
Padahal satu tujuan Alvaro telah terwujud, Joana kini telah menjadi CEO di Alpha Group, secara tidak langsung dia telah menghancurkan rencana Dimas dan Bianca untuk menguasai perusahaan itu. Tapi mengapa dia harus merasa keberatan dengan sikap Joana yang tiba-tiba berubah kepadanya?
Alvaro juga baru menyadari, mengapa dia harus mengorbankan dirinya untuk melindungi Joana? Sampai dia merelakan punggungnya terluka, mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri. Apakah mungkin dia telah jatuh hati kepada wanita itu?
"Tolong izinkan aku pergi ke kamarku, aku sangat ngantuk." ucap Joana dengan nada dingin. Padahal sebenarnya dia sama sekali tidak ngantuk.
Alvaro menghalangi langkah Joana yang hendak pergi dari ruangan tengah itu. "Besok aku mulai bekerja, karena itu aku ingin kamu memberikan semangat untukku."
Kebetulan besok Gleen dan Danu akan memberitahu Alvaro tentang penyelidikan yang telah mereka lakukan terhadap penyerangan terhadap Joana yang dilakukan oleh dua puluh orang gangster waktu itu.
Joana terpaksa tersenyum, walaupun sebenarnya hatinya terluka, dia hanya ingin menyembunyikan kekecewaannya. Percuma saja bertanya kepada Alvaro karena Alvaro tak pernah mau menjawab pertanyaan tentang pribadinya. Biarlah Joana cari tahu sendiri, ada hubungan apa antara Bianca dan Alvaro.
"Hm, oke. Semangat!" ucap Joana sambil tersenyum manis, untuk menyemangati Alvaro. Walaupun senyumannya nampak tidak tulus.
Tangan Alvaro melingkari pinggang Joana, membuat tubuh Joana terkunci, dia mengecup bibir Joana sekilas, membuat Joana kaget, memelototkan matanya.
"Senyumanmu tidak tulus, ucapkan sekali lagi." Alvaro semakin menempelkan tubuh mereka, membuat tubuh mereka berdesir, mungkin karena pernah merasakan kedua tubuh tersebut menyatu.
__ADS_1
"Al..." Joana ingin memprotes perlakuan Alvaro kepadanya, tapi pria itu malah mengecup bibirnya kembali.
Sejak kapan Alvaro bersikap manis seperti ini?
Joana menjadi salah tingkah. "A-aku ngantuk, Al. Aku mau tidur." Joana berusaha untuk melepaskan diri dari Alvaro.
"Tidurlah di kamarku."
Joana terbelalak mendengarnya. Dia ingin menolak. Tapi pria itu malah menggendong Joana, membuat Joana terkesiap, mengalungkan kedua tangannya pada leher Alvaro karena takut terjatuh.
"Al, lepaskan aku." protesnya.
"Al!'
"Al, punggungmu belum sembuh, aku bisa berjalan sendiri." Joana masih terus meminta Alvaro untuk melepaskannya.
Tapi Alvaro tak menghiraukannya. Pria tampan itu membawa Joana masuk ke dalam kamarnya, dia menurunkan Joana, tanpa basa basi Alvaro langsung menyambar bibirnya Joana, mengunci tubuhnya di dinding, ciuman Alvaro begitu ganas malam ini, membuat Joana hampir tidak bisa bernafas, sehingga dia memukul-mukul dada Alvaro, tidak ingin mati kehilangan nafas.
__ADS_1
Alvaro melepaskan ciumannya, memberikan waktu kepada Joana untuk mengambil nafas, menatap lekat kepada wanita tersebut. "Jangan diamkan aku seperti ini, aku bisa gila jika sikapmu berubah padaku." ucap pria itu dengan nafasnya yang berat.
Tatapan Alvaro menyiratkan sebuah kerinduan yang mendalam, mungkin mereka memang tinggal satu rumah, bahkan mereka berinteraksi, tapi Alvaro merindukan Joana yang dulu, sikap Joana yang selalu banyak bicara dan membuatnya gemas dan kepanasan.
"Al..."
"Aku tidak akan melepaskan kamu, aku akan terus mengurung kamu di kamar, jika kamu tidak bisa bicara jujur padaku, apa alasanmu mendiamkan aku." Setelah berkata seperti itu Alvaro mencium bibir Joana kembali, dia sangat merindukan apapun yang ada di dalam diri Joana.
Padahal Joana ingin marah pada Alvaro, tapi dia tak bisa menolak ciuman pria itu. Sejujurnya dia merindukan Alvaro, tapi rasa kecewanya begitu dalam. Sehingga dia dilanda kebimbangan antara menolak atau harus membiarkan Alvaro menyentuhnya.
Alvaro membuat jarak mereka semakin dekat, sehingga tak ada jarak satu centimeter pun diantara mereka, dia memperdalam ciumannya pada Joana, apapun yang dia rasakan pada wanita itu sangat menggebu, tak ingin melepaskannya.
Joana tersadar kembali, dia mencoba untuk mendorong dada bidangnya Alvaro, mengakhiri ciuman panas mereka, akan tetapi Alvaro semakin ganas mencium bibirnya. Merapatkan tubuh mereka.
Alvaro memasukan lidahnya pada rongga mulut Joana, lidah mereka bergumul di dalam sana, saling bertukar saliva dengan penuh naf-su. Ciuman Alvaro semakin terasa dalam dan menggairahkan, membuat Joana terlena, pria itu mampu membuatnya lupa diri.
Ciuman Alvaro turun ke leher Joana, dia menenggelamkan kepalanya disana, menghirup aroma wangi tubuh Joana, sesekali memberikan sesapan kecil di kulit lehernya. Kemudian Alvaro menautkan bibir mereka kembali.
__ADS_1
Joana semakin larut dengan ciuman yang Alvaro lakukan. Tapi apakah dia harus membiarkan dirinya dikurung di kamar semalaman oleh Alvaro? Haruskah dia bicara jujur saja pada Alvaro tentang apa yang di dengar tentang Bianca waktu di rumah sakit itu? Daripada harus dikurung di kamar Alvaro.