga, agar seluruh hartanya menjadi milik Dimas.
Malam ini, Bianca dibuat sangat marah oleh Dimas, karena Dimas mengusirnya tanpa memberikan uang satu persen pun dan melarangnya membawa mobil, dan yang lebih parah kartu ATM milik Bianca telah di blokir.
Hal tersebut membuat Bianca sangat marah, padahal malam ini dia sedang mengemasi semua pakaian miliknya, untuk segera pergi dari mansion tersebut.
"Apa-apaan ini? Kenapa kartu ATM aku di blokir? Dan kenapa aku tidak boleh membawa mobil?" Bianca mengatakannya dengan nada tinggi kepada Dimas. Saat itu dia dan Dimas masih berada di dalam kamar.
Dimas malah terkekeh, dia menghina Bianca. "Kamu seharusnya sadar diri, Bianca. Kamu datang kesini tidak membawa apa-apa, itu artinya kamu juga tidak boleh membawa apa-apa dari sini. Kamu tak lebih dari sekedar sampah yang aku pungut selama lima tahun ini."
Bianca sangat geram sekali kepada Dimas, sampai dia menampar pria itu dengan begitu keras.
Plakk...
__ADS_1
"Apa kamu sadar? Aku sudah bekerja selama lima tahun di perusahaan, kamu tidak berhak mengambil dan memblokir kartu ATM ku." Bianca mengatakannya dengan nada tinggi.
Dimas sangat kesal sekali, dia masih meringis memegang wajahnya yang di tampar oleh Bianca.
Kemudian Dimas mendorong Bianca, sehingga tubuh Bianca jatuh tersungkur ke lantai.
"Arrrgghh!" Bianca merintih merasakan kakinya sakit.
"Cuuihhh..." Dimas meludah di depan Bianca. "Cepat pergi sana, sampah sepertimu tidak pantas tinggal disini."
Tidak ada gunanya melawan orang seperti Dimas, Bianca pun segera berdiri, dia menarik kopernya, berjalan dengan sedikit tertatih-tatih.
'Alvaro!' jerit hatinya.
Sebelum Bianca pergi meninggalkan mansion, dia rasa lebih baik berpamitan dulu kepada Pak Riki, ayah mertuanya. Hanya dia satu-satunya orang yang benar-benar memperlakukannya dengan baik, padahal selama ini Bianca tak tulus bersikap hormat kepadanya. Malahan Bianca berharap pria tua itu segera mati, tapi sekarang dia sadar bahwa ternyata betapa beruntungnya dia memiliki seorang ayah mertua seperti Pak Riki.
Walaupun Pak Riki kaya raya, tapi dia tak pernah memandang sebelah mata terhadap kasta. Dia menerima Bianca menjadi menantunya tanpa peduli latar belakang Bianca dan tak mempermasalahkan Bianca yang berasal dari keluarga miskin.
Bianca masuk ke dalam ruangan kerjanya Pak Riki, "Permisi, Pa."
Namun, sayangnya dia tak mendapati ayah mertuanya disana, "Papa!" panggilnya kepada sang ayah mertua.
__ADS_1
Bianca hanya melihat satu gelas minuman yang ada di atas meja, dia menjadi teringat dengan racun yang selalu diteteskan ke dalam minuman Pak Riki, Bianca tahu dimana Bu Nadia menyimpan botol racun berwarna bening tersebut, sehingga dia masuk ke ruangan tersebut, membawa botol yang berisi racun tersebut.
Mungkin inilah cara dia menebus dosanya pada ayah mertuanya itu. Karena selama ini dia pun sama mengharapkan sang ayah mertuanya segera mati, menginginkan kekuasaan, membiarkan sang ayah mertua selalu mengkonsumsi racun.
Minuman yang sering dikonsumsi Pak Riki mengandung polonium, sebuah racun yang bisa mematikan dalam jangka waktu panjang. Dan tidak dapat terdeteksi.
(Kasus ini ada pada kisah nyata tentang kematian mantan mata-mata Rusia Alexander Litvinenko yang meninggal di London pada tahun 2006. Polonium ditemukan dalam cangkir tehnya.)
...****************...
Selama satu jam Bianca duduk di halte bus, dia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sungguh mengenaskan. Selama lima tahun dia bekerja di perusahaan itu, uangnya malah diambil oleh Dimas semuanya. Pria itu tega memperlakukannya seperti sampah dan menghinanya.
Bianca saat ini rasanya seakan luntang-lantung tak ada tempat tujuan, yang dia ingat hanyalah Alvaro.
Mungkin inilah hukuman untuknya karena telah menyakiti seseorang yang begitu tulus mencintainya, Alvaro rela mengorbankan masa depannya dan mimpinya demi dirinya. Tapi Bianca membalasnya dengan sebuah pengkhianatan, sampai rela menggugurkan kandungannya.
Bianca menghapus air matanya, dia lebih baik menghubungi Alvaro, dan ingin memberikan botol yang berisikan racun tersebut kepada Alvaro. Untuk menebus kesalahannya kepada ayah mertuanya, dan dia ingin bertemu dengan Alvaro untuk terakhir kalinya.
[Al, aku ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Aku mohon. Setelah ini aku tidak akan menggangu hidupmu lagi.]
kali ini Bianca bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia tidak akan pernah mengusik kehidupan Alvaro lagi setelah ini.
__ADS_1