
"Enak ya?." Tanya Ferdy pada Sherin yang kini tengah melahap jajanan yang ia belikan saat kembali pulang.
"Enak banget,papa mau?." Gadis itu menyodorkan bungkusan berisi cemilan dengan rasa kesukaannya.
"Nggak ah,papa nggak suka pedes." Tolak Ferdy sembari menjauhkan bungkusan itu dari hadapannya.
"Yah cemen,masa nggak suka pedes sih." Sherin kembali melahap jajanan itu tanpa memperdulikan tatapan kesal ayahnya.
Zea yang melihat anak dan suaminya itu hanya bisa tersenyum,jarang sekali Sherin ikut berkumpul bersama sepeerti ini.Biasanya anak gadisnyabitu lebih banyak mengurung diri dikamar.
"Pa,besok Sherin berangkat ke sekolah bareng papa boleh?." Tanya Sherin setelah menghabiskan satu bungkus kripik pedas kesukaannya.
"Boleh,boleh banget malah.Tapi kok tumben?."
"Males pa,capek kalo harus berangkat kepagian mulu." Jawab Sherin sembari menyandarkan tubuhnya kesofa.
Dalam ceritanya,Sherina ini selalu berangkat pagi-pagi sekali hanya untuk menunggu Rafka diparkiran dan setelah laki-laki itu datang,Sherina diabaikan begitu saja.
"Suka boleh,tolol jangan." Ujar Ferdy.Dirinya tau alasan mengapa anaknya ini selalu berangkat pagi-pagi.
Sherin mendengus kesal mendengar kata tolol yang ayahnya tujukan pada dirinya.Tapi memang benar,gadis yang tubuhnya kini ia miliki sangat bodoh sampai keusus.
"Hmm pa,ma Sherin ke kamar dulu ya,mau lanjut ngerjain tugas."
"Tugas nggak ada salah sama kamu kok dikerjain,kasian banget nasibnya." Ucap Ferdy dengan tatapan lurus kearah televisi yang menampilkan sinetron kesukaan ibunya.
"Iyain aja deh pa,biar cepet." Jawab Sherin kesal.
Ferdy dan Zea tertawa melihat kekesalan anaknya itu.Sedangkan Sherin langsung berlalu menuju kamarnya dengan wajah ditekuk,macam sepeda lipat,bercanda.
.........
Setibanya gadis itu didalam kamar,Sherin tak langsung melakukan apa yang ia katakan pada kedua orangtuanya untuk mengerjakan tugas.Karena sebenarnya tak ada tugas sama sekali,itu hanya sebagai alasan.Memang durhaka anak satu ini.
Gadis itu meraih ponsel yang ia charger untuk melihat apakan batrai nya sudah terisi full atau belum.
Tak ada satu pun notif diponselnya.Penyebabnya,karena gadis itu kebablasan menghapus semua kontak bahkan akun sosial media milik Sherina.
"Bikin baru aja kali ya?." Gumamnya,dan mulai membuat akun baru bernamakan dirinya.Ya iyalah masa nama kamu.
...
...
__ADS_1
Akhirnya,Sherin membuat akun instagram baru miliknya.Banyak yang langsung memfollow gadis itu,dan kebanyakan dari mereka berasal dari sekolah gemilang.
Ting
Sherin langsung melihat notifikasi yang baru saja masuk.Ternyata Maudy mengiriminya pesan.
Sherin tertawa melihat balasan dari gadis itu.Ya Sherin memotong pendek rambutnya sendiri.Bahkan orang-orang rumah terutama orangtuanya terkejut melihat penampilan Sherin yang kini berambut pendek.
Setelah beberapa lama memainkan ponselnya,Sherin merasa dirinya mengantuk.
Akhirnya gadis itu memilih untuk tidur.Namun sebelum membaringkan tubuhnya,Sherin mencharger terlebih dahulu ponselnya,agar besok batrai benda itu sudah terisi full.
Setelah memastikan sambungan daya sudah terhubung ke ponselnya,Sherin pun segera membenahi posisinya untuk tidur dan menuju alam mimpi.
...Skip...
"Kita sudah sampai ditempat tujuan nona." Ucap Ferdy yang membuat Sherin tertawa.Pria paruh baya itu sedang berakting menjadi sopir taksi.
"Terimakasih ya pak,saya ngutang dulu." Keduanya sama-sama tertawa.Ternyata selera humor ayah Sherina rendah sekali.
"Udah ah,Sherin ke kelas dulu ya pa." Gadis itu melepas sabuk pengamannya.
"Nanti papa jemput ya." Sherin langsung menoleh kearah ayahnya itu.
"Kamu bareng Maudy aja,kalo emang Maudy nggak bisa,kamu telepon papa.Jangan naik angkot."
"Ih kenapa?." Keluh Sherin.
"Pokoknya nggak boleh." Perkataan Ferdy memang tidak bisa dibantah.Akhirnya Sherin mau tidak mau harus menuruti ayahnya itu.
"Ya udah kamu masuk kedalem,belajar yang pinter." Sherin mengangguk lalu mengecup singkat pipi Ferdy.
Sherin keluar dari dalam mobil,dan melambaikan tangannya saat mobil hitam milik ayahnya itu mulai meninggalkan area sekolah.
Saat hendak berbalik,langkah Sherina terhenti ketika keningnya menubruk sesuatu.Sherina mendongak untuk melihat orang yang sudah menghalangi jalannya.
"Rafka?." Gumam Sherin yang masih bisa didengar oleh orang yang gadis itu maksud.
Lagi dan lagi tatapan meremehkan yang ia lihat dari laki-laki berkulit putih itu.Sherin menghela napas lelah.Padahal dirinya tak ingin berurusan lagi dengan manusia satu ini.
"Sandiwara lu bagus juga.Dianterin sama bokap,biar lebih keliatan natural aktingnya."
"Terus kenapa?,masalah buat lu?." Ucap Sherin dengan nada yang menantang.
__ADS_1
"Mau lu sandiwara kaya apapun,gue nggak akan pernah luluh,gue bakalan tetep benci sama lu." Rafka mengucapkan kalimat itu sembari mendekatkan wajahnya,membuat Sherina harus memundurkan kepala.
Ditatapnya kedua netra tajam milik pria itu.Seringaian yang mungkin tak pernah Sherina tunjukkan pada Rafka,kini Sherin tunjukkan kepada laki-laki dihadapannya.
Sherin mendekatkan wajahnya,tepatnya kearah telinga laki-laki itu untuk membisikkan sesuatu.
"Gue nggak peduli." Gadis itu menjauhkan wajahnya dan menatap datar kearah Rafka.
"Pasang telinga lu,dan denger ini baik-baik." Rafka menatap tepat kenetra gadis yang kini tak lagi berbicara lembut kepadanya.
"Gue udah nggak mau lagi berharap sama lu.Gue udah capek Raf.Jadi,mulai sekarang gue bakalan berhenti.Sesuai kemauan lu."
Setelah mengucapkan tujuannya,Sherin pergi meninggalkan Rafka yang kini masih terdiam.Ada perasaan lain pada diri Rafka saat gadis itu mengatakan ingin berhenti untuk mengejarnya.
"Gue nggak akan pernah percaya sama lu Sherina." Gumam Rafka meyakinkan dirinya,jika gadis itu hanya ingin bermain-main dengannya.
.........
"Serius lu ngomong gitu?." Sherin hacya mengangguk menanggapi pertanyaan Maudy.
Ternyata apa yang ia lakukan tadi dengan Rafka dilihat oleh gadis itu.Dan saat Sherin sampai dikelas,Maudy langsung melontarkan banyak pertanyaan yang mau tidak mau harus Sherin jawab.
"Gue sekarang percaya sama niat lu mau move on dari Rafka." Sherin yang tadinya hanya fokus pada game diponselnya,langsung menatap Maudy yang duduk dikursi depannya.
"Terus kemarin lu nggak percaya gitu?."
"Y-ya percaya,cuma sedikit ragu aja.Secara kan lu bucin banget sama itu anak." Sherin berdecak mendengar jawaban gadis itu.
"Gue bakalan dukung apapun keputusan lu." Ujar Maudy yang membuat Sherin tersenyum.
"Makasih,lu selalu ada buat gue.Padahal gue sering banget nyuekin lu."
"It's oke,tapi nggak gratis.Nasi goreng mak mancoy mantep nih." Sherin seketika merubah ekspresinya mendengar hal itu.Maudy ini memang banyak mau ternyata.
Bel pertanda masuk pun berbunyi,kelas pun akan dimulai.Sherin dan Maudy mempersiapkan diri mereka karena hari ini pelajaran guru paling killer seantero Gemilang.
.........
"Parah sih tuh guru,tiba-tiba ngadain kuis dadakan.Mana ditunjuk lagi.Kan jantung gue jadi disko." Keluh Maudy yang mendapat persetujuan oleh Sherin.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju kantin karena waktu istirahat sudah tiba.Sepanjang jalan Sherin hanya mendengar Maudy yang menggerutu memaki guru killer itu.
Dan ketika mereka sampai ditempat tujuan,saat itu juga seseorang terjatuh tepat didepan Sherin,membuat dirinya dan sahabatnya terkejut bukan main,ditambah suara teriakan dari seorang pria yang tadi pagi ditemuinya.
"SHERINAA!!."
__ADS_1
...Tbc...