Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)

Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)
Chapter 9


__ADS_3

"Sher lu kumat lagi?." Tanya Satria yang kini sudah berada didekatnya,Rafka dan Zidan juga.


"Dipikir gue sakit apa ya." Gumam Sherin.


Diana masih dengan sandiwaranya membuat siapa pun pasti iba.Tapi tak ada yang mendekat untuk membantunya,kecuali dua kawannya.Sherin menghela napas jengah,pasti sebentar lagi ia dicecar pertanyaan atau mungkin langsung mendapatkan makian.


"Lu yang ngelakuin ini Sher?." Kini arah pandang Sherin menuju Rafka yang berdiri disampingnya.


"Kalo pun gue bilang bukan gue yang ngelakuin itu,pasti kalian nggak akan percaya.Jadi gue milih diem." Ujar Sherin yang kini membuka ranselnya dan mengambil ponsel hitam miliknya.


"Diana,gue serius ngucapin ini.Lu milih buat ngakuin sendiri perbuatan lu,atau.." Sherin menjeda ucapannya dan mengangkat tinggi benda pipih yang diambilnya tadi."Gue yang bongkar."


Semua mata tertuju pada gadis yang masih bersikap tenang dengan ponsel yang ia genggam.Berbagai tatapan berbeda Sherin lihat diwajah orang-orang yang ada didalam toilet ini.Namun yang menjadi perhatian utamanya adalah ekspresi Diana yang terlihat panik.Seringaian muncul diwajah Sherin.


"Gue nggak tolol,sejak lu bisikin kata-kata itu,gue langsung mempersiapkan diri,karena hal kaya gini nggak bisa diduga." Ucap Sherin yang membuat Diana diam tak berkutik begitu pun kedua temannya.


"Dan buat kalian,percaya sama apa yang mau kalian percaya.Permisi." Sherin berlalu meninggalkan mereka semua.


Demi apapun,hidup tenang yang ia dambakan tak semudah itu untuk didapatkan.Ia pikir dengan mengubah alur dari cerita,semua akan berakhir sesuai kemauannya.Tapi nyatanya tidak.


Kemunculan orang-orang baru yang mencoba untuk menyudutkannya,membuat Sherin sulit meraih itu semua.


.........


"Selesai." Sherin telah menyalin hasil rekamannya kedalam flashdisk.Ia melakukan itu untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Diana akan melakukan hal semacam itu lagi.


"Non Sherin makan yuk." Gadis itu menoleh pada pintu kamar yang sengaja ia buka,menampilkan bi Wati yang sedang berdiri disana.


"Bibi duluan aja ya,pak Bambang diajak juga.Tadi Sherin udah makan dikantin soalnya.Masih kenyang."


"Beneran non?." Sherin mengangguk,dan setelah itu bi Wati pamit untuk kembali kedapur.


Sherin mendongakkan kepalanya,manatap langit-langit kamar.Rasa tak percaya sering kali masih ia rasakan.Bagaimana bisa ia sampai disini,dan mengalami segala hal pelik.


Suara tapak alas kaki terdengar ditelinga Sherin,ia sudah hafal dengan suara ini.

__ADS_1


"Non ada temennya dibawah." Ucap bi Wati yang membuat Sherin mengernyit.


"Siapa bi?." Sherin bangkit dari kursi yang ia duduki dan berjalan mendekati bi Wati.


"Nggak tau non,bibi nggak sempet nanya.Tadi sih bilangnya ke bibi dia temen deket non Sherin." Jelas wanita itu.


"Oh itu mah Maudy bi." Sherin berjalan beriringan bersama dengan bi Wati untuk menemui sahabat sengkleknya itu.


"Kalo non Maudy mah bibi tau.Orang yang dateng ini laki-laki." Jawaban bi Wati membuat Sherin menghentikan langkahnya.


"Laki-laki?.Tapi kan Sherin nggak punya temen deket laki-laki.Temen deket Sherin cuma Maudy."


"Wah bibi nggak tau non,dia bilangnya gitu ya udah bibi iyain aja." Sherin tak membalas ucapan bi Wati,ia kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga.Gadis itu penasaran,siapa laki-laki yang sudah mengaku sebagai teman dekatnya.


Sesampainya diruang tamu,Sherin melihat seorang laki-laki dengan seragam yang sama dengannya masih melekat ditubuhnya.Dari belakang,Sherin tau siapa laki-laki itu.


"Rafka?." Panggilan Sherin membuat laki-laki itu menoleh.


Berbeda dengan tatapan bingung yang gadis itu perlihatkan pada Rafka,sebuah senyum tercetak jelas diwajah yang Sherin akui,dia memang tampan.


"Ngomongnya sambil duduk,sini." Rafka menepuk sofa disebelahnya,namun Sherin memilih untuk duduk dikursi tunggal yang tak jauh dari dirinya.


"Mau ngomong apaan?." Tanya Sherin tak sabaran.


"Gue mau minta maaf karena gue udah hampir nggak percaya sama lu." Jawab Rafka yang membuat Sherin menghela napas panjang."


"Lu nggak perlu minta maaf.Mau percaya sama siapa pun itu hak lu." Sherin menyandarkan dirinya dipunggung sofa.Dilihatnya laki-laki yang kini juga tengah menatapnya.


"Sher soal omongan gue dilapang..."


"Pleas Raf jangan bahas hal itu lagi.Gue udah capek buat ngulang kalimat yang sama." Rafka terdiam mendengar ucapan Sherin.


Sepertinya harapan untuk membuat gadis itu kembali menatapnya sudah terlambat.Karena Sherin benar-benar sudah melupakan perasaan terhadapnya.


"Raf gue nggak ada masksud buat balas dendam.Gue emang bener udah nggak ada perasaan lagi sama lu.Mungkin keliatannya aneh,secara gue dulu bucin banget sama lu,dan tiba-tiba aja gue bilang kalo gue mau berhenti buat ngejar lu."

__ADS_1


"Tapi apa yang gue bilang sama lu kemarin-kemarin itu bener-bener dari hati gue.Nggak ada settingan atau pun semacamnya,apa lagi cuma buat nyari perhatian sama lu,nggak ada niat gue."


Sherin kini melihat pria dihadapannya itu menunduk.Dia pikir memang seharusnya seperti ini.


"Apa nggak ada cara lain Sher supaya kita bisa deket lagi ?." Sherin menghela napas mendengar pertanyaan Rafka.Dekat?,sejak kapan?,padahal didalam novel,laki-laki itulah yang selalu menjauhkan diri.


"Ada cara lain.Kita bisa jadi temen." Rafka mendongak menatap gadis yang entah sejak kapan sudah memenuhi pikiran dan hatinya.


"Tapi gue mau lebih dari itu.Gue mau kita punya hubungan yang spesial." Sherin berdecak mendengar ucapan Rafka.


"Raf,mungkin dulu gue minta lu buat bales perasaan gue,tapi lu nggak pernah ngelakuin hal itu,karena apa?,karena lu nggak ada perasaan sama sekali sama gue.Dan sekarang gue lagi ngelakuin hal yang sama,gue nggak bisa bales perasaan lu karena gue udah nggak ada rasa lagi sama lu."


"Maaf Sher,gue nyesel." suara Rafka terdengar parau.Sherin memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan pindah menjadi duduk disamping Rafka.


"Nggak ada yang perlu disesalin dari semua yang udah terjadi,dan lu nggak perlu minta maaf,karena apa yang jadi harapan kita nggak selamanya sejalan dengan apa yang kita mau." Sherin menepuk pelan bahu laki-laki itu.


Gadis ini benar,semua yang ia harapkan tak harus sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Gue boleh minta sesuatu?,mungkin ini bisa jadi awal kedekatan kita sebagai temen?." Sherin menghentikan kegiatannya dan menatap penuh tanya pria dihadapannya.


"Gue mau peluk lu,boleh?." Sherin sedikit ragu dengan permintaan Rafka.Tapi gadis itu segera menepisnya dan mengangguk membuat laki-laki disampingnya itu langsung memeluk Sherina erat.


"Makasih Sher,makasih." Dalam pelukannya,Sherin mengangguk.Dan ingin membalas pelukan itu sebelum suara pekikan membuatnya mengurungkan niatnya itu.


"A-aduh maaf non,bibi nggak tau." Ujar bi Wati salah tingkah.Ternyata wanita itu membawakan minuman lengkap dengan cemilan untuk dinikmati kedua remaja ini.Tapi ia tidak tau jika majikannya tengah berpelukan dengan laki-laki yang mengaku sebagai sahabatnya.


"Nggak papa bi,itu taruh aja diatas meja bi." ucap Sherin yang langsung dilakukan oleh asisten rumah tangganya itu.


"Oh iya,bi ini temen Sherin,namanya Rafka." kedua manusia yang meiliki perbadaan usia cukup jauh itu saling memberikan salam.


"Ya udah kalo gitu bibi pamit kebelakang dulu,silahkan dilanjutkan." Sherin terkejut dengan ucapan bi Wati,maksudnya dari dilanjutkan itu,melanjutkan apa?."


...Tbc...


...Terimakasih buat kalian yang udah like,commet & vote...

__ADS_1


...Sayang kalian banyak²...


__ADS_2