Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)

Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)
Chapter 31


__ADS_3

Sherin menatap bingung Refan,namun saat akan berbicara,tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang.Perlahan rasa pening mulai dirasakan oleh Sherin,bahkan matanya mulai memberat.


"Sial ini obat bius."


Sherin mencoba untuk tetap bertahan.Namun tubuhnya yang kian melemah dan matanya yang semakin terasa berat,membuat Sherin dikuasai oleh kegelapan yang akhirnya merenggut seluruh kesadarannya.


.........


"Eugh."


Sherin melenguh dalam tidurnya,ia mencoba untuk membuka kedua netranya yang terasa berat,bersamaan dengan itu,ia merasakan pening dikepalanya.


Sepintas ingatan kejadian diacara ulang tahun Diana kembali berputar dikepalanya.Terakhir kali sebelum ia pingsan,ia sempat mendengar Maudy yang meneriakkan namanya.


"Apa gue cuma mimpi?." Tanya Sherin pada dirinya sendiri.


Setelah kedua netranya terbuka sempurna,ia melihat sekeliling ruangan bernuansa hitam dan merah.Sangat berbeda dengan kamar miliknya.


"Ini bukan kamar gue."


Sherin segera membenarkan posisinya agar bisa lebih leluasa meneliti setiap sudut dari kamar itu."Apa ini kamarnya Rafka?." Gumam Sherin sembari menuruni ranjang.Tidak ada bingkai foto satu pun yang diletakkan diruangan itu,sehingga ia sulit mengetahui siapa pemilik kamar ini.


"Lu udah sadar?." Suara bass itu membuat Sherin terlonjak kaget,ia bahkan tidak mendengar pintu kamar dibuka.Namun bukan itu yang menjadi topik utama,melainkan seseorang yang berdiri didepan pintu kamar dengan senyum diwajahnya.


"Refan?!." Gumam Sherin tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.Bagaimana bisa Refan ada ditempat ini juga.


Disaat Sherin tengah sibuk dengan pikirannya,gadis itu sampai tak sadar jika Refan mulai mendekat kearahnya.


"Hai." Ujar Refan setengah berbisik sembari mengusap lembut pipi Sherin.


Sherin yang kesal dengan kelakuan Refan yang nekat menculiknya pun menepis kasar tangan laki-laki itu.Ditatapnya Refan dengan tajam.


"Mau lu apa sih Fan?.Kenapa lu ngelakuin hal ini?." Sherin mencoba untuk bersikap tenang,ia tak ingin membuat keributan dirumah orang lain.


"Apa kurang jelas yang gue bilang semalem?.Gue suka sama lu Sher,gue mau lu jadi milik gue." Refan menangkup wajah Sherin.Ditatapnya lembut gadis didepan matanya itu.


Sherin menyingkirkan tangan Refan yang menangkup wajahnya,namun laki-laki itu malah menariknya pelan,hingga Sherin kini berada didalam pelukannya.


Sherin berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Refan,tapi sekeras apapun gadis itu berusaha,kekuatan Refan lebih besar darinya.

__ADS_1


"Fan gue mohon jangan kaya gini,lu udah punya Diana,jangan jadi cowok brengs*k." Sherin masih berusaha melepaskan diri.


Namun setelah beberapa detik ia mengucapkan itu,Sherin dikejutkan dengan tindakan Refan yang tiba-tiba menggendongnya ala bridal style,membuat Sherin dengan cepat mengalungkan kedua tangannya dileher laki-laki itu.


"Untuk sekarang jangan bahas itu." Refan membawa Sherin menuju tempat tidur dan meletakkannya dengan pelan diatas kasur,seakan gadis itu seperti benda yang akan rapuh meskipun sudah diletakkan ditempat yang tepat.


"Lu makan dulu ya,gue udah suruh pelayan gue nyiapin sarapan buat lu." Tak lama Refan mengucapkan itu,dari arah pintu kamar muncul dua orang wanita dengan pakaian pelayan masuk dengan membawa sesuatu ditangan mereka masing-masing.


"Ini makanannya tuan muda."


"Hm,taruh aja dimeja." Sherin yang semula melihat kedua pelayan itu kini beralih menatap Refan dengan dahi mengerut.Nada bicaranya sangat berbeda,tak seperti saat Refan sedang berbicara dengannya.


"Tugas kami sudah selesai tuan,kami pamit undur diri." Ucap salah satu dari kedua pelayan itu.


Refan mengangguk sembari melambaikan tangannya memberi instruksi kepada mereka untuk segera meninggalkan kamar itu.


"Lu makan dulu ya." Sherin menggeleng mendengar Refan."Gue mau pulang." Lirih Sherin sembari menatap Refan dengan wajah sedihnya.


Sherin pikir laki-laki itu akan luluh jika ia memasang ekspresi wajah seperti itu.Tapi ternyata Refan sama sekali tidak menghiraukannya.Laki-laki itu kini malah mendekat dan mengusap surai hitam miliknya.


"Nggak bisa Sher,lu harus tetap sama gue." Sherin menghela napas lelah.Refan ternyata termasuk orang yang keras kepala.


Refan yang melihat Sherin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hanya bisa menghela napas pelan.


"Maaf Sher,tapi gue harus ngelakuin ini." Gumam Refan yang masih dapat didengar oleh Sherin.


Dibalik selimut yang ia gunakan untuk menutup tubuhnya hingga kepala,Sherin mendengar langkah kaki yang menjauh disusul suara pintu yang menutup.Perlahan gadis itu membuka selimut yang menutupinya,sedikit mengintip untuk melihat keadaan,dan ternyata Refan baru saja pergi.


Disibakkannya selimut yang menutupinya.Ia mendengus lelah.Lagi-lagi Refan membuatnya tak habis pikir,jika alasan laki-laki itu menculiknya hanya karena rasa suka,seharusnya Refan tidak melakukan hal gila semacam itu.


"Bosen banget,hp gue juga nggak ada lagi." Sherin baru menyadari jika ia tak memegang ponselnya.Gadis itu berdecak kesal.


Apa yang ia alami selama menjadi Sherina sangat menyeleweng dari cerita aslinya.Kemunculan Refan juga tak pernah ia tuliskan dinovelnya.


"Kenapa jadi gini sih?." Batin Sherin.


Sherin memilih untuk pergi ke balkon kamar Refan guna menenangkan diri.Pemandangan dari atas balkon sangat memanjakan mata Sherin.Namun perhatiannya cepat beralih pada suara mesin motor yang dinyalakan.


Sherin memperjelas penglihatannya.Dibawah sana Refan telah siap dengan helm full facenya.Laki-laki itu mulai melajukan motor merah sport miliknya,meninggalkan halaman rumah dan membelah jalan raya.

__ADS_1


"Dia mau kemana?."


.........


"Bosen banget dikamar terus." Gerutu Sherin yang merebahkan dirinya diatas kasur.Dipandanginya langit-langit kamar.


"Gimana caranya gue kabur dari sini?." Sherin sudah seperti layaknya orang gila.Ia sangat frustasi dengan keadaan saat ini.Gadis itu tak akan pernah menyangka jika ia akan mengalami hal konyol semacam ini didunia fantasi.


Lama berpikir,Sherin pun segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamar.Didekatkan telinganya pada pintu untuk mengetahui suasana diluar sana.


Tak ada suara apapun yang ia dengar,perlahan Sherin menekan knop pintu yang tertutup itu hingga terbuka.Namun betapa terkejutnya gadis itu saat ia mendapati dua orang berbadan besar tengah berdiri membelakanginya.


Sherin kembali menutup pintu itu.Harapannya untuk kabur dari tempat ini sepertinya akan sangat sulit.Refan benar-benar bukan orang biasa.


"Gimana gue bisa kabur kalau kaya gini caranya?." Sherin makin dilanda kebingungan.Tapi ia bosan jika harus terus berada didalam kamar.


"Apa gue nekat aja ya,sayangnya gue nggak terlalu ahli dalam perbaku hantaman." Sherin kembali berpikir.


"Bodo amat lah." Sherin berbalik dan kembali membuka pintu kamar dengan lebar,membuat dua orang yang sedang berjaga didepan kamar itu menoleh cepat kearah Sherin berada.


Mereka bertiga terdiam,dan sejurus kemudian Sherin mengambil ancang-ancang untuk berlari meninggalkan dua orang yang kini tengah meneriakinya.


...Tbc...


...Alhamdulillah bisa up hari ini,sebenarnya aku mau up kemarin,cuma karena profesiku yang seorang pengacara,alias pengangguran banyak acara,jadi aku terpaksa up sekarang....


...Oh iya,aku mau tanya...


...Menurut kalian,Sherin cocoknya sama Rafka atau Refan?...


...Komen pendapat kalian ya...


...Terimakasih juga udah nyempatin diri buat mampir diceritaku ini...


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya😁...


...Semoga kalian sehat dan selalu bahagia...


...Aamiin...

__ADS_1


...❤💜❤...


__ADS_2