
Dion telah selesai membuat mahakaryanya, sebuah patung berbentuk kepala yang di dalamnya memang ada kepala seorang wanita, sementara tubuh sang korban telah Dion masukan ke dalam koper lalu dia buang ke sungai.
Itu adalah kasus yang belum terpecahkan oleh siapapun, baik itu oleh polisi, maupun oleh Alvaro dan teamnya. Karena Dion telah menghilangkan segala bukti yang ada.
Semenjak ayahnya Dion ditahan sebagai pembunuh berantai bergelang pita, Dion sudah tak memakai trik itu lagi, agar polisi tidak mencurigainya bahwa pembunuh berantai yang sesungguhnya masih berkeliaran bebas.
Dion terlihat begitu santai sambil bersiul memasangkan patung kepala yang telah dia buat pada sebuah patung asli yang hanya ada badannya saja, sehingga kini patung itu telah terlihat sempurna, terlihat seperti seorang wanita dengan keadaan bu-gil.
Dion menyeringai melihat karyanya yang luar biasa, "Kamu benar-benar keren Dion, kamu memang harus melenyapkan semua wanita ja-lang di dunia ini. Akan aku buat mereka menjadi mahakarya." Dion memuji dirinya sendiri, kemudian dia tertawa puas.
Dion membuat patung tersebut di sebuah ruangan bawah tanah yang ada di kediaman orang tuanya, karena sampai detik ini dia masih tinggal disana. Setiap hari Dion memang beraktivitas seperti biasanya, seperti orang-orang normal lainnya, yang padahal sebenarnya dia lebih nyaman seperti ini, hidup sendirian ditengah kegelapan, sambil menikmati perbuatannya dalam setiap kali membunuh para korban.
Korban yang terakhir adalah seorang selebritis, itulah mengapa kepala wanita tersebut disembunyikan oleh Dion, agar tidak ada yang cepat mengenalinya. Korbannya bernama Olivia.
Dion berkenalan dengan Olivia karena Olivia sendiri yang mendekati Dion, wanita mana yang tak tertarik pada seorang pengusaha muda yang terkenal baik hati seperti Dion. Tak dipungkiri, Dion memang memiliki wajah yang tampan, karena itu mengapa dia bisa membuat banyak para korban luluh padanya, bahkan sebelum Dion membunuh mereka, mereka sempat bercinta dulu.
Mengapa Dion tahu adanya penyerangan para gangster terhadap Joana? Karena dia diam-diam mengintai Dimas dan Bianca, dia tahu bahwa mereka pasti akan merencanakan pembunuhan terhadap Joana.
Dion dan Joana sudah lama berkencan waktu di Amerika, karena itu dia tahu bagaimana hubungannya Joana dengan saudara tirinya yang tidak pernah akur.
__ADS_1
Tadinya Dion akan membunuh para gangster yang menyerang Joana, bukan untuk menyelamatkan Joana, tapi dia tidak rela jika mangsanya mati ditangan orang lain. Seperti seekor singa, dia akan marah besar jika mangsanya yang telah dia incar malah menjadi santapan hewan buas yang lain.
Kemudian dia melihat Alvaro yang begitu marah menghajar seorang gangster karena telah melukai Joana, sehingga dia ingin tahu bagaimana reaksi Alvaro jika dia mengarahkan senapan ke arah Joana.
Ternyata Alvaro rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Joana, sudah dipastikan bagaimana berharganya seorang Joana untuk Alvaro.
Tap...
Tap...
Tap...
Dion mendengar suara langkah seseorang yang turun melewati anak tangga satu persatu menuju ruang bawah tanah.
Walaupun ibunya sebenarnya takut pada Dion, karena dia tahu kejahatan yang telah dilakukan oleh anaknya tersebut, tapi dia berpura-pura bersikap biasa saja, Bu Risa tersenyum pada Dion.
"Ma-mama buatkan teh manis untukmu, Dion." Bu Risa menyimpan teh manis tersebut di atas meja, mungkin karena dia melihat ada tetesan darah di meja tersebut membuat dia kaget, sampai gelas yang dia pegang terjatuh ke lantai.
Prang...
__ADS_1
Gelas itu pun pecah, berhamburan di lantai.
Perasaan Bu Risa tak karuan, sampai tangannya gemetaran, mungkin karena dia sangat takut, dia segera berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas itu.
Namun, Dion menahan tangan Bu Risa. "Biar aku yang membersihkannya, mama tidak boleh terluka." ucapnya dengan pandangannya yang datar, dia memperhatikan raut wajah Bu Risa, dia tahu bahwa sebenarnya sang ibu sangat takut padanya.
Bu Risa menganggukkan kepala, dia segera pergi meninggalkan ruang bawah tanah tersebut.
Ketika tiba di ruang tengah, Bu Risa melihat sebuah berita di televisi yang memberitakan bahwa seorang selebritis bernama Olivia telah menghilang selama dua hari.
'Seorang selebritis kondang, Olivia telah menghilang selama dua hari. Keluarga dan teman dekatnya tidak tahu kemana perginya Olivia, sehingga sinetron yang sedang dia perankan terpaksa harus diberhentikan dulu.'
Tangan Bu Risa gemetaran, ternyata dia ketika berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca, dia membawa sebuah kalung, yang tergeletak di lantai, kalung tersebut milik Olivia.
Sebenarnya saat ini Bu Risa dilanda kebimbangan, sebagai seorang ibu dia sangat menyayangi Dion, tapi dia tahu apa yang dilakukan oleh Dion adalah sebuah kejahatan yang sangat keji, dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan kejahatan anak kesayangannya itu.
Bu Risa meronggoh ponselnya di saku gaun yang dia pakai, dia mencari nomor kontak bernamakan Detektif Al, dia ingin menghubungi Alvaro. Tapi dia dikejutkan dengan Dion yang tiba-tiba sudah berada di depannya, sampai dia terbelalak, hampir saja dia mau menjerit.
"Mana kalung yang mama bawa?" tanya Dion dengan tatapan matanya yang tajam.
__ADS_1
Dion buru-buru naik ke lantai atas karena dia baru menyadari bahwa kalung milik korbannya yang bernama Olivia itu tiba-tiba menghilang, dia mencurigai ibunya yang mengambil kalung tersebut.
Bu Risa sangat ketakutan sekali, rupanya dia telah ketahuan membawa kalung tersebut. Mungkin tadinya dia ingin melaporkan Dion kepada Alvaro, karena dia ingin mengakhiri kejahatan yang Dion lakukan.