
Sementara itu, di kantor pusat Alpha, mata Joana nampak berkaca-kaca ketika mendengar permintaan Bianca yang meminta Joana untuk mengembalikan Alvaro padanya. Bahkan wanita itu telah bersimpuh dihadapan Joana sambil menangis terisak, menggambarkan bagaimana besarnya rasa sesal Bianca yang telah menyia-nyiakan Alvaro, bahkan Bianca telah menyakiti Alvaro dengan begitu dalam.
Bianca masih saja terisak, dia enggan untuk berdiri, masih bersimpuh dihadapan Joana. "Aku mohon, Jo. Tolong kembalikan Alvaro padaku. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya."
Tanpa terasa air mata mengalir membahasi pipi Joana, dia segera menghapus air matanya tersebut, kemudian dia mengambil nafas dengan pelan seraya menatap ke arah Bianca sambil memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan kepada Bianca.
"Maafkan aku, Alvaro bukanlah barang yang bisa ku pinjam lalu ku kembalikan padamu, Kak." Itulah jawaban yang keluar dari mulut Joana, dia berkata seperti itu dengan sepenuh hati.
Bianca langsung mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Joana yang sedang berdiri dihadapannya. Derai air mata masih membasahi pipinya.
"Aku pun sama denganmu, aku juga mencintai Alvaro, suamiku. Jadi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu." Padahal Joana belum pernah bilang cinta pada Alvaro, tapi ironisnya kata cinta untuk Alvaro itu harus terucap untuk pertama kalinya di depan sang mantan istri dari suaminya itu.
"Lalu bagaimana jika seandainya Alvaro masih mencintaiku dan memilihku?" Bianca hanya ingin tahu keputusan apa yang diambil oleh Joana jika seandainya Alvaro ternyata masih memiliki perasaan pada Bianca dan ingin kembali padanya, apa Joana akan tetap mempertahankan Alvaro?
"Aku tidak bisa menjawabnya, biarkan Alvaro sendiri yang memutuskan, karena aku tidak bisa mengatur keputusan apa yang ingin Alvaro ambil." Dan mungkin seandainya ternyata Alvaro masih memiliki perasaan pada Bianca, Joana mungkin akan melepaskannya, dia tidak ingin menahan seseorang yang dihatinya ada orang lain, walaupun mungkin sangat menyakitkan untuk Joana. Tapi yang namanya cinta tak bisa dipaksakan, yang ada dia yang akan sakit hati pada akhirnya.
__ADS_1
Bianca menghapus air matanya, kemudian dia segera berdiri, wanita itu kini terlihat begitu menyedihkan. Andai saja dia bisa memutar kembali waktu, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Alvaro, mungkin sekarang dia telah hidup bahagia dengan pria itu. Rasanya dia benar-benar menjadi wanita paling bodoh di dunia ini, karena telah meninggal seorang pria yang sangat tulus mencintainya demi ambisinya karena harta.
Bianca benar-benar ingin kembali ke masa lalu, menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana bersama Alvaro, walaupun dulu mereka hidup sederhana, tapi Bianca sangat bahagia karena dicintai Alvaro begitu tulus. Dia baru menyadari betapa beruntungnya dia saat itu, memiliki sosok suami yang siap siaga dan selalu menomorsatukannya.
Tapi sekarang hanya rasa penyesalan yang tersisa, dia benar-benar sangat menyesal, dan sangat tersiksa dengan perasaannya, karena di hatinya masih terukir nama pria itu.
"Jika seandainya Alvaro hidup miskin, apa kamu masih mau menerimanya?" Bianca hanya ingin tahu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Joana tentang pertanyaan darinya itu. Mungkin karena Alvaro dan Joana menikah dalam keadaan Alvaro yang sudah memiliki segalanya.
Berbeda dengan dulu, Alvaro saat menikah dengan Bianca saat Alvaro masih menjadi seorang pria yang miskin.
Bianca terdiam begitu lama setelah mendengarkan jawaban dari Joana, kemudian setelah itu dia pun pergi begitu saja dengan berjalan gontai meninggalkan ruangan CEO tersebut.
Joana terduduk di kursi kebesarannya, mengapa harus Bianca yang menjadi orang pertama mengetahui perasaannya pada Alvaro, sementara Alvaro sendiri belum tahu bagaimana perasaan Joana kepadanya.
Joana menatap ke arah kamera CCTV yang telah dia tutup dengan lakban, membuat dia menjadi teringat pada Alvaro. Entah mengapa dia merindukan pria itu.
__ADS_1
Joana teringat kembali dengan niatnya yang akan membalas pesan dari Alvaro, dia segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja, dia mengerutkan keningnya begitu melihat ada sebuah pesan yang belum terbaca.
Ternyata Alvaro mengirim pesan padanya 30 menit yang lalu, disaat dia sedang berbicara dengan Bianca.
Joana segera membaca pesan dari Alvaro.
[Aku mencintai, aku sangat mencintaimu, Joana. Seharusnya aku mengatakannya secara langsung padamu. Tapi maafkan aku, aku hanya takut tidak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan secara langsung padamu.]
Hati Joana sangat tersentuh ketika membaca sebuah pernyataan cinta dari Alvaro, sampai matanya berkaca-kaca, Alvaro mencintainya? Ingin sekali Joana mendengar ungkapan cinta itu secara langsung dari mulut Alvaro.
Tapi mengapa Joana merasa hatinya tidak tenang ketika membaca ulang pesan tersebut, seolah-olah Alvaro takut tidak bisa bertemu lagi dengan Joana.
Joana mencoba untuk menelpon Alvaro berkali-kali, tapi sayangnya sampai kini Alvaro belum mengangkat telepon darinya juga, membuat hati Joana dilanda keresahan dan penuh rasa khawatir.
"Al, kenapa kamu susah sekali dihubungi?" Hati Joana sangat resah dan gelisah, sangat mencemaskan Alvaro.
__ADS_1
Alvaro mengirimkan pesan itu tiga puluh menit sebelum tiba di tempat Minah, mungkin karena di takut tidak diberikan kesempatan untuk menyatakan perasaannya kepada Joana secara langsung. Dia tidak ingin mati penasaran.