
Hari telah berganti,dan Sherin masih tak menyangka jika apa yang dialaminya bukan sebuah mimpi seperti apa yang ia harapkan.Sherin benar-benar terkurung dirumah besar milik Refan.
Meskipun ia dibebaskan,bukan berarti Sherin bisa keluar dari sana,ia hanya diperbolehkan untuk keluar disekitaran rumah itu saja.Penjagaan yang ketat membuatnya hampir putus asa untuk bisa kabur dari tempat itu.Segala cara juga sudah ia lakukan untuk membujuk Refan agar mau membebaskannya.Tapi tetap saja,laki-laki itu tak menghiraukan apa yang Sherin inginkan.
"Bosen dikamar terus,keluar ah." Sherin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.
Sama seperti kemarin,ia akan disuguhkan oleh dua bodyguard yang berjaga setiap membuka pintu kamar itu.
Sherin berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka."Selamat pagi nona." Sapa salah satu dari kedua pria berbadan kekar itu saat mendengar deheman dari gadis tuan mudanya itu.
"Pagi juga pak.'' Sherin bingung harus berbuat apa.Saat akan melangkahkan kaki meninggalkan kamar,kedua bodyguard itu segera menghadangnya.
"Non Sherin mau kemana?." Sherin menatap mereka dengan alis yang mengerut.
"Saya bosan dikamar terus." Jawab Sherin sedikit ketus.
"Tapi non.."
"Pak saya nggak bakalan kabur,lagian juga disini penjagaannya ketat banget,gimana caranya saya bisa kabur kalau begitu?!." Sherin mulai kesal dengan tingkah mereka,sudah sama seperti majikannya.
"Benar juga." Gumam kedua penjaga itu yang masih bisa didengar oleh Sherin.
"Ya sudah non,non Sherin boleh pergi." Sherin mengangguk senang,gadis itu pun kemudian pergi mencari bi Tuti yang sepertinya tengah menyiapkan sarapan.
.........
Dugaan Sherin benar adanya,kini bi Tuti tengah menghidangkan makanan diatas meja bersama beberapa pelayan lainnya.Tanpa basa-basi lagi,Sherin pun mendekat kearah bi Tuti berada.
"Bi Tuti." Sapa Sherin yang membuat seluruh pelayan menengok kearahnya termasuk juga wanita si pemilik nama.
"Selamat pagi non Sherin." Ucap para pelayan dengan serempak yang membuat Sherin terkejut.
"Se-selamat pagi." Sherin sedikit membungkukkan tubuhnya,ia tersenyum canggung,jujur saja ia tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan dikehidupan sebelumnya.
"Non mau sarapan pakai apa?,bibi siapin."
__ADS_1
"Eh,nggak usah bi,nanti saja.Saya cuma mau tanya,Refan kemana ya bi?.Saya baru sadar kalau Refan nggak nampak batang hidungnya sedari tadi." Sherin memang belum melihat laki-laki itu sedari ia keluar dari dalam kamar.
"Mungkin masih dikamarnya non." Jawab bi Tuti.
Sherin mengerutkan dahinya."Emang dia suka bangun siang ya bi kalau libur?." Kebetulan hari ini adalah hari minggu,mungkin saja laki-laki itu memang selalu bangun disiang hari saat akhir pekan.
"Nggak non.Tuan muda rajin bangun pagi,biasanya dia udah bantu-bantu kita buat nyiapin sarapan atau nggak dia olahraga dihalaman depan sembari nyapa orang-orang yang lewat." Jawaban bi Tuti membuat dahi Sherin semakin mengerut.Jika Refan terbiasa bangun pagi,tapi kenapa sekarang laki-laki itu tak muncul sama sekali.
"Lebih baik non Sherin cek sendiri kekamarnya tuan muda." Mata Sherin seketika membola mendengar kepala pelayan itu berbicara.
"K-kok saya bi?." Entah kenapa Sherin menjadi gugup.
"Ya iya atuh non,kan non Sherin pacarnya tuan muda." Sherin menganga,sejak kapan dirinya menjadi pacar laki-laki itu.
"Udah waktunya sarapan non,bibi minta tolong ya non,panggilin tuan Refan.Bibi masih harus nyiapin masakan yang lain."
"T-tapi bi..." Bi Tuti pergi begitu saja meninggalkan Sherin yang kebingungan.Haruskan ia pergi untuk memanggil Refan kekamarnya.
Sherin pun akhirnya mengalah.Satu tarikan napas mengiringi langkahnya menuju kamar laki-laki yang telah menculiknya itu.
.........
"Apa gue masuk aja?."
Sherin menekan knop pintu kamar itu.Saat pintu telah terbuka,ia sedikit mengintip kedalam untuk melihat keadaan.
"Lah nggak ada." Ucap Sherin yang melihat kearah ranjang.Tidak ada orang yang ia cari disana.
"Apa Refan pergi keluar tapi bi Tuti nggak tau?." Pikir Sherin.Gadis itu kembali melihat kearah dalam.
"Belum sempat dirapihin kali ya,masih berantakan gitu tempat tidurnya." Sherin yang berinisiatif untuk membereskan kamar Refan pun masuk tanpa pikir panjang.Jiwa bersih-bersihnya meronta-ronta.Sherin pun mulai membereskan kamar itu dimulai dari merapikam tempat tidur.
Sherin mulai menata posisi bantal serta guling disusul dengan selimut yang sebagian meluruh kelantai.
Saking asiknya dengan apa yang ia lakukan,Sherin tak menyadari jika seseorang tengah tersenyum melihatnya sembari bersidekap dada.
__ADS_1
"Nah selesai deh,gitu kan rapi." Ucap Sherin setelah menyelesaikan apa yang ia lakukan.
Sherin yang masih mengagumi apa yang ia kerjakan seketika terkejut saat sebuah tangan kekar kini melingkar dipinggangnya.
"Heh apaan nih?!." Sherin menengok kesamping.Didapatinya wajah Refan yang begitu dekat,membuat Sherin hampir saja mencium pipi Refan jika saja ia tak segera menjauhkan wajahnya.
"Lu pinter juga bersih-bersih.Nggak salah gue suka sama lu."
"Ih apaan sih lepasin!!." Sherin tak sengaja menyikut tepat diperut Refan,hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
"Ya ampun Refan,Sorry gue nggam sengaja." Panik Sherin
Refan yang masih mengeluh sakit pun dibantu Sherin untuk duduk diatas ranjang yang telah dirapikan.
"Lo nggak papa Fan?."
"Tenaga lu lumayan juga ya." Ucap Refan yang masih memegangi perutnya.Sherin jadi merasa bersalah,ia sungguh tak sengaja.
"Sorry Fan,gue bener-bener nggak sengaja." Sherin menundukkan kepalanya dalam.Ia benar-benar tidak tau jika akan sesakit itu.
Tangan Refan terulur menarik pelan Sherin yang berdiri dihadapannya untuk lebih mendekat.Kemudian kedua tangannya melingkari pinggang ramping gadis itu.
"Gue nggak papa,cuma sakit sedikit." Ujar Refan mencoba menenangkan Sherin.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain."Beneran nggak papa?." Tanya gadis itu yang diangguki oleh Refan.Laki-laki itu masih mempertahankan senyumnya,sampai ia kembali memeluk Sherin dengan posisi duduk.
Posisi itu membuat Sherin bisa menghirup aroma mint dari rambut hitam Refan.Ia juga baru sadar jika rambut laki-laki itu masih basah.
"Keringin dong rambutnya,masuk angin baru tau rasa lu." Ucap Sherin mengambil handuk kecil yang melingkar dileher Refan.
Dengan telaten,Sherin mulai mengeringkan rambut Refan dengan benda berwarna putih itu,dan selama Sherin melakukan hal tersebut Refan memejamkan matanya masih dengan memeluk gadis yang entah bagaimana bisa membuatnya jatuh cinta disaat ia masih menjalin hubungan dengan orang lain.
...Tbc...
...Kasih semangat buat aku dung😅😅...
__ADS_1
...Oh iya aku mau tanya,kalian tau cerita ini dari mana??,kasih jawaban kalian dikomen ya😉...
...^^^Terimakasih udah menyempatkan diri buat mampir ke cerita ini.^^^...