
Malam itu, saat Bianca ingin menemui Pak Riki di ruang kerjanya, sebenarnya Pak Riki sedang berada halaman belakang bersama Bu Nadia. Mereka sedang membicarakan masalah perceraian Bianca dan Dimas yang terjadi secara mendadak.
Ternyata Pak Riki menyuruh Asisten Arman untuk mencari tahu penyebab mengapa Bianca menggugat cerai pada Dimas, karena Pak Riki merasa curiga pada Dimas yang sering keluar malam selama setahun belakangan ini.
Sehingga Asisten Arman menemukan sebuah kenyataan yang mengejutkan bahwa Dimas ternyata sering bersenang-senang dengan wanita lain, hal tersebut membuat Pak Riki murka, karna menurutnya sebuah perlakuan Dimas sangat menjijikkan, Pak Riki sangat menjunjung tinggi etitud di dalam kehidupan keluarganya maupun di dalam dunia pekerjaan.
Pak Riki melemparkan beberapa foto yang memperlihatkan Dimas sedang bermesraan dengan wanita lain, "Apa-apaan ini? Ternyata selama ini Dimas sering berpoya-poya dan bersenang-senang dengan wanita lain?" Pak Riki terlihat marah sekali kepada Bu Nadia.
Saat itu Bu Nadia sedang memberikan makan pada ikan peliharaannya, tepatnya wanita tersebut sedang berada di halaman belakang mansion. Sehingga Bu Nadia menghentikan kegiatannya.
Bu Nadia sangat terkejut melihat foto-foto tersebut, dia sama sekali tidak tahu bahwa suaminya akan mencaritahu kelakuan bejatnya Dimas, karena Bu Nadia sudah lama tahu bahwa Dimas sering jajan diluar dan malah membiarkannya. "Mungkin... mungkin Dimas stress, Pa. Papa tau sendiri kan Dimas sangat menginginkan seorang anak, tapi ternyata Bianca malah tak kunjung hamil juga?"
"Tapi bukan begini caranya, Dimas itu seorang suami, dia memiliki istri. Tidak seharusnya Dimas berkhianat seperti ini!" Pak Riki tidak bisa mentolerir kelakuan bejatnya Dimas.
Bu Nadia mulai jengah dengan suaminya itu, sehingga dia lebih baik memberitahu suaminya tentang masa lalu Bianca, yang sebenarnya dia pun baru tahu dari Dimas kemarin.
"Apakah papa tahu bahwa Bianca itu adalah mantan istrinya Alvaro?"
Perkataan Bu Nadia sungguh membuat Pak Riki tercengang, dia sama sekali tidak mempercayai ucapannya Bu Nadia. "Jangan mengarang, Ma. Tidak mungkin mere..."
Bu Nadia memotong perkataan Pak Riki, "Tapi memang kenyataannya seperti itu. Menantu papa tidak ada yang benar, mereka hanyalah benalu. Alvaro menikahi Joana demi ingin kembali pada Bianca, Pa."
Bu Nadia malah memanfaakan situasi agar Pak Riki membenci Alvaro, menantu kebanggaannya itu.
__ADS_1
Hal tersebut membuat dada Pak Riki sangat terasa sesak, kemudian dia pun terbatuk-batuk, sampai memuntahkan darah.
"Uhhuk... uhhukkk..."
"Uhhukk... uhhukkk..."
Bu Nadia berpura-pura sangat khawatir dengan keadaan suaminya, "Papa!"
"Aku ambil minum dulu untuk papa." Bu Nadia segera berlari ke dalam rumah.
Akan tetapi betapa terkejutnya Bu Nadia ketika menyadari bahwa botol yang berisi polanium itu telah tidak ada, yang mengetahui dimana letak racun mematikan itu hanyalah Bu Nadia, Bianca, dan Dimas.
Bu Nadia segera memberitahu Dimas tentang menghilangnya botol beracun tersebut. Dan tentu saja kecurigaan mereka mengarah kepada Bianca.
Tapi karena Bianca telah berbuat ulah, Dimas terpaksa menyuruh Liam untuk melenyapkan Bianca.
"Hallo, Tuan." ucap Liam dengan suara khas seraknya, ketika mengangkat panggilan telepon dari Dimas.
"Aku ingin kamu melenyapkan Bianca sekarang ini juga!" titah Dimas, dia berkata dengan penuh emosi.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan." ucap Liam sambil menyeringai.
Bu Nadia dan Dimas pergi ke halaman belakang mansion untuk melihat keadaan Pak Riki, ternyata Pak Riki sudah tak sadarkan diri, tubuhnya tergeletak di pinggiran kolam.
__ADS_1
"Biarkan saja, Ma. Biarkan saja dia tetap seperti itu, nanti juga dia akan mati." Dimas menyuruh ibunya untuk membiarkan Pak Riki.
Akan tetapi mereka terkejut ketika melihat ada Asisten Arman.
Asisten Arman disuruh Joana untuk melindungi ayahnya dan Joana ingin Asisten Asisten Arman memeriksa setiap makanan, minimun dan juga obat yang selama ini di konsumsi oleh ayahnya itu. Kebetulan malam ini Joana menyuruh Asisten Arman untuk melihat keadaan ayahnya, karena Joana tiba-tiba merasa khawatir tentang sang ayah.
Asisten Arman terkejut ketika melihat Pak Riki yang telah tergeletak tak sadarkan diri di tepi kolam. "Tuan!"
Asisten Arman memang tinggal di paviliun yang ada di belakang mansion megah tersebut dari remaja, karena dia telah mendedikasikan dirinya untuk mengabadi pada keluarga Alpha.
Dimas dan Bu Nadia sangat kesal, Asisten Arman harus datang di waktu yang tak tepat, tapi setidaknya malam ini Bianca harus mati, agar mereka aman.
Asisten Arman segera menelpon ambulan, "Hallo, kami butuh ambulan sekarang ini juga."
Kemudian Asisten Arman menatap ke arah Dimas dan Bu Nadia dengan penuh curiga, mengapa mereka malah membiarkan Pak Riki yang tak sadarkan diri seperti ini.
Barulah Bu Nadia dan Dimas berakting, mereka pura-pura terlihat sedih, bersikap seolah-olah mengkhawatirkan Pak Riki.
"Papa bangun, jangan tinggalkan mama!" Bu Nadia pura-pura menangis, mengguncang tubuh suaminya.
Dimas berkata kepada Asisten Arman, "Aku dan mama baru tiba disini. Jadi kami tidak tahu bahwa papa telah tidak sadarkan diri seperti ini."
Asisten Arman tak menghiraukan penjelasan dari Dimas, dia segera menelpon Joana. "Hallo, Nona. Tuan Riki tidak sadarkan diri. Kami sedang menunggu ambulan tiba."
__ADS_1
Betapa terkejutnya Joana ketika mendengar kabar tersebut, tanpa berpikir panjang dia segera pergi untuk menemui ayahnya.