Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)

Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)
Chapter 17


__ADS_3

Sherin menatap jengah Rafka yang kini tertidur sembari menggenggam tangannya.Laki-laki itu sempat mengeluh jika sakit kepala yang ia rasakan kembali.Dengan paksa,Satria dan Zidan membawa sahabat mereka itu kembali kekamarnya,namun Rafka sempat menolak jika Sherin tidak ikut dengannya.


Karena tak ingin membuat keributan,mau tak mau Sherin pun mengikuti kemauan Rafka.


Suara ketukan pintu membuat atensi Sherin pada Rafka teralihkan.Pintu kamar berwarna senada dengan dinding itu perlahan terbuka,menampilkan wanita paruh baya dengan nampan yang ada ditangannya.


"Bi Sari." Gumam Sherin.Gadis itu sebenarnya ingin membantunya,hanya saja genggaman Rafka terlalu kuat.


"Mbak Sherin,ini makan buat den Rafka.Dia belum sempet makan siang." Bisik bi Sari yang membuat Sherin mengangguk.Wanita itu meletakkan piring berisi nasi dan beberapa lauk diatasnya.Sherin baru tau jika laki-laki itu tak menyukai bubur dikala sakit.


"Ya udah mbak,saya balik kedapur ya."


"Iya bi,makasih ya bi." Ucap Sherin,dan setelah itu bi Sari pun pergi meninggalkan Sherin dan Rafka yang masih terlelap.


"Raf,Rafka." Sherin mengguncang pelan tubuh laki-laki yang masih setia memejamkan kedua matanya.


"Ck,ini anak kebo banget." Sherin mencoba menarik tangan yang digenggam Rafka.


"Eugh."


"Raf bangun,makan dulu." Ujar Sherin menepuk pelan pipi putih itu.


Perlahan Rafka membuka matanya.Sebuah senyum kecil terbit menghiasi wajah pucatnya.Dan tanpa disadari Sherin,gadis itu juga ikut tersenyum melihat senyuman Rafka.


"Makan dulu." Rafka perlahan mengangguk.Sherin membantunya untuk membenarkan posisi Rafka agar terduduk dan bersandar dipunggung ranjang.


"Nih." Sherin menyerahkan makanan itu pada Rafka.Bukannya menerima,Rafka malah melihat kearah Sherina.


"Kenapa lu?,ini makan!!."


"Suapin." Ujar Rafka dengan nada lesu.Lagi-lagi Sherin harus menghela napas melihat kelakuan Rafka.


Sherin pun mengalah dan memilih mengambil tempat untuk duduk disamping Rafka dan berhadapan dengannya.Gadis itu mulai menyuapi Rafka yang terlihat seperti bayi besar jika dalam keadaan seperti ini.


.........


Waktu sudah menunjukkan sore hari.Namun Sherin masih berada dirumah Rafka.Laki-laki itu terus memaksanya untuk tetap dirumahnya.Sherin sudah berusaha menolak,namun Rafka tetap saja memaksa bahkan mengancam jika ia tidak akan makan dan meminum obatnya.


"Bisaan emang nih manusia satu." Cibir Zidan yang disetujui oleh Satria.


"Anak orang nggak dibolehin pulang,dilabrak bapaknya mamp*s kau." Kini giliran Satria yang berucap.


Sherin hanya bisa menghembuskan napasnya,ia tak ingin menjadi penyebab Rafka bertambah sakit,ya walaupun sebenarnya dia tak peduli,toh bukan urusannya.


Tapi kali ini Sherin benar-benar tak ingin ancaman Rafka yang mengatakan tak akan makan dan minum obat membuatnya was-was.


"Satria,Zidan.Kalo kalian mau pulang,pulang aja.Gue nggak papa kok,nanti biar gue suruh papa gue buat jemput."


"Seriusan nggak papa Sher?." Sherin mengangguk yakin,akhirnya Zidan dan Satria pergi meninggalkan Sherin dengan pemilik rumah itu.


"Bibi permisi kebelakang dulu mbak,den Rafka." Bi Sari berlalu dari hadapan Sherin dan Rafka.Kini tinggal mereka berdua yang ada didalam kamar milik laki-laki itu.


"Sherin."


Sherin menoleh saat Rafka memanggilnya.Alisnya terangkat melihat Rafka yang malah tersenyum kearahnya.


"Kesambet lu?." Rafka malah tertawa kecil mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis itu.

__ADS_1


"Gue seneng lu mau nemenin gue disini."


"Terpaksa Raf gue." Ujar Sherin mengambil posisi duduk disamping Rafka.Sebenarnya bukan kemauan Sherin untuk duduk didekat laki-laki itu.Melainkan Rafka yang memintanya.


Rafka mengambil posisi ternyaman dibahu gadis itu.Sherin hanya bisa pasrah,ia baru tau jika laki-laki itu akan lebih keras kepala jika sedang sakit.


Sherin jadi ingat kembali dengan alur novel yang ia buat.Gadis itu memang menuliskan tentang kejadian dimana Rafka sakit,namun yang menjadi perbedaannya yang ia gambarkan dinovelnya Rafka tak ingin dijenguk oleh Sherina,bahkan laki-laki itu terus mengusirnya.Tapi sekarang,laki-laki ini tidak bisa lepas dari Sherin barang sedetik saja.


"Jangan gitu Raf geli guenya." Sherin mencoba menjauhkan wajah Rafka yang berada diceruk lehernya.Bahkan laki-laki itu mengendus-endus leher Sherin.


"Lu wangi." Gumam Rafka yang terus melakukan aksinya.Sherin berdecak dan mencoba menghentikan Rafka.


"Aaaw."


Sherin bernapas lega saat Rafka mulai menjauh dari dirinya.Gadis itu mencubit kecil pinggang Rafka hingga membuatnya mengeluh kesakitan dan berhenti mengendusi leher Sherin.


"Sakit banget cubitan lu." Ujar Rafka yang masih sibuk mengusap pinggangnya yang menjadi sasaran cubitan gadis itu.


"Makanya jangan macem-macem,masih mending gue cubit,belum aja gue gigit." Sherin mengambil ponselnya berniat untuk mengabari sang ayah.


Namun kegiatannya itu harus terganggu ketika Rafka dengan tiba-tiba memeluknya dari samping,lalu menggulingkan gadis itu untuk berbaring disampingnya.


"Gila lu ya." Rafka mengabaikan Sherin yang sibuk memakinya.


Ia mempererat pelukan dipinggang kecil gadis itu dan menyembunyikan wajahnya keceruk leher Sherin,yang membuat Sherin kembali merasa geli.


"Biarin gini aja dulu,gue ngantuk."


"Ngantuk tinggal tidur ngapain sih peluk-peluk gue segala." Sherin tak lagi berontak,ia sibuk mengetikkan pesan untuk ayahnya,hal itu juga tak luput dari perhatian Rafka.


"Sher." Panggilan Rafka hanya dijawab dengan deheman dari Sherin yang masih fokus dengan ponselnya.


"Lu kayanya bukan cuma sakit kepala,tapi sakit mental juga." Sherin hendak bangkit dari posisi berbaringnya,namun belum sampai ia berdiri,Rafka menarik tangannya membuat Sherin mendarat ditempat yang tak seharusnya.


Sherin dan Rafka sama-sama mematung atas kejadian yang baru saja terjadi.Hingga mereka tak sadar jika seseorang masuk kedalam kamar sambil memandang malu-malu kearah mereka.


"Eh,maaf loh ini,Bibi jadi ganggu waktu kalian." Segera tersadar,Sherin segera menjauhkan diri dari atas tubuh Rafka.


"B-bi Sari,ini nggak kaya apa yang bi Sari liat kok." Sherin yang tergagap membuat kedua orang itu menatapnya gemas,apalagi Rafka.


"Nggak papa kok mbak Sherin.Namanya juga remaja lagi kasmaran jadi ya wajarlah." Sherin kelabakan mendengar ucapan bi Sari,jangan sampai wanita itu beranggapan seperti bi Wati yang mengira jika dirinya dan Rafka berpacaran.


"Pacar saya emang malu-malu bi." Ujar Rafka yang semakin memperkeruh suasana.Sherin memberi tatapan membunuh dikala Rafka melihat kearahnya.


Bi Wati hanya terkikik,kebanyakan remaja seperti Sherin dan Rafka itu memang malu-malu untuk mengakui hubungan mereka.


"Bibi sampe lupa.Bibi kesini mau ngasih tau kalo orang tua den Rafka nggak bisa pulang malam ini.Kemungkinan besok mereka pulangnya."


"Bi Sari nggak ngasih tau mereka kalo saya sakit kan." Sherin menatap aneh laki-laki dihadapannya itu.


"Nggak den,bibi nggak ngasih tau sama mereka." Jawab bi Sari yang mendapat acungan jempol dari Rafka.Setelah menyampaikan hal itu,Bi Sari pamit pergi dan meninggalkan kamar.


"Kok lu nggak ngasih tau ke orangtua lu kalo sakit?."


"Gue nggak mau mereka khawatir." Rafka menarik pelan tangan Sherin agar kembali duduk disampingnya.Sherin lagi dan lagi hanya bisa pasrah.Rafka jika sakit begini sangat manja.Berbeda jika dirinya sedang sehat.


"Lu nggak mandi Raf?." tanya Sherin mengusap pelan rambut Rafka yang entah sejak kapan mengambil posisi tidur dipaha Sherin yang tertutup celana olahraga.

__ADS_1


"Emang boleh mandi?."


"Ya boleh lah,tapi kalo emang lu nggak kuat dingin,mending pake air anget aja." Jawab Sherin yang kini menyugar rambut Rafka dengan jari-jemarinya.Rafka mengangguk sembari memejamkan matanya akibat ulah Sherin.


"Jangan tidur." Rafka membuka perlahan kedua matanya.Laki-laki itu pun bangkit untuk pergi mandi dengan Sherin yang menunggu dikamar sembari memainkan kembali ponsel miliknya.


.


.


Tak sampai lima menit,Rafka telah selesai dengan ritual mandinya.Ia melihat Sherin yang masih setia memainkan game diponsel hitam milik gadis itu.Karena diabaikan,jiwa jahil dalam diri Rafka meledak.Ia mengibas-ngibaskan rambut basahnya yang membuat Sherin menggerutu kesal.


"Kurang ajar lu ya.Ah,kalo udah begini tingkahnya berarti udah sembuh nih."


"Apaan sih,orang gue masih pusing dikit.Yang tadi gue paksain biar lu nggak nyuekin gue terus."


"Alesan aja lu kutil dugong." Sherin meraih handuk kecil yang sempat ia lihat berada diatas sofa yang tersedia dikamar laki-laki itu.


"Nih keringin rambut lu." Sherin menyerahkan handuk berwarna hitam itu kepada Rafka,namun bukannya menerima,Rafka justru malah memposisikan Sherin untuk berdiri dihadapannya,sementara dirinya duduk disofa.


"Keringin." Lagi-lagi Sherin harus menjadi korban kemanjaan laki-laki ini.Tak ingin banyak bicara,gadis itu segera mengeringkan rambut Rafka dengan handuk hitam itu.


"Lu kalo sakit manja banget sih."


"Manjanya sama lu ini." sherin menoyor kepala Rafka yang membuat laki-laki itu tertawa.


Perbincangan kecil terjadi diantara mereka berdua,seolah lupa tentang masalalu yang pernah membuat mereka menjaga jarak,khususnya Sherin yang meminta laki-laki itu untuk menjauh darinya.


.........


Sore telah berganti menjadi malam.Setelah berbagai cara Sherin kerahkan untuk membuat Rafka memperbolehkannya untuk pulang,akhirnya berhasil.Namun Sherin juga sedikit menyesal karena ia membujuk Rafka dengan mengatakan jika ia akan kembali besok.


"Ya udah kalo gitu,gue pamit ya."


"Iya,jangan lupa sama janjinya." Sherin mengangguk paksa,dan setelah berpamitan,gadis itu dengan ayahnya pergi meninggalkan rumah Rafka.


Diperjalanan pulang Sherin dan ayahnya berbincang santai,pembicaraan random mereka akhirnya terfokus pada Sherin yang berakhir dirumah Rafka.


"Kamu beneran nggak pacaran sama anak itu?." Tanya Ferdy dengan pandangan lurus menatap jalanan.


"Nggak pa,Sherin sama Rafka cuma temen."


"Masa sih?." Sherin mendengus mendengar pertanyaan ayahnya yang seakan tak percaya dengan ucapannya.


"Kan Sherin udah pernah bilang sama mama sama papa juga.Sherin udah berhenti ngejar Rafka.Dan sekarang Rafka sama Sherin cuma temenan."


"Iya iya,papa percaya kok." Ujar Ferdy sembari mengelus kepala Sherin.Gadis itu memasang wajah cemberutnya.


"Jangan gitu ah,makin jelek.Ya udah deh papa minta maaf,sebagai gantinya papa beliin apapun yang kamu mau." Sherin yang mendengar tawaran menggiurkan dari papanya itu langsung merasa senang.


"Beneran pa?.Hmm kalo gitu Sherin pengen beli jajanan yang dijual dipinggir jalan." Ferdy sempat terkejut mendengar penuturan dari anak gadisnya.


"Kamu nggak takut sakit perut?." Tanya Ferdy yang dihadiahi tatapan aneh dari Sherin.


"Sakit perut kalo makan gerobak sama penjualnya juga." Jawaban Sherin seketika membuat Ayahnya itu tertawa.Dan malam itu suasana dipenuhi dengan tawa dari mereka.Mungkin sudah mulai gila,canda gila.


...Tbc...

__ADS_1


...Vote,like dan komennya jangan sampai lupa ya😁😁😁...


__ADS_2