
"Ya ampun Sherin." Rafka memeluk Sherin dengan erat,begitu juga gadis itu.Rafka sangat bersyukur saat melihat Sherin dalam keadaan baik-baik saja.
"Rafka." Sherin melepas pelukan laki-laki itu,Rafka sempat menolak untuk melepas pelukannya,namun sebisa mungkin Sherin memaksa agar pelukan Rafka padanya terlepas,sebelum para penjaga itu datang.
"Raf kita harus cepat-cepat pergi dari sini,anak buah Refan lagi ngejar gue."
"Lu tenang aja,biar gue hajar mereka,termasuk si Refan brengs*k itu." Sherin berdecak mendengar ucapan Rafka.
"Ya udah deh terserah lu,mana kunci motor lu?,siniin." Rafka mengernyit bingung.
"Buat apa?." Tanya Refan yang membuat Sherin memutar bola matanya malas.
"Mau pulang gue,katanya lu mau ngehajar Refan sama anak buahnya,ya gue persilahkan."
Ditengah perdebatan kedua manusia tak ada otak itu,suara yang meneriaki nama Sherin kembali terdengar,membuat gadis itu panik seketika.
"Tuh kan,ah lama lu buruan!!." Sherin menarik kerah Rafka dan mendekati motor sport berwarna hitam milik laki-laki itu.
"SHERINAA!!!."
Suara Refan membuat mata Sherin membola.Ternyata Refan masih bisa mengejarnya walau dalam kondisi seperti itu.
Rafka yang tadinya hendak menghajar Refan karena telah menculik gadisnya,harus ia pendam karena saakt ini keselamatan Sherin lebih penting.
Saat para anak buah Refan semakin dekat dengan mereka,Rafka langsung tancap gas yang membuat Sherin hampir saja terjengkang jika tidak segera memeluk pinggang laki-laki itu.
"Sialan emang." Batin Sherin.
Mereka berdua semakin menjauh dari kediaman Refan.Sherin menghela napas lega karena bisa keluar dari tempat itu.
Sherin sedikit terkejut saat tangan Rafka menarik tangannya untuk lebih melingkar dipinggangnya.Tanpa Sherin sadari,ia tersenyum dan memeluk pinggang Rafka sedikit erat.Sherin menyandarkan kepalanya pada punggung Rafka,menikmati usapan jari Rafka pada punggung tangannya.
.........
__ADS_1
Sherin begitu antusias saat motor Rafka memasuki halaman rumahnya.Disana orang-orang telah berkumpul untuk menyambut kedatangan gadis itu.
"Sherinaa." Zea dan Ferdy langsung memeluk putrinya begitu Sherin turun dari motor Rafka.Dipeluknya kedua orang yang begitu ia rindukan.
"O-om,tan-tante gantian d-dong." Ujar Maudy sembari terisak membuat semua orang yang ada disana menggelengkan kepala,terkecuali Sherin yang malah tertawa melihat sahabatnya itu.
"Huuaaaa Sherin gue kangen." Maudy segera memeluk Sherin setelah kedua orangtua sahabatnya itu menyingkir.
"Gue juga kangen." Sherin yang mendengar Maudy menangis juga ikut meneteskan air mata.Dilihatnya satu persatu dari orang-orang yang ada disana.Tatapan haru mereka membuat Sherin sadar,banyak yang tulus menyayanginya.
"Gantian dong." Cibir Satria yang langsung mendapat pukulan kematian oleh Rafka yang ada didekatnya.Sherin dan Maudy pun menyudahi acara berpelukan mereka.
"Sakit setan." Gerutu Satria yang membuat Zidan tertawa puas,sedangkan Rafka menatapnya malas.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?.Kamu nggak disiksa sama cowok itu kan?." Pertanyaan bertubi-tubi dari Zea membuat Sherin mengedipkan matanya beberapa kali.
"Nggak ma,Refan baik kok sama aku.Cuma ya gitu,aku nggak boleh kemana-mana kecuali disekitaran rumahnya." Jawab Sherin apa adanya.Refan memang baik padanya,bahkan ia diperlakukan selayaknya tuan putri.Tapi semua itu malah membuat Sherin tak nyaman.
"Pak Bambang,tolong jangan perbolehkan siapa pun masuk untuk saat ini."
"Baik pak."
"Ayo kita masuk kedalam." Semua orang masuk kedalam rumah kecuali pak Bambang yang kembali ke pos satpam.
.........
"Saya permisi kebelakang dulu." Ujar bi Wati dan segera berlalu pergi untuk menyiapkan minuman.
Semua orang telah mengambil posisi duduk mereka masing-masing.Rafka sedikit kesal karena Sherin memilih untuk duduk diantara kedua orangtua gadis itu.
"Nggak boleh gitu lu,nggak dapet restu mampus." Bisik Zidan menakuti Rafka.
Rafka hanya mendengus pasrah dan menyenderkan punggungnya ke sofa.
__ADS_1
Bi Wati juga sudah kembali dengan membawa beberapa minuman diatas nampan.
"Makasih bi." Ujar Sherin dengan senyum hangatnya.
"Sama-sama non." Bi Wati merasa bahagia karena anak dari majikannya telah kembali.Wanita itu begitu terkejut dengan kabar penculikan Sherin.Tapi sekarang ia bersyukur karena gadis itu telah kembali.
"Sherina." Panggil Ferdy yang membuat Sherin segera menoleh kearahnya.Ditatapnya laki-laki paruh baya itu dengan penuh tanya.
"Guna menghindari kejadian yang sama,untuk sementara waktu,kamu belajar dari rumah." Ujar Ferdy yang membuat Sherin menatapnya tak percaya.
"Sherin nggak mau."
"Sherina,ini demi kebaikan kamu.Mama sama papa nggak mau kejadian kaya gini terulang lagi." Ucap Zea mencoba meyakinkan putrinya itu.
"Sherin bisa jaga diri kok ma,pa.Kemarin Sherin cuma lengah." Ferdy menggeleng melihat anaknya yang begitu keras kepala.
"Sherin tolong dengerin papa.Untuk sementara waktu aja,nanti kalau kondisinya sudah mulai stabil.Kamu bisa sekolah seperti biasa."
"Gue setuju sama om Ferdy Sher.Untuk sekarang lu jangan kemana-mana dulu.Refan itu orangnya nekat,Diana yang bilang itu ke gue."
Mendengar hal itu,Sherin sedikit berpikir.Benar apa yang Maudy katakan,Refan memang nekat,bahkan ia berani menculiknya didepan banyak orang.
"Oke,Sherin setuju." Ferdy dan Zea bernapas lega,begitu juga keempat sahabatnya.Meskipun ada rasa tak terima jika Sherin harus belajar dari rumah.
"Kalau kita mau main kerumah boleh om,tante?." Tanya Maudy dengan tampang polosnya.
"Yang mau larang lu siapa?.Dilarang pun lu juga bakalan dateng walaupun nggak dibukain pintu." Ujar Satria sedikit kesal dengan pertanyaan Maudy barusan.
"Ya boleh dong Maudy,kalian boleh main kesini kapan pun kalian mau." Ujar Zea yang membuat Maudy bersorak senang.Rafka,Satria,Zidan dan juga Sherin hanya menggeleng melihat kelakuan sahabat mereka itu.
...Tbc...
...Hallo...
__ADS_1