Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 63


__ADS_3

Bu Risa segera memberikan kalung itu kepada Dion dengan tangannya yang gemetaran, sampai dia tak mampu berkata apa-apa, yang pasti saat ini dia sangat takut kepada putra tunggalnya itu.


Jantung Bu Risa berpacu dengan cepat, sungguh dia sangat takut menghadapi Dion, putra kesayangannya itu, yang kini telah berubah menjadi seorang monster. Hingga Bu Risa tak dapat mengenali lagi putranya tersebut.


Dion mengambil kalung tersebut, kemudian dia tersenyum kepada ibunya. "Apakah mama menginginkan kalung? Aku akan membelikannya, dengan jumlah kalung yang banyak dan mahal. Tapi jangan kalung ini, aku tidak suka jika mama mengambil apapun yang ada di ruang bawah tanah." ucap Dion dengan suaranya yang berat dan serak.


Walaupun Dion tersenyum, tapi senyumannya sangat mengerikan bagi Bu Risa. Sampai keringat dingin keluar dari tubuh wanita itu.


Bu Risa nampak gelagapan, "Ma-ma, mama hanya... mama hanya..." Bu Risa tidak tahu harus berkata apa kepada Dion, karena Dion pasti curiga bahwa Bu Risa hendak ingin melaporkan kejahatan yang telah dilakukan oleh putranya tersebut.


"Mana ponsel mama?" Dion mengulurkan tangannya kepada Bu Risa, pria itu berkata dengan begitu santai walaupun tatapannya sangat mengerikan.


Bu Risa tak memiliki alasan untuk menyembunyikan ponselnya, dia memberikan ponselnya kepada Dion, mungkin karena tangannya gemetaran, sampai ponselnya jatuh ke lantai.


Plukk...

__ADS_1


Akhirnya Bu Risa ketahuan bahwa dia sangat takut terhadap putranya.


Dion segera mengambil ponsel tersebut, dia sedikit membungkukkan badannya, kemudian dia menegakkan kembali badannya, menatap sang ibu yang berusaha terlihat tenang padahal ekspresi wajahnya tak dapat membohongi Dion. Bu Risa sebenarnya sangat takut kepada Dion.


Sebenarnya hal tersebut sangat melukai hati Dion, mengapa ibunya harus takut kepadanya? Apakah dia terlihat menakutkan di depan ibunya? Padahal selama ini Dion tak pernah sekalipun menyakiti seorang wanita yang telah melahirkannya itu.


Apalagi setelah dia tahu bahwa ibunya hendak melaporkannya kepada Alvaro, membuatnya semakin terluka. Padahal sekarang ini hanya Bu Risa satu-satunya yang Dion punya.


"Jangan menghubungi siapapun lagi, apalagi detektif sialan itu. Hanya mama satu-satunya yang aku punya, mama cukup diam saja, dan hidup dengan tenang di rumah. Tidak akan ada yang membuat mama sedih lagi, aku tidak akan membiarkannya." ucapnya dengan pandangannya yang datar.


"Ta-tapi... tapi Dion..." Bu Risa merasa sangat kesulitan sekali untuk berucap.


Setelah berkata seperti itu, Dion pun pergi kembali ke dalam ruang bawah tanah.


Badan Bu Risa ambruk, dia terduduk di lantai, bulir keringat membasahi wajahnya, dia mengutuk dirinya sendiri seakan menjadi seorang ibu yang tak berguna karena tak bisa menghentikan kejahatan Dion.

__ADS_1


Seharusnya 7 tahun yang lalu, ketika dia tahu Dion telah membunuh selingkuhan suaminya, seharusnya Bu Risa tidak termakan ucapan suaminya, dulu Bu Risa ingin melaporkan Dion ke polisi agar Dion berubah, tapi Pak Alex mencegahnya karena saat itu dia akan mencalonkan diri menjadi seorang pejabat daerah, Pak Alex tidak ingin kejahatan Dion mencoreng nama baiknya.


"Aku harus melaporkan anak kita ke polisi, Pa. Bagaimana pun juga Dion telah membunuh orang." ucap Bu Risa kala itu, mungkin saja Dion akan berubah setelah mendapatkan efek jera selama ditahan. Berharap putranya mengetahui bahwa perbuatannya itu sangat salah dan keji.


Akan tetapi Pak Alex tak mengizinkan istrinya untuk melaporkan Dion ke polisi. "Jangan lapor ke polisi! Yang ada Dion akan merusak reputasiku. Sebentar lagi aku akan mencalonkan diri sebagai seorang pejabat, apa kamu mau karir aku hancur gara-gara anak sakit jiwa itu?"


Sehingga Pak Alex memilih mengirim Dion ke Amerika, dan menjamin bahwa Dion tidak akan pernah melakukan kejahatan lagi karena disana berada dalam pengawasan psikiater ternama.


Tapi ternyata keputusan Bu Risa dan suaminya salah besar, Dion semakin menjadi, Dion sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, seakan tubuhnya telah dikuasai monster.


Mungkin satu-satunya cara untuk membuat Dion berubah adalah Joana, walaupun Dion marah pada Joana dan menjadikan Joana target, tapi sampai detik ini Dion belum berani menyakitinya Joana, dia lebih memilih mengintai Joana dari kejauhan, karena hati dan jiwa pembunuhnya tidak singkron. Keinginannya untuk membunuh Joana sangat besar, tapi hatinya tak sanggup melakukannya.


Mungkin Dion belum siap untuk memperlihatkan sisi terburuknya dihadapan wanita yang dicintainya. Tapi memang diantara Alvaro ataupun Joana, harus ada yang mati, agar mereka tidak bisa hidup bersama. Karena Dion tahu mereka saling mencintai.


Di ruang bawah tanah, terlihat Dion sedang duduk sambil melihat foto-foto Joana yang ada di ponselnya, rasa rindu dan benci dihatinya menjadi satu kepada wanita tersebut.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan padamu, Jo?" lirih Dion.


Mata Dion berkaca-kaca ketika mengingat bagaimana kebersamaan mereka, Joana adalah wanita yang sangat ceria, membuat hari-hari Dion yang awalnya terasa gelap, bisa bercahaya. Tapi sayangnya cahaya itu bukan untuknya lagi.


__ADS_2