Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 42


__ADS_3

Ckiiit...


Alvaro tiba-tiba menghentikan mobil ketika melihat ada dua buah mobil berhenti tepat di depan mobilnya. Beruntung Alvaro segera menginjak rem, sehingga tidak menabrak mobil tersebut.


Joana terlihat tegang sekali ketika melihat ada pria-pria berbadan kekar keluar dari mobil tersebut, jika dihitung, mungkin ada sekitar 10 orang gangster berdiri di depan mobil.


"Woi, Detektif Al, keluar lo!" teriak salah satu gangster yang ada disana, mungkin dia adalah ketua dari para gangster tersebut. Nama gangster mereka adalah Gang The Jhon.


"Siapa mereka, Al?" tanya Joana, dia terlihat begitu ketakutan. Wanita itu nampak resah dan gelisah.


Alvaro memilih tak menjawab pertanyaan dari Joana, karena hal seperti ini memang sering terjadi, pekerjaannya memang sering berbenturan dengan dunia mafia ataupun dengan para gangster, sehingga mereka yang tidak terima kejahatannya terbongkar akan menyerang Alvaro.


Saat melihat wajah ketua gangster tersebut, Alvaro baru ingat, mereka pasti memiliki dendam kepada Alvaro karena Alvaro berhasil membongkar bisnis haram mereka satu tahun yang lalu, mereka adalah distributor narkoba, selain itu mereka juga sering melakukan pemerasan kepada para pedagang yang ada di pasar.


"Cepat sekali mereka keluar dari penjara." ucap Alvaro dengan nada pelan, kemudian dia menoleh ke arah Joana yang terlihat sangat gelisah. "Aku keluar dulu sebentar, Jo."


"Tapi Al..." Joana tak sempat mencegah Alvaro, pria tersebut telah keluar dari mobil begitu saja tanpa menunggu persetujuan darinya.


"Nekad sekali dia, bagaimana kalau dia terluka?" Joana memilih untuk melaporkan para gangster itu ke polisi, tapi ternyata ponselnya tidak aktif, Joana tidak sempat mencharger ponselnya karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.


"Ah sial, mengapa ponsel aku harus tidak aktif segala." gerutu Joana. Mengapa disaat genting seperti ini ponselnya malah tidak bisa diajak berkompromi.

__ADS_1


Pandangan Joana kini beralih ke arah Alvaro yang sedang berkelahi melawan sepuluh orang gangster, membuat dia terperangah, Alvaro ternyata sangat jago berkelahi, bahkan dia telah berhasil menumbangkan empat orang gangster diantara mereka.


"Wah!" Joana terperangah, dia seakan sedang menonton film laga dibalik kaca depan mobil.


Joana semakin terperangah ketika melihat Alvaro berlari, naik ke atas mobil, lalu meloncat ke bawah, memberikan tendangan ke kepala dua orang gangster, sehingga jumlah gangster yang tumbang telah bertambah dua.


Bugh...


Bugh...


"Arrrgghh!" Enam orang gangster yang telah tumbang, mereka hanya bisa merintih, terkapar diatas aspal, saling bertumpukan.


Tinggal tersisa empat orang gangster lagi, mereka begitu brutal menyerang Alvaro. Alvaro menjatuhkan dirinya ke aspal, meraih pasir ke dalam kepalan tangannya, kemudian dia segera berdiri melemparkan pasir tersebut ke arah mata keempat gangster tersebut, sehingga mereka merintih karena matanya terasa pedih.


Alvaro menggunakan kesempatan tersebut untuk menghajar mereka satu persatu, dia membenturkan dua kepala gangster yang saling berhadapan, dan Alvaro memberikan tinju mentah ke bagian dada dua orang preman lainnya secara bergantian.


Bugh...


Bugh...


Lalu menendang tubuh mereka satu persatu, sehingga keempat gangster yang tersisa ikut tumbang juga diatas aspal.

__ADS_1


"Arrrgghh... aduh... aduh!" kesepuluh orang gangster tersebut merintih tak berdaya. Alvaro berhasil menaklukkan mereka.


"Wah benar-benar hebat!" Joana merasa dirinya bodoh mengapa sempat menganggap bahwa pria segagah itu sebagai seorang pria ho-mo. Tanpa sadar dia bertepuk tangan, satu lawan sepuluh orang, padahal rasanya sangat mustahil untuk menang.


Alvaro sebenarnya juga terluka, di bagian dada dan wajahnya, bagian dada atas ada luka sayatan pisau yang dilakukan oleh salah satu gangster disana, dan juga wajahnya lebam.


Alvaro terengah-engah memandangi 10 orang gangster yang telah dia kalahkan, kemudian dia duduk di punggung ketua gangster itu, dia menepuk-nepuk pundak ketua gangster tersebut. "Kamu harus belajar bela diri lagi untuk mengalahkan aku, bung."


"A-ampun bang, aku janji gak akan ganggu lagi. Kalau abang bersedia, kami siap jadi anak buah abang." ucap ketua Gang The Jhon itu, dengan nada memohon. Dia malah menawarkan diri untuk menjadi anak buahnya Alvaro.


Alvaro terkekeh, "Saat ini aku belum membutuhkan jasa kalian, tapi tawaranmu akan aku terima, siapa tahu suatu saat aku membutuhkan bantuan kalian. Yang penting sekarang kalian jadilah seorang gangster yang bermanfaat, muka boleh garang seperti harimau, tapi hati kalian harus seperti kucing anggora. Jangan memeras para pedagang lagi, carilah pekerjaan yang lebih bermanfaat atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri." Alvaro memberikan nasihat kepada kesepuluh orang tersebut agar tidak melakukan tindakan yang merugikan masyarakat lagi.


"I-iya, bang. Kami pasti akan memperbaiki diri." ucap ketua gangster tersebut.


"Bagus." Alvaro tersenyum samar, dia segera berdiri, lalu membantu ketua gangster tersebut untuk berdiri, dan Alvaro juga membantu sembilan orang gangster lainnya untuk bangun satu persatu. Mereka malah terlihat menjadi akrab.


Joana menatap mereka dengan penuh keheranan, "Perkelahian macam apa ini?"


Padahal mereka telah babak belur bisa-bisanya berdamai dengan gampangnya. Sementara wanita, hanya berkelahi jambak-jambakan saja ataupun adu mulut, efeknya gak akan saling bertegur sapa seumur hidup.


Kemudian Joana melihat Alvaro sedang melihat ke arahnya, pria itu tersenyum sambil mengedipkan matanya. Mungkin memberikan pertanda bahwa dia telah selesai menyelesaikan masalahnya dengan para gangster tersebut.

__ADS_1


Hati Joana seakan meleleh melihat Alvaro tersenyum semanis itu, apalagi ketika pria itu mengedipkan mata kepadanya.


"Hm dia memang manis, tapi dia juga sangat menyebalkan!" kata Joana.


__ADS_2