
"Non Sherin.Berhenti!!."
Sherin tetap berlari dan menghiraukan teriakan dari dua bodyguard Refan itu.Ia sesekali melihat kebelakang.Membuatnya tak sadar jika seseorang telah berdiri tak jauh dari hadapannya.
Saat Sherin sudah hampir mendekat,orang itu dengan cepat menangkap Sherin,yang membuat gadis itu berontak.
"Lepasin gue!!." Teriak Sherin sembari mencoba untuk melepaskan diri.
"Non Sherin nggak bisa pergi dari sini." Tegas pria yang menangkapnya.Sherin terus memberontak,namun kekuatannya kalah jauh dari pria itu.
"Loh non Sherin?." Suara itu membuat Sherin berhenti dan menatap seseorang yang baru saja memanggilanya.
Ia ingat dengan wanita paruh baya itu.Dia yang mengantar makanan untuknya tadi pagi."Tolong saya bu." Ujar Sherin memelas.Wanita paruh baya itu pun memberi kode pada pria yang menahan Sherin untuk melepaskannya.
"Kalian kembali ke tempat." Ketiga pria itu mengangguk dan membubarkan diri.Sherin yang melihat para bodyguard itu telah menghilang dari jangkauannya,berlari kecil mendekati pelayan wanita yang baru saja menolongnya.
"Makasih ya bu udah bantu saya."
"Sama-sama non,panggil saya bi Tuti aja." Sherin mengangguk sembari tersenyum ramah pada wanita paruh baya yang menjadi pelayan dirumah Refan.
"Oh iya bi,tadi saya lihat Refan pergi naik motor.Kira-kira dia mau kemana ya?." Tanya Sherin saat dirinya mengingat laki-laki pemilik rumah itu.
"Oh,tuan muda pergi kerumah orangtuanya non." Jawaban dari bi Tuti membuat Sherin menaikkan alisnya.
"Ru-rumah orangtuanya?." Bi Tuti mengangguk sebagai jawaban.Sherin semakin dibuat terkejut.
"Ta-tapi bukannya ini rumah orangtuanya Refan juga?." Sherin yang penasaran pun kembali bertanya.
"Bukan non.Ini rumah pribadi tuan muda." Sherin menarik napas dalam saat mendengar jawaban dari bi Tuti.Pantas saja Refan menculiknya dan membawanya ketempat ini,ternyata kenyataannya sungguh membuat Sherin tak menyangka.
"Non kenapa?." Sherin sedikit terlonjak saat bi Tuti menepuk pelan bahunya.
"O-oh,saya baik-baik aja kok bi.Cuma kaget aja." Ujar Sherin tergagap.
"Jangankan non Sherin,bibi aja juga kaget pas tau kalau ini rumah pribadi tuan muda Refan." Sherin tak menanggapi ucapan bi Tuti,gadis itu masih dalam mode terkejutnya,jadi ia memilih diam dan mendengarkan apa yang pelayan itu ucapkan.
__ADS_1
"Non Sherin mau lihat-lihat rumah ini?."
"Eh,emang boleh bi?." Tanya Sherin yang sudah menormalkan kembali dirinya.Sebenarnya Sherin malas jika harus berkeliling untuk melihat-lihat rumah yang lumayan besar ini,pasti akan lelah menurutnya.Tapi,jika dirinya kembali kedalam kamar pasti ia akan bosan.
"Kalau non mau,saya siap nemenin non Sherin." Sherin menggeleng pelan.
"Nggak usah bi,nanti biar Sherin sendiri aja.Lagi pula,pasti bibi juga lagi sibuk kan?."
"Sebenarnya iya non,tapi saya takut kalau nanti.." Wanita paruh baya itu menjeda kalimatnya.Sherin tau apa yang wanita itu maksud.
"Saya nggak akan kabur bi." Tegas Sherin.
Sebenarnya ini kesempatan bagi Sherin.Hanya saja ia harus lebih mempertimbangkan hal itu.Apalagi saat ia tau,jika Refan bukan orang biasa.
"Ya udah,kalau gitu,saya keliling dulu ya bi,nanti kalau udah selesai,saya kesini lagi." Bi Tuti mengangguk.Ia yakin gadis itu tak akan kabur seperti apa yang dikatakan tadi.
Setelah mendapat izin,Sherin pun mulai menyusuri rumah itu.Bahkan,belum sampai semua tempat ia datangi,Sherin telah dibuat takjub oleh design dari bangunan ini.Gadis itu kembali melihat-lihat,hingga ia melupakan rasa lapar diperutnya.
.........
Saat sedang asyik melihat-lihat tanaman yang ada ditaman itu,samar-samar Sherin mendengar suara ribut dari dalam rumah.Sherin yang penasaran pun mencari tau apa yang terjadi didalam sana.
"Sherina!!." Suara Refan menggelegar memenuhi ruangan saat Sherin sampai disana,dilihatnya Refan yang tengah membelakanginya sembari menyerukan namanya.
"Refan." Laki-laki yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri itu pun menoleh cepat saat mendengar suara gadis yang ia cari memanggil namanya.
Sherin terkesiap saat Refan berlari dan langsung memeluk erat tubuhnya.Sherin bisa merasakan deru nafas Refan yang tak beraturan.
"Gue pikir lu kabur." Bisik Refan tepat ditelinga Sherin yang membuat gadis itu merinding.
"Gu-gue nggak kabur,gue abis dari taman tadi." Refan semakin memeluknya saat Sherin mengatakan hal itu.
"Fan lepas." Sherin mendorong dada Refan,namun bukannya terdorong dan terlepas dari pelukan,Sherin malah merasakan tubuhnya melayang.Ternyata Refan menggendongnya seperti yang ia lakukan pagi tadi.
"Lu apa-apaan sih,turunin gue." Kesal Sherin sembari menatap tajam laki-laki yang kini juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Gue bakal turunin lu.Kalau kita udah sampai dikamar." Ucap Refan,yang membuat mata Sherin membola.
Gadis itu terus menggerakkan tubuhnya agar telepas dari gendongan.Namun entah kenapa,Refan sama sekali tak terganggu dengan apa yang Sherin lakukan.Laki-laki itu tetap berjalan sembari menggendongnya.Bahkan,sampai ia menaiki tangga pun,laki-laki itu tetap tak mau menurunkannya.
Sesampainya mereka didepan kamar,dua orang bodyguard yang bertugas menjaga didepan kamar segera membukakan pintu ketika melihat majikannya datang dengan seorang gadis digendongannya.
Apa yang Refan katakan benar-benar dilakukan.Laki-laki itu menurunkannya saat mereka telah sampai dikamar yang Sherin tempati tadi.
Laki-laki itu memandang Sherin dengan tatapan yang sama sekali tak ia mengerti."Refan?." Sherin mencoba menyadarkan Refan yang duduk disebelahnya sembari menatap penuh kearahnya.
"Refan lu nggak pap..." Ucapan Sherin berhenti saat lagi-lagi Refan memeluk erat dirinya.Laki-laki itu menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sherin yang membuat gadis itu merasa sedikit geli karena sebagian rambut Refan yang mengenainya.
"Jangan pergi Sher,gue mohon." Lirih Refan.
"Fan,gue punya kehidupan sendiri.Orangtua gue,sekolah gue,teman-teman gue.Jangan jadi orang egois Fan.Gue bukan barang yang bisa dimilikin sesuka hati." Refan melepas pelukannya setelah Sherin mengatakan hal demikian.
"Gue nggak nganggep lu sebagai barang.Gue cuma mau lu tetap disini sama gue.Soal orangtua,lu nggak usah khawatir,lu masih bisa ketemu mereka.Sekolah?,lu bisa pindah kesekolah gue.Teman-teman?,lu bisa dapet teman setelah lu pindah nanti."
Sherin menghela napas panjang,bukan ini yang ia mau."Fan,lu bukan suka atau pun cinta sama gue,tapi lu terobsesi sama gue.Itu jadi beban buat gue Fan,tolong lu ngerti."
Refan menggeleng keras.Tiba-tiba ia berdiri dan pergi meninggalkan Sherin begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Sherin mencoba untuk mengejar Refan,namun kedua penjaga itu mencegahnya.
Sherin mengalah dan kembali memasuki kamar dengan perasaan tak karuan.
...Tbc...
Aku mau ngasih sedikit pengertian ya.Disini kan aku buat menurut sudut pandang Sherin,jadi aku nggak nyeritain sudut pandang dari tokoh yang lainnya.
Karena cerita ini aku buat menurut imajinasiku sendiri,dan imajinasi setiap orang pasti berbeda.Jadi kalau kalian bingung sama alur ceritanya,aku mohon maaf.
Aku juga mau ngucapin terimakasih buat kalian yang udah dukung cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
...❤❤❤...
__ADS_1