Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 78


__ADS_3

"Shiitt!" Dion menatap geram ke arah Alvaro, dia tidak menyangka bahwa Alvaro akan membawa pasukan polisi ke area, ternyata ketika Minah mengangkat telepon dari Alvaro, Alvaro telah mengetahui bahwa di rumahnya Minah ada Dion.


Sehingga Alvaro membuat strategi, memanfaatkan situasi tersebut, dengan menyuruh Gleen dan Danu datang kembali ke rumahnya Dion, menjadi harus memeriksa ruang bawah tanah di rumah itu, dan misi pertama itu berhasil.


Misi kedua adalah Alvaro yang melakukannya sendiri, dia harus menyelamatkan Minah. Jika dia datang sendirian ke sana, itu sama saja dengan bunuh diri. Apalagi jika mengingat kasus pembunuhan terhadap Gina, sudah jelas Dion kala itu ada di Indonesia, dan Gina ada di Singapura. Tapi mengapa tiba-tiba ada mayat Gina di Indonesia? Padahal Dion tidak pergi ke ke Singapura waktu itu. Hanya satu jawabannya, Dion memiliki anak buah untuk menculik Gina, membawanya ke Indonesia, dan barulah Dion yang mengeksekusi.


Alvaro yakin Dion memiliki anak buah yang loyal kepadanya, sehingga dia memutuskan untuk melaporkannya pada polisi, karena polisi yang berhak menghukum Dion dan anak buahnya.


Alvaro menyeringai licik memandangi Dion seakan penuh kemenangan, akhirnya dia telah berhasil mengungkapkan bagaimana wajah asli dari seorang psikopat, Dion Sanjaya.


Semua anak buahnya Dion telah berhasil diringkus, dan Minah sudah pergi menuju rumah sakit diantar oleh seorang polwan. Sehingga kini tinggal Dion yang akan ditangkap.


Seorang polisi berjalan ke arah Dion, untuk memborgol tangannya, "Saudara Dion, anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan berantai yang selama ini anda lakukan dan percobaan pembunuhan terhadap saudara Minah." Polisi tersebut mengarahkan pistol ke arah Dion.


Akan tetapi Dion dengan cekatan menarik tangan polisi tersebut, lalu dia melilitkan tangan polisi tersebut, Dion merebut pistol dari tangan polisi itu, lalu menembak kepalanya.


Zdor...


Sehingga kepala polisi tersebut bercucuran darah, dan tubuhnya tumbang ke tanah. Menghembuskan nafas terakhirnya. Harus mati dalam keadaan mengenaskan di tangan Dion.


Alvaro dibuat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Dion. Polisi yang lainnya berusaha untuk menembak Dion, dan ada juga yang bergegas untuk mengurus rekannya yang telah mati terbunuh orang Dion.


Tapi Dion dengan cepat dia membalikkan badan dan berlari, dia memilih menjatuhkan dirinya ke sebuah sungai yang yang letaknya dua meter berada di belakangnya. Padahal tingginya tebing disana begitu tinggi.


Byurr...


Dion tidak mungkin menyerahkan dirinya begitu saja, sehingga dia nekad menjatuhkan dirinya ke dalam sungai dibawah tebing yang memiliki ketinggian cukup tinggi dan sangat berbahaya.


Sampai badannya Dion tenggelam di dalam air sungai tersebut, tak menampakkan diri.


"Oh shiiit!" Alvaro sangat geram karena Dion berhasil melarikan diri.


Ketinggian tebingnya sangat tinggi, cukup beresiko jika harus meloncat ke bawah sana, apalagi kondisi air sungai yang sangat dalam, yang ada akan mengantarkan nyawa menuju ke kematian.


Beberapa orang polisi mencoba menembakan peluru ke dalam sungai dengan jarak cukup jauh.


Zdor...


Zdor...

__ADS_1


Zdor...


Seandainya jika Dion tertembak di dalam sungai sana, warna air sungai pasti akan berubah menjadi merah, dan tubuhnya terapung ke atas.


Alvaro tidak akan membiarkan Dion melarikan diri begitu saja, dia pun nekad untuk terjun dari tebing tersebut.


"Jangan nekad Detektif Al!" ucap salah satu polisi yang ada disana, nama Detektif Al memang sudah dikenal dibeberapa kalangan para polisi.


Sayangnya Alvaro sudah menjatuhkan dirinya, badannya terjun, masuk ke dalam air sungai yang memilki kedalaman cukup tinggi, kurang lebih sekitar 10 meter.


Byurr...


Tubuh Alvaro tenggelam di dalam sungai sana.


Sementara para polisi mencari jalan ke arah sungai tersebut, menulusuri hutan sana, walaupun cukup memakan waktu. Mereka harus menangkap Dion.


Di dalam air tersebut, Alvaro berusaha untuk berenang, mencari keberadaan Dion. Saking dalamnya, jika dilihat dari atas mungkin air terlihat begitu tenang, seakan tak nampak keberadaan Alvaro di dalam sana.


Karena Dion tahu di atas tebing sana tidak ada siapa-siapa, para polisi sedang mencari jalan untuk sampai ke sungai, sehingga Dion mulai menampakkan diri ke permukaan air.


Dion segera berenang menuju ke daratan, karena dia tahu ada seseorang yang menyemburkan dirinya ke dalam sungai, entah siapa.


Terdengar suara Alvaro yang sedang berada tak jauh di belakangnya, membuat Dion terkejut.


Dion yang telah sampai di daratan, dia mengarahkan pistol ke arah Alvaro yang baru saja tiba di daratan yang sama, tak jauh darinya. Pakaian mereka telah basah kuyup.


Dion tertawa sambil mengarahkan pistol ke arah Alvaro, "Hahaha... sepertinya kamu memang bosan hidup Detektif Al."


Dion menekan pelatuk.


Alvaro dengan cepat menchip sebuah batu kecil di dekat kakinya sehingga batu tersebut terlempar mengenai pelipisnya Dion.


Zdor...


Membuat Dion mengarahkan pistol yang sudah dia tekan pelatuknya ke arah ngasal. Hanya menembak udara.


Alvaro berlari dengan cepat, dia menendang tangan Dion sehingga pistol itu terlempar


"Arrrgghh!" Dion merasakan tangannya hampir mau patah terkena tendangan kerasnya yang dilakukan oleh Alvaro.

__ADS_1


Kemudian Alvaro memukul wajah Dion sebanyak tiga kali.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Pukulan Alvaro begitu cepat, membuat Dion tak memiliki kesempatan untuk melawan. Bahkan Alvaro menendang tubuhnya membuat dia terjungkal ke bebatuan di sekitar sungai sana.


"Arrrgghh!" Dion mengerang kesakitan karena kepala bagian belakangnya terluka kembali.


Tapi tak Alvaro hiraukan, dia berjongkok diatas perut Dion, memukul wajahnya dengan sangat brutal.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Kamu adalah manusia paling menjijikkan di dunia ini, brengsek." ucap Alvaro dengan penuh amarah, mengingat betapa sadisnya pembunuhan yang telah dilakukan oleh Dion terhadap para korbannya.


"Arrrgghh!" Dion hanya bisa merintih, dia sudah tak sanggup melawan Alvaro.


Mungkin ada sekitar delapan orang polisi telah tiba disana, salah satu polisi diantara mereka mencoba untuk mengingatkan Alvaro.


"Detektif Al, cepat hentikan. Serahkan tersangka kepada kami!"


Alvaro sebenarnya belum puas menghajar Dion, tapi apa bedanya dia dengan Dion jika seandainya Dion mati ditangannya. Alvaro terengah-engah, dia mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam, menenangkan dirinya, kemudian dia segera berdiri, berhenti memukuli Dion.


Tanpa di duga Dion telah berhasil meraih pistolnya yang letaknya tak jauh darinya, dia tertawa mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala Alvaro.


"Selamat tinggal Detektif Al!"


Zdor...


Terdengar suara tembakan begitu keras.


Sementara itu, saat ini Joana sedang berada dalam perjalanan menuju kota T, hatinya sangat tidak tenang, dia takut Alvaro akan terluka lagi.

__ADS_1


"Al, aku harap kamu baik-baik saja." ucap wanita itu dengan pelan, walaupun sebenarnya dia nampak gelisah sekali hari ini, dia sangat berharap tidak terjadi sesuatu pada Alvaro. Masih banyak yang harus dia lakukan bersama Alvaro, dia tidak ingin kehilangan pria yang dicintainya itu.


__ADS_2